#2. Lili: Papaku Aneh

“Ma … Itu si Papa,” Lili, yang sebelumnya masih tengkurap di depan tv langsung merengek pada mamanya, setelah tadi papanya sempat mendekat dan berbisik.

“Mama!” desih Lili sebal.

Gracia, yang berselonjor di atas sofa meletakan majalah yang baru saja diambilnya dan menoleh pada Lili. “Kenapa sama papa?”

Lili merengut ke arah papanya, “Papa barusan nakut-nakutin Lili, katanya: anak kecil harus bobo cepet kalo malam Jum’at. Padahal, kan, Lili masih mau nonton,” ayahnya nyengir, membuat Lili semakin cemberut. “Tuh, kan, Ma.”

“Papa,” tegur Gracia pelan, menggeplak pelan paha suaminya.

“Besok Lili harus berangkat pagi ke sekolah, nanti takut kesiangan, lho.” Ihza—papanya, menanggapi.

“Belum juga jam sembilan,” protesnya, “kalau Papa ngantuk, ya udah, bobo duluan. Yang penting mama tinggal di sini dulu-nemenil Lili.”

Melihat mamanya memberi senyum dan meraih majalahnya lagi membuat Lili menyeringai senang ke arah papanya. “Wlek!” ledeknya melet.

Lili Stephanie, gadis kecil berumur sepuluh tahun yang baru kelas empat SD. Seringkali protes setiap kali papanya menyuruhnya tidur lebih cepat dari hari biasanya, terlebih lagi kalau jum’at malam datang. Padahal menurut Lili, ia bisa memastikan tidak akan mengantuk esok hari saat jam pelajaran di sekolah ataupun telat bangun pagi, jadi kenapa harus tidur cepat?

Lili masih belum paham dengan apa yang dimaksud papanya. Karena semenjak tadi Lili jadi tidak fokus menatap layar di depannya, melainkan sering menoleh kebelakang; mengerut kening menatap papanya yang terdengar rutin memanggil mamanya dengan pelan, mirip berbisik.

“Papa ngapain, sih?” Lili sewot.

Ihza menoleh kaget. Tidak sadar kalau sedari tadi anaknya terus memperhatikan.

“Nggak ngapa-ngapain,” jawabnya pelan, menyenggol kaki istrinya sekali yang nyengir sembari menggeleng-geleng.

Dan Lili, kembali melanjutkan nonton.

“Ma,” panggil Ihza, membuat Lili menoleh walau hanya sekilas. “Papa mau ngecas handphone,

Istrinya diam, tetap fokus pada majalah yang dibacanya tanpa menjawab.

“Ma … Ayo dong ….”

Lili terganggu, memutar badan dan menjawab. “Papa kenapa, sih? Lagian baterai handphone mama juga masih full, kenapa harus dicas lagi?”

Handphone papa yang abis baterai, casnya ada di mamamu.” Lili mengernyit bingung, aneh. “Lili beneran belum ngantuk?” tanya papanya, tampak memelas.

“Belum,” Lili menggeleng.

“Nggak pengen tidur cepet gitu malam ini?”

“Enggak,” Lili menggeleng lagi.

“Lili mau apa nggak uang jajan besok papa tambahin?”

Lili menatap mamanya, bingung terhadap papanya. Yang dibalas dengan goyangan bahu. “Ya Lili mau, emang papa beneran mau tambahin?”

Papanya nyengir, mungkin bakal berhasil, pikirnya. “Iya, asalkan Lili mau tidur sekarang.” lanjut papanya.

“Papa ngapain, sih, Ma? Nyuruh Lili tidur terus.” keluhnya.

“Tanya papamu aja, mama kurang tau.” jawabnya tersenyum.

“Papa mau ngecas handphone?” tanya Lili memastikan.

Ihza mengangguk cepat. “Iya.”

Lili mengangguk-anguk, “Mana uang jajannya? Lili mau tidur sekarang kalau uang jajannya juga dikasih sekarang.”

“Tuh, langsung ditagih. Gih, kasih. Mama juga minta, buat belanja bulanan.” sambung istrinya menambahkan. Tertawa ringan.

“Kan … Papa belum kasih uang belanja,”

“Iya, iya.” papanya merogoh kantong celananya, mengambil selembar uang dan disodorkan ke arah Lili. “Uang belanja mamamu ntar, di dompet semua uang papa. Ya udah, gih, Lili ke kamar.”

Lili beranjak dari duduknya, mendekat lalu mengecup kedua pipi, kening dan bibir mamanya. “Selamat malam, Ma, Pa.” pamitanya, ingin berjalan ke kamarnya jika saja tak dipanggil lagi oleh papanya.

“Kok papa nggak dicium?”

Lili berbalik malas, “Papa pelit, masa cuma segini.” katanya, menunjukkan selembar duapuluh ribuan di tangannya.

Ihza sewot. “Besok papa tambahin lagi, sini cium dulu.” Lili menatap tajam. “Janji, dua kali lipat.” tegasnya meyakinkan.

Lili mendekat dan mencium cepat kedua pipi papanya. “Makasih papa … Selamat malam.”

Belum ada lima menit Lili meninggalkan mereka berdua di ruang tengah, Ihza sedari tadi masih terus menggoyang-goyangkan kaki istrinya yang ada di sebelahnya.

“Ma …”

“Lili belum tidur, Pa.”

“Pengen ngecas handphone,”

Istrinya nyengir, “Ya udah, sana ke kamar dulu, pake power bank.”

“Mama wangi banget hari ini, cantik.” Ihza merayu, menggeser duduk, lebih dekat pada istrinya. “Wangiii banget.”

“Udah nggak mempan.”

“Ma, ayo dong … Udah mau lowbat nih baterainya ….”

Dan malam itu berakhir dengan Lili yang sudah tertidur nyenyak bersama bunga mimpinya.

“Aww! Papa tangannya, ih!”

-TAMAT-

≠≠

Cerita ini ditulis oleh gua sendiri, yang sebelumnya juga udah diupdate lebih dulu pada Ostre_

Jangan lupa kritik sarannya. Kalau bisa caci-maki aja di sini.

Cuma ngingetin, kalo ada yang mau ngirim cerita berbahan ‘saru, ngeres, mesum, blue, jorok, hina, kotor, laknat, keparat, bangsat, bajingan, dan sodara lainnya’ boleh chat ke gua. Ntar bakal gua post di Olahraga Cinta ini.

Oke, cukup.

Arii Trias, yang pas update lagi ngantuk🤐

Questions