Aku

“Antar aku ke perpus dulu ya Is.” Ucapku kepada iswah sepanjang perjalanan sepulang sekolah dari kelas menuju pesantren. Pesantrenku memang satu area dengan sekolahku karna memang satu yayasan, hanya saja pesantren putri letaknya agak jauh karna berada di belakang sekolah.
“Mau pinjam buku ya? Kan kamu akhir-akhir ini agak jarang pinjam buku.”tebak Iswah
“Tidak Is, ada yang ingin ku foto copy sebentar, tunggu ya.” Ucapku segera seraya bergegas masuk ke perpus setelah sampai didepannya, meninggalkan ninis yang menugguku di depan dengan ucapan “oke, jangan lama-lama ya.” Senyum simpul mengulam di wajah manisnya. Aku segera menyerahkan lembaran kertas yang ingin ku fotocopy kepada petugas dan segera meninggalkannya sebentar menuju rak-rak buku. Awalnya aku hanya ingin melihat koleksi-koleksi baru di Perpustakaan ini, karna aku memang tidak akan tahan jika ke Perpustakaan dan tidak melihat buku-bukunya. Biasanya hampir setiap hari aku pergi kesini untuk meminjam buku namun akhir-akhir ini sudah cukup jarang karna disibukkan dengan tugas-tugas sekolah dan kegiatan di Pondok.
Aku berjalan menyusuri rak-rak buku yang tertata rapi bak barisan prajurit sembari membaca judul-judul bukunya. Perpustakaanku ini memang tidak terlalu besar dan ini juga merupakan ruangan baru karna ruangan yang lama di ubah menjadi kelas. Dengan luas sekitar 10×13 meter yang didalamnya terdapat beberapa komputer dan wifi serta berbagai buku yang cukup banyak, menjadi tempat yang sangat nyaman setelah masjid, bagiku.
“Dek, ini sudah.” Mbak izzah salah satu petugas perpustakaan memanggilku.”
“Enggeh, sebentar mbak.” Jawabku singkat.
Mungkin aku langsung bergegas meninggalkan rak itu andai saja mataku tidak melirik ke sebuah buku diujung rak yang membuatku tertarik untuk membacanya, judulnya Spiritual Traveller. Membaca sedikit sinopsis di halaman belakangnya membuatku semakin tertarik untuk membacanya dan meminjamnya. Setelah mencacat buku pinjamanku dan membayar foto copyanku aku langsung bergegas keluar dan pulang menuju pondok.
Angin malam yang cukup dingin menyapa wajahku dan mengantarkanku berjalan menuju kelas diniyahku bersama Aulia. Hari kamis adalah waktu pelajaran yang paling kusukai yaitu tafsir jalalain aku sangat bersemangat untuk mengaji seperti hari-hari biasanya karna nyatanya pelajaran pondok lebih aku sukai daripada pelajaran sekolah. Assalammualaikum”. Suara seorang laki-laki seusiaku itu membuat seisi kelas menoleh tapi aku tetap fokus memberi makna di kitabku dengan terjemahan yang di dikte oleh pak Malik sambil menjawab salamnya dalam hati. Aku mendengar sebagian temanku berbisik termasuk dina dan Aulia namun aku tak menghiraukannya aku berfikir mungkin itu hanya anak kelas lain yang ingin meminjam spidol atau ada perlu sedikit. ” Itu pasti anak baru.” Celoteh anak di belakangku “Ganteng ya.” Suara-suara itu terdengar ditelingaku dan segera sunyi ketika pak malik mempersilahkannya masuk dan menyuruhnya memperkenalkan diri didepan kelas.

“Assalammualaikum, perkenalkan nama saya Ahmad ghofur kalian bisa memanggil saya ghofur saya pindahan dari pondok al ikhlas jombang”, “saya….”
“Silahkan langsung duduk saja”. Ucap pak malik memotong perkataanya.
Pak malik memang orangnya sedikit cuek dan memang aku setuju dengannya karna lebih baik jika diteruskan ngajinya, untuk perkenalannya sudah cukup itu saja. Laki-laki itupun tertunduk malu dan segera duduk. Aku memandangnya sebentar, wajarlah jika banyak teman santriku yang ingin mengenalnya karna memang wajahnya yang tampan, dengan perawakan yang proporsional, kulit yang putih bersih dan hidung yang mancung terlebih dibalut dengan baju kokoh putih dan sarung hitam. Namun segera aku beristigfar dan mengalihkan pandanganku menuju kitabku kembali. Waktu diniyahpun selesai dan aku segera menuju ke masjid untuk persiapan jamaah salat isya’. Setiap malam jumat diadakan dziba’an di pondokku. Yang malam ini giliran waktunya santri putra.
Dan dimalam ini ada yang berbeda, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya dan cukup merdu membuat suasana semakin khusyu’ menikmati setiap lafadznya sambil ikut melafalkan shalawat dan meresapinya sambil nengingat perjuangan nabi mendakwahkan islam. Saat seperti ini selalu membuat kita lebih tenang. Dziba’an ditutup dengan do’a oleh ustadz muiz supaya kita semua senantiasa mendapat petunjuk dan rahmat Allah serta mendapat syafaat nanti dihari dimana tidak ada pertolongan yang mampu menyelamatkan kita kecuali syafaat nabi muhammad SAW. Aamiin ya robbal alamin. Seluruh santri baik putra maupun putri berangsur kembali kepondok meninggalkan masjid satu persatu.
Dan setelah sepi barulah aku berjalan turun dari masjid dan tak sengaja melihat ternyata masih ada satu santri putra dimasjid yang tengah khusyu’ membaca al-quran dan ternyata dia adalah ghofur santri baru dikelasku tadi. Sesampainya di pondok masih ada sedikit waktu untuk belajar, setelah belajar sebentar aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan wudhu sebelum tidur. Ya aku memang membiasakan selalu berwudhu sebelum tidur karna selain sunnah nabi berwudhu sebelum tidur juga akan menjaga kita selama tidur agar tidak diganggu setan karena senantiasa dalam keadaan suci. Sebelum tidur pula ada beberapa amalan yang harus kita lakukan yang aku peroleh dari guruku ngaji.
“IBADAH HAJI SEBELUM TIDUR”
Tunaikanlah ibadah haji sebelum tidur….
suatu hari Rasulullah SAW pernah
bersabda kepada Ali ( R.A. ) :
Wahai Ali, lakukanlah 5 hal ini sebelum tidur…
◆ 1. Berikan sedekah 4000 Dinar, kemudian tidurlah.
◆2. Khatamkan Quran, lalu tidur.
◆3. Belilah surga, lalu tidurlah.
◆4. Perbaikilah hubungan dua orang yang tengah berselisih,
kemudian tidurlah.
◆5. Tunaikanlah satu kali haji,
lalu tidurlah.
Ali ( R.A. ) pun menjawab,
Ya Rasulullah !
Mana mungkin aku bisa melakukannya ?
Lalu nabi ( SAW ) menjawab :
◆4 kali membaca Al Fatihah adalah sama dengan sedekah 4,000 Dinar.
◆3 kali membaca surah Al Ikhlas sama nilainya dengan menhatamkan satu Al-Qur’an.
◆3 kali membaca Shalawat ( minimal membaca Shallalahu Alaihi Wa Salam ) adalah harga surga.
◆10 kali bacaan istighfar sama nilainya dengan menyambungkan silaturrahim dua orang yg berselisih.
◆4 kali membaca Subhanallah,
Alhamdulillah, Laa ilaaha ilallah, Allahu Akbar sama dengan menunaikan satu kali Haji.
★Lalu Ali (R.A.) pun berkata, Ya Rasulullah ( SAW )!
Kini aku akan menjalankan semua nasehatmu ini sebelum tidur !
Dengan semua kebajikan yang diperoleh dari amalan yang cukup mudah dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit tersebut siapa yang tidak ingin memperolehnya. Akupun berusah istiqomah mengamalkannya. Seperti biasa tanpa alarm, aku terbangun untuk segera menuju ke kamar mandi dan mandi. Aku memang lebih suka mandi pagi sebelum subuh karna menghindari antrian saat pagi hari dan kata ustadzku “Salah satu cara kalau ingin awet muda adalah mandi air yang belum dijamah manusia.” Kata ustadz Ihsan pengasuh pondokku disalah satu kesempatan saat mengajar ngaji. Air yang belum dijamah manusia sama sekali itu maksudnya air uang belum digunakan mandi oleh siapapun sebelum kita di pagi hari, selain itu mandi pagi bisa membuat kita lebih segar dan tidak mudah mengantuk serta mampu meningkatkan kecerdasan, ya itulah yang aku tau saat itu.
Sehingga akupun berusaha melakukannya secara istiqomah sebelum melakukan salat tahajud. Setelah salat tahajud aku membuka bukuku untuk membacanya sembari menuggu adzan subuh. Aku segera mengambil air wudhu ketika adzan mulai berkumandang dan segera membangunkan teman temanku yang masih terjaga. Meskipun sudah banyak yang bangun namun masih ada beberapa santri yang masih fokus melanjutkan mimpinya, maklum berada dipondok kita harus bisa menghargai lingkungan dengan teman dari berbagai karakter. Kamar yang cukup besar dengan jumlah santri sebanyak 22 anak memang tidak sedikit dan membuatnya sedikit penuh dengan berbagai barang santri yang terkadang berserakan, namun tetap terasa nyaman karna kebersamaan yang selalu tercipta membuat kita semakin rukun, terlebih terlihat indah jika kita bersama-sama pergi kemasjid untuk salat berjamaah seperti di subuh ini.
Sesampai dimasjid aku dan teman-temanku segera melaksanakan shalat sunah 2 rakaat yang disebut salat fajar atau qabliyah subuh. Kita sudah terbiasa melakukannya karna dari dulu kita sudah dibiasakan untuk melakukannya dan juga selalu diingatkan oleh guruku bahwasannya pahala salat fajar adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Itulah mengapa semua santri meluangkan waktunya untuk melaksanakannya dan dalam buku yang pernah kubacapun karna saking utamanya sholat sunnah sebelum subuh jika kita lupa atau tidak sempat melaksanakannya sebelum subuh kita dapat menggantinya setelah salat subuh atau lebih utamanya ketika matahari telah terbit dan telah sampai pada waktu dhuha. Sebaik itu Allah memberikan kita kesempatan untuk mendapatkan kebajikannya lalu dengan alasan apa kita akan mengabaikannya?. Tentulah tak pantas jika kita sampai meninggalkannya dengan dispensansi dan ganjaran yang telah Allah janjikan dan itupun tidak main-main.
“Silahkan diambil qur’annya dan kita baca bersama-sama surat al-kahfi”. Perintah ustadz Muiz setelah . Selesai shalat berjamaah. Tanpa menjawab sontak seluruh santri bangkit dari duduknya dan mengambil qur’annya masing-masing. Salah satu kebiasaan lain juga dipondokku kita diwajibkan membaca surat al-kahfi yang memang seperti kita ketahui apabila kita membacanya maka kita akan di sinari cahaya diantara dua jumat dan menurut kajian yang pernah kulihat surat al kahfi dapat menjauhkan kita dari fitnah dajjal yang apabila kita membacanya dihari jumat maka kita akan terlindungi dari fitnah dajjal hingga jumat berikutnya. Dan kitapun diwajibkan untuk menghafalnya minimal sepuluh ayat pertama atau terakhir agar terhindar dari dajjal karena memang kita berada di zaman akhir. Zaman akan munculnya dajjal dan semoga kita senantiasa terhindar dari fitnah dajjal di zaman akhir ini.
Setelah mengaji semua santri segera kembali menuju kepondok untuk mempersiapkan sekolah. Semua santri sibuk dengan kegiatannya mulai dari menyetrika baju, belajar, membaca, berbincang dengan temannya ataupun menyiapkan pelajaran. Sinar mentari mulai menembus jendela kamarku dan perutku pun sepertinya mulai berdendang untuk minta segera sarapan. Di pondokku kita biasa makan bersama-sama menggunakan talam kecil yang membuat makanan terasa lebih nikmat karna dinikmati bersama bisa sampai 5 sampai 8 orang dan pastinya barokah, ya itulah ciri khasnya santri. “Ayo is, ambil nasi.” Ajakku pada iswah sembari menggunakan khimar. “Iya bentar, kau sudah lapar ya.” Ledek dina sembari meletakkan buku-buku dalam tasnya. “Hehe kau tau saja is, ayo cepat hari ini menunya ayam kan?”. Tanyaku “Iya ra, semangat banget hari ini biasanya pasti aku duluan yang siap berangkat.” Jawab iswah seraya mengambil talam ditempatnya. “Hehe jangan gitu deh, mumpung lagi semangat ini hari jumat kan istimewa.” Belaku. “Hemm iya deh ustadzah.” “Aamiin dibilang ustadzah.” Jawabku sambil tersenyum.
Tempat mengambil nasi memang cukup jauh dari pondok putri karena dapurnya terletak di bawah pondok putra, jadi untuk mengambil nasi kita harus menuju ke arah pondok putra. Setelah mengambil nasi kita segera mengantri untuk mengambil lauk pauk dan tiba-tiba ada seorang santri putra yang menyerobot antrian dan mendapatkan jatah yang seharusnya milikku. “Kau seharusnya antri dulu bagaimana sih.” Ucapku kesal padanya “maaf ukhty, aku terburu buru.” Ucapnya seraya berlalu dengan senyum tanpa dosa. Tapi nyatanya senyum itu membuatku merasa berbeda dan langsung membuatku seperti memaafkan kesalahannya. “Dasar cowok nggak mau ngalah.” Ucap iswah menggerutu sembari berjalan menuju pondok. “Sudahlah lupakan dia juga sudah minta maaf tadi.” Jawabku tenang “dia kan santri harusnya budayanya itu antri, mentang-mentang santri baru seenaknya, kan banyak yang sudah antri jadi merugikan santri lain.”
“Sudahlah yang penting kita dapat jatah makan ayam hari ini, intinya itu kan?”
“Hmm iya deh lupakan saja.”
Angin sore yang lembut bertiup dengan indahnya memberikan kesejukan dan ketenangan bagi yang diterpa. Betapa segala hal sesederhana apapun didunia ini tak lepas dari campur tanganNya, sampai dedaunan yang bergerak dan debu berterbangan itu tak luput dari pengawasanNya, tak mungkin terjadi pula tanpa izinNya. Betapa perhatian Allah pada seluruh mahluk ciptaanNya yang tak bernyawa. Apalagi jika kita seorang yang paling sempurna diantara mahluk Allah lainNya. Pastilah apapun yang kita lakukan lebih tak lepas dari izin Allah meskipun sebenarnya kita yang putuskan tapi tentu pasti ada campur tangan Allah. Allah tak akan biarkan satu hal pun yang kita lakukan kecuali telah ditetapkanNya, baik atau buruk Allah lah yang lebih tau. Bahkan seburuk apapun pasti akan selalu ada hikmah didalamnya.
Jadilah tinggal kita mau mengingat Allah atau tidak, mau meminta petunjukNya atau tidak, karna Allah selalu siap ada 24 jam untuk kita mesti begitu banyak yang diurusnya. “Senang gitu rasanya kalau pergi keluar gini ya bisa lihat suasana diluar biasanya cuma didalam pondok”. Ucapku pada dewi teman pondokku dari kamar berbeda yang kuminta untuk mengantarkanku keluar untuk membeli peralatan mandi di mini market di seberang jalan raya yang berada cukup jauh dari pondok. Di hari jumat sekolahku pulang lebih awal jadi aku punya cukup banyak waktu senggang disore hari. “Ya put aku juga suka. “Jawabnya “darimana fur?” Tanyanya pada seorang yang tak asing di wajahku dan dia adalah anak yang sempat membuat temanku kesal tadi pagi.
Sepertinya dia kaget dia hanya menoleh sekilas lalu dengan cepat berlalu menggunakan motor yang dibonceng rafi anak pondokku juga. “Kamu kenal sama dia?” tanyaku penasaran. “Ya kenal lah Ra dia teman sekelasku di sekolah didiniyah juga dia sekelas dengan kita kan?” “Oh iya.” Jawabku singkat aku baru tau jadi dia anak agama disekolah, kutebak dia pasti cukup pintar karna anak pindahan dan berhasil masuk jurusan agama atau orang tuanya yang memintanya untuk masuk jurusan agama. Ah aku tidak peduli itu bukan urusanku. “Dia itu pintar, cepet bergaul juga meskipun baru beberapa hari dikelasku aku cukup kenal baik sama dia makanya aku berani menyapanya tadi.
Sebenarnya dia sudah beberapa hari masuk sekolah kita tapi baru kemarin masuk pondok.” Terang dewi panjang lebar sebelum aku bertanya. “Jadi sebelum tadi malam kamu sudah kenal dia?” Tanyaku. “Iya mulai hari senin dia sudah masuk kelas, meskipun dia pindahan tapi aku salut dia itu pintar banget apalagi pelajaran agama, pas diajar guru dia itu kadang terlihat nggak terlalu serius tapi setiap ada pertanyaan pasti dia bisa jawab dengan benar, jarang jarang loh sekarang ada cowok ganteng, baik, trus agamanya juga pinter”. Aku hanya tersenyum mendengarnya dan sepertinya hatiku juga.

Questions