BAB 1

Kupandangi gadis bertubuh kurus dari cermin. Bayanganku sendiri, Ayase Tomomi. Wajahku lebam sana-sini, tapi yang paling sakit adalah di bagian perut. Perlahan, aku mengangkat bagian bawah seragam sekolahku. Seketika, aku dapat melihat memar berukuran besar di dekat tulang iga. Kedua kakiku juga tak luput dari luka. Lututku berdarah karena terjatuh di semen keras. Di paha kanan dan lengan kiriku terdapat bulatan ungu kehitaman. Kacamataku pun jadi sasaran. Sekarang kedua gagangnya sudah patah dan tidak bisa dipakai lagi. Walaupun minusku hanya sedikit, aku akan membeli yang baru.

“Mereka benar-benar membuatku babak belur,” gerutuku. “Tapi kurasa tadi aku berhasil membalas mereka lebih dari ini. Aww!” aku mengaduh sambil memegangi perutku.

Entah sudah berapa lama aku mempunyai musuh. Entah kenapa juga mereka memusuhiku. Sepertinya aku bersekolah seperti biasa. Tak ada yang salah pada diriku. Apakah aku terlalu sombong? Kurasa tidak. Aku ramah terhadap semua orang yang menyapa. Aku juga tidak pernah menyakiti orang lain. Yah, kecuali mereka. Tapi itu karena mereka lebih dulu memukulku. Aku tidak mau kalah dari mereka. Lagipula, mereka bertiga, sedangkan aku hanya sendirian. Kalau menang, sudah pasti aku akan bangga sekali.

Aku pulang dengan kereta dari Stasiun Shibuya. Tempat tinggalku sebuah apartemen satu kamar di pinggiran Tokyo karena biaya sewanya lebih murah. Di dalam kereta, penumpang lainnya memperhatikanku dari kepala sampai ke kaki. Mungkin mereka pikir aku habis dipukuli. Mereka salah. Aku habis berkelahi, dan aku menang. Senyum kemenangan pasti tersungging di bibirku.

Ternyata mengobati luka-lukaku ini lebih menyakitkan daripada saat mendapatkannya. Membutuh-kan waktu 5 hari bagiku untuk membuatnya lebih baik. Hanya tinggal luka di tulang kering dan perutku yang masih terlihat biru. Wajahku sudah bersih.

Lima menit sebelum bel berbunyi, aku melihat mereka masuk ke dalam kelas. Tatapan tajam mereka tidak membuatku bergidik sama sekali. Ketiga cewek itu pasti benar-benar kesal padaku. Ah, bodo amat. Siapa suruh mereka mulai duluan? Aku hanya membalas. Orang-orang boleh bilang aku sama seperti mereka. Aku tidak peduli. Sudah menjadi kepuasan tersendiri bagiku jika berhasil membalas semua perbuatan mereka.

Aku pindah ke sekolah ini saat musim panas 3 bulan lalu. Dengan ramah, kusapa orang-orang di kelasku dari depan kelas. Kami semua berkenalan dan semua berjalan lancar, sampai 2 bulan kemudian ketiga orang itu menahanku di kelas setelah bel pulang sekolah berdering. Ternyata mereka menuduhku menggoda seorang cowok ganteng yang ditaksir salah satu dari mereka. Cowok itu bernama Hiromitsu Seiji, sedangkan cewek yang naksir padanya bernama Koizumi Rina. Sumpah, aku hanya mencoba bersikap ramah pada Seiji! Aku masih tergolong anak baru dan kupikir aku harus mempunyai beberapa orang teman yang bisa membantuku menyesuaikan diri di sini. Semakin lama, tingkah laku Seiji menunjukkan bahwa dia suka padaku. Itulah yang membuat Koizumi marah. Padahal, aku sendiri tidak tertarik pada cowok ganteng.

Di kelas ini, tepatnya di barisan kursi paling belakang, Koizumi dan kedua temannya mengancamku sore itu. “Kau boleh menggodanya, tapi lihatlah akibatnya nanti,” ancam Koizumi sambil menunjuk hidungku. Sorot matanya menunjukkan kemarahan. Waktu itu aku menurut. Kujauhi Seiji sampai dia tak lagi mendekatiku. Tapi aku menyesalinya karena hal itu membuatku kehilangan seorang teman.

Semakin lama, Koizumi dan kawan-kawan semakin senang menggangguku. Mungkin dilihatnya aku selalu menurut dan mudah disuruh-suruh. Mereka bertiga memang cantik dan seksi, tapi kelakuan mereka tak secantik wajahnya dan otak mereka kosong. Dalam waktu sebulan, aku berhasil mengalahkan nilai-nilai mereka. Dan itu membuat mereka bertambah kesal padaku. Perkelahian 5 hari yang lalu adalah puncaknya. Mereka menampar dan meninju wajahku, menendang perutku, dan menjambak rambutku, dan aku membalas semuanya. Hidung Koizumi sampai mengeluarkan darah segar. Puas sekali rasanya meskipun keesokan harinya kami berempat dipanggil oleh Kepala Sekolah untuk kasus ini. Orangtua mereka juga ikut datang ke sekolah. Aku beruntung karena waliku tidak bisa dihubungi. Kami diskors selama 4 hari.

Hari ini kami kembali masuk sekolah. Gara-gara perkelahianku dengan Koizumi dan kawan-kawan, image ramahku jadi jatuh. Orang-orang di kelas tak lagi menyapaku. Mereka diam saja waktu aku masuk kelas, tak mau bertemu mata denganku. Hilang sudah peluang mendapatkan banyak teman. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Koizumi dan kedua sohibnya lagi-lagi menahanku di kelas. Mau berkelahi lagi? Akan kuladeni dengan sekuat tenaga walaupun mungkin kacamata baruku juga akan menjadi korban.

“Kami mau meminta maaf,” kata Koizumi. Ekspresi penyesalan muncul di wajahnya.

“Apa tidak salah?” tanyaku tidak percaya.

“Kami sungguh-sungguh. Besok kan libur. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kita berempat saja,” ajaknya bersemangat, membuatku curiga.

“Mau ke mana memangnya?”

“Shibuya atau Harajuku saja.”

“Hmmm, akan kupikirkan,” kataku.

“Aaah, Ayase-chan[1]…”

Mendengarnya memanggil nama keluargaku dengan sebutan ‘chan’ membuatku jijik. Apalagi nada suaranya sengaja dibuat manja. Merepotkan saja orang-orang ini. Tapi mungkin mereka sungguh-sungguh. “Ya, baiklah,” kataku akhirnya.

“Benar?” Kedua mata Koizumi berbinar senang.

Anggukanku sepertinya berpengaruh besar sekali, karena mereka bertiga langsung kegirangan. “Aku mau pulang. Bye-bye.”

Keesokan harinya, walaupun hujan deras, aku memenuhi janjiku pada mereka. Untunglah aku membawa payung. Aku tiba di Stasiun Shibuya pukul 1 siang. Kutunggu mereka di dekat patung Hachiko sambil berteduh di bawah payungku. Kuusap kepala Hachiko, memperhatikan wajah anjing paling setia di dunia itu. Seandainya semua orang mempunyai kesetiaan seperti anjing, aku yakin di dunia ini tak akan ada perselisihan. Bukan hanya soal rumah tangga, tapi dalam hal loyalitas pada pekerjaan dan juga persahabatan.

Manusia dipenuhi dengan sifat tak pernah puas, iri, dendam, benci. Seperti ayah dan ibuku.

“Tomomi-chan, jangan mau diajak main olehnya, karena dia bukan orang baik.”

Kata-kata itu selalu diucapkan Ibu ketika Ayah datang untuk menjemputku di sekolah. Mereka berdua bercerai sejak aku berumur 3 tahun. Kalimat itu tertanam di kepalaku, sehingga aku tak lagi mau ikut pulang bersama Ayah. Setelah itu, Ayah tak pernah lagi datang. Dua tahun kemudian, Ibu mendapat kabar bahwa Ayah telah tewas dalam kecelakaan mobil. Kami datang ke acara pemakamannya, tapi nenekku dari pihak Ayah mengusir Ibu.

“Kau tak pantas mengurus Tomomi!” teriak Nenek, yang kemudian memisahkan aku dari Ibu. Tak ada usaha yang kulihat dari Ibu untuk mempertahankan aku. Mungkin dia malah lega aku sudah tidak bersamanya lagi.

Selanjutnya, aku tinggal dengan bibiku, Ayase Koharu, di Hakodate, Hokkaido. Pihak keluarga Ayah berpikir bila aku berada jauh dari Ibu di Tokyo, tentu akan lebih baik. Aku tinggal di sana sampai berumur 15 tahun, tanpa pernah ke Tokyo sekalipun. Dan selama itu, hubunganku dengan Bibi Koharu tak juga dekat. Kami memang tinggal serumah, tapi setelah dipikirnya aku sudah bisa mengurus diriku sendiri, dia jarang pulang. Kadang-kadang Nenek datang untuk menemaniku. Para tetangga mendengar kabar bahwa Bibi Koharu sudah tinggal bersama kekasihnya dan dijadikan wanita simpanan seorang pengusaha kaya. Sepuluh tahun tinggal seatap, tapi bahkan Bibi Koharu tidak mengucapkan selamat tinggal. Sebagai waliku, seharusnya setidaknya dia datang ke sekolahku waktu aku bermasalah. Menggelikan.

Hanya Nenek yang sayang padaku. Ia ingat aku sempat berkata ingin kembali ke Tokyo. Dan ia mengizinkannya setelah mempertimbangkannya selama beberapa bulan. Maka, di sinilah aku berada. Sendirian.

“Maaf menunggu lama!” seru Koizumi mengagetkanku. Ia datang bersama kedua teman sejenisnya, memakai payung cantik dan telah berdandan manis seperti mau kencan. Kuperhatikan pakaianku sendiri. T-shirt, jaket tebal, celana panjang, serta boots dekil. “Sudah siap?”

“Ya,” kataku.

Kami berempat mencari tempat berteduh di sebuah kafe kecil di dekat situ. Koizumi memilih tempat duduk di dekat jendela, sehingga kami bisa melihat mobil yang lalu-lalang di depan kafe, juga orang-orang yang berlarian karena kehujanan. Aku memesan ocha[2] hangat untuk menaikkan suhu tubuhku, sedangkan mereka bertiga memesan kopi yang sama. Benar-benar sejenis.

“Kalau hujan begini, apa yang akan kita lakukan?” gerutu Koizumi kesal. Mulutnya dimajukan.

“Bagaimana kalau kita karaoke?” Salah satu temannya yang berambut panjang, Matsumoto Erika, memberi ide. Kedua matanya berbinar seolah-olah itu adalah ide paling brilian di dunia.

“Ya, tapi bagaimana kita ke sana? Mau hujan-hujanan?”

Matsumoto terdiam. “Apa kau punya ide, Ayase-chan?”

Haruskah aku menjawab? Ataukah aku diam saja? “Hmmm, tunggu sampai hujan reda saja,” jawabku akhirnya.

“Lalu?”

“Hmmm,” aku berpikir keras karena memang tak ada ide. “Terserah kalian saja. Kan kalian yang mengajakku.”

“Eee…kau tak punya ide sama sekali ya,” kata Koizumi. “Aku ingin shopping ke Harajuku. Kalau kau?” tanyanya kepada temannya yang berambut pendek, Ueda Ayana.

“Aku juga ingin ke sana. Kalau hujan sudah reda, kita ke sana saja,” ujar Ueda bersemangat.

“Oke! Dua orang ingin ke Harajuku,” Koizumi menunjuk dirinya dan Ueda. “Satu orang setuju,” lanjutnya sambil menunjukku. “Dan satu orang lagi ingin karaoke. Dengan demikian, diputuskan kita akan ke Harajuku!” serunya sampai beberapa orang pengunjung kafe menoleh. Norak sekali.

Jadilah kami berempat ke Harajuku setelah hanya tinggal gerimis yang tersisa. Aku tidak menemukan sesuatu yang menarik, kecuali anak-anak muda yang berdandan ala anime[3]. Di Hakodate juga banyak yang berdandan seperti itu, tapi aku tidak pernah ikut-ikutan mereka. Aku suka melihat kostum-kostum yang mereka kenakan. Pasti membutuhkan waktu lama untuk membuatnya dan menjadikan diri mereka tampak seperti tokoh anime kesukaan mereka. Dan biayanya pasti mahal. Tentu aku tidak akan meminta Nenek membuatkan atau membelikannya untukku. Rambut mereka berwarna-warni, dibentuk sedemikian rupa, belum lagi riasan di wajah, tato temporer di bagian lengan atau leher. Semuanya penuh dengan kreativitas.

Aku sengaja duduk di luar toko untuk melihat mereka, sedangkan Koizumi dan kawan-kawan berada lama sekali di dalamnya.

“Kami sudah selesai!” seru Koizumi begitu keluar. Di tangannya dan teman-temannya sudah ada kantong plastik yang memuat barang-barang belanjaan mereka. “Kau tidak membeli apa pun?”

“Tidak,” jawabku.

“Kau tidak suka belanja ya?”

“Ya…semacam itulah,” aku mengangguk.

“Kalau begitu, selanjutnya kita karaoke saja ya. Kau harus nyanyi lho,” Koizumi menatapku sambil tersenyum. Senyuman yang manis sekali.

Koizumi ingat Matsumoto yang ingin karaoke. Tadi juga dia mengambil suara untuk pergi kemari. Ternyata dia orang yang mempedulikan teman-temannya. Mungkin karena itulah mereka selalu bersama. Perasaan apa ini? Tiba-tiba aku merasa kesepian.

Seluruh memori tentang keluargaku muncul. Perceraian Ayah dan Ibu, pemakaman Ayah, Bibi yang tidak peduli padaku.

“Kau kenapa?” tanya Koizumi. Cewek itu mengguncang bahuku.

“Eh? Oh, tidak apa-apa,” aku menggeleng.

“Kau tak mau cerita padaku?” Tatapan penuh tanya dari mata Koizumi membuatku diam.

Ini bukan cerita yang menyenangkan dan aku tidak mau merusak semuanya. Jadi sebaiknya tidak kuceritakan saja. “Tidak,” jawabku.

Kami benar-benar karaoke. Mereka menjadikan suasana lebih meriah karena memilih lagu-lagu bertempo cepat. Mau tak mau aku ikut dalam kegembiraan yang diciptakan mereka. Menyanyi dan menari membuatku berkeringat, melupakan kesepian yang tadi kurasakan. Ternyata berteman dengan mereka mengasyikkan.

“Habis ini kita mau ke mana?” tanya Koizumi. Ia sedikit terengah setelah melompat-lompat sambil menyanyi-kan sebuah lagu dari Hamasaki Ayumi.

“Aku masih ingin jalan-jalan,” jawab Matsumoto, diikuti anggukan dari Ueda.

Sudah berjam-jam waktu kami habiskan di tempat karaoke. Kulirik jam tanganku. Pukul 9 malam. Sebentar lagi kereta terakhir akan berangkat. Aku harus segera pulang. “Sebaiknya kita pulang,” kataku.

“Sebenarnya aku ingin pergi ke Shinjuku,” Koizumi tidak mempedulikan pendapatku. “Ada restoran yang ingin aku kunjungi. Di sana makanannya enak sekali.”

“Oh ya? Baiklah kalau begitu. Ayo kita ke Shinjuku!” seru Ueda.

“Aku tidak ikut!” balasku. Daripada aku tidak bisa pulang, lebih baik aku tidak mengikuti mereka. Tempat tinggal mereka dekat dengan Shibuya, sedangkan aku tidak. Mau mereka pulang atau tidak, itu urusan mereka.

“Ayase-chan, kau egois sekali,” sahut Matsumoto.

“Eh?” Dibilang egois seperti itu lumayan menusuk. Apa benar aku egois? Aku hanya khawatir tidak bisa pulang. Apa itu termasuk egois? Lalu, kalau mereka tetap memaksaku ikut ke Shinjuku, bukankah mereka juga egois? Kalau ini masalah kesetiakawanan, kurasa aku cukup setia dengan menemani mereka belanja di Harajuku, walaupun aku sendiri hanya memperhatikan orang-orang ber-cosplay  ria.

“Tenang saja. Aku akan menyuruh sopirku untuk menjemput kita. Nanti akan kuantar kau pulang, Ayase-chan,” kata Koizumi santai.

“Ya…kalau seperti itu sih…” aku mencoba untuk bersikap tenang, meski tidak sepenuhnya percaya pada Koizumi, karena tadi dia mencemaskan hujan.

Benar saja. Waktu kami keluar, hujan mulai turun lagi. Kami baru tiba di kawasan Shinjuku sekitar pukul 10. Neon warna-warni menghiasi toko-toko, restoran, hotel, dan bar. Sejujurnya, aku belum pernah ke sini. Aku hanya tahu bahwa kawasan ini sedikit “gelap”. Entah yang mana restoran yang dimaksud Koizumi.

“Ini dia!” serunya di depan sebuah ruko 3 lantai berpapan nama Freeze yang lebih mirip gudang dari luar. Ia menunjuk-nunjuk pintunya. “Ayo kita masuk,” ajaknya.

“Tunggu sebentar, Koizumi-chan,” cegah Matsumoto. “Apa kau yakin yang ini tempatnya? Karena sepertinya mengerikan.” Wajahnya ketakutan sambil mengaitkan lengannya di lengan Koizumi.

“Memang ini. Aku pernah ke sini setahun yang lalu bersama orangtuaku.”

“Mungkin saja restorannya sudah tutup dan dijadikan gudang oleh pemiliknya.”

Wajah ruko itu memang tampak suram. Temboknya mengelupas di sana-sini. Pintunya tebal, sepertinya kedap suara, dan rapat sekali, tidak bisa mengintip dari luar. Restoran macam apa yang memiliki nama Freeze dan pintu kedap suara? Jendelanya hanya satu dan berada di tingkat paling atas.

“Daripada penasaran, lebih baik kita masuk,” saran Ueda.

“Kalian saja!” kata Matsumoto.

Nah! Sekarang siapa yang egois? Inginnya aku berkata demikian, tapi aku menahan diri.

“Ini hanya restoran biasa! Kalau tidak percaya, kita minta Ayase-chan untuk memastikan,” kata Koizumi.

“Eh?” Kenapa jadi aku? Aku tidak tahu apa-apa soal tempat ini. Kupandang sekeliling. Banyak orang memperhatikan kami. Kebanyakan pria setengah tua bertampang galak. Lalu, kupandangi ketiga cewek cantik di hadapanku. Mereka memasang ekspresi ‘silakan masuk duluan’.

“Kau tak mau?” tanya Koizumi. “Melihatnya ketakutan seperti itu membuatku ragu.”

Aku melirik Matsumoto yang bergeser ke belakang Ueda. Yang benar saja! Dengusanku sepertinya tidak membuat mereka mengerti bahwa aku malas disuruh-suruh. Baiklah. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menutup payungku dan melangkah mendekati pintu tebal itu. Butuh dorongan yang cukup kuat untuk membuat pintu itu terbuka. Langsung terdengar suara bising musik hingar-bingar yang dipasang di dalam ruangan.

Sudah kutebak sebelumnya bahwa tempat itu adalah sebuah klub. Dan lebih parah lagi, sebuah klub penari telanjang! Banyak sekali wanita-wanita muda bertubuh seksi meliuk-liuk di atas panggung. Mereka dihujani sinar lampu sorot berwarna-warni. Pria-pria mesum menonton, menyoraki, dan mentertawakan mereka. Senyuman miris terpancar di wajah para wanita. Mereka pasti dipaksa bekerja sebagai penari.

Aku tidak mau menjadi korban, jadi aku segera melangkah mundur. Kutarik sekuat tenaga pintu keluar itu, tapi tidak bisa terbuka. Sepertinya tadi tidak seberat ini. Kutempelkan telingaku di pintu. Dingin sekali saat pintu menyentuh kulitku. Tak terdengar apa pun.

Aku menggedor-gedor pintu itu dari dalam, menarik-narik gagangnya sekuat tenaga, memanggil-manggil nama Koizumi. Malah aku berniat menendang pintu terkutuk itu.

“Dilarang merusak properti klub!” seru seorang pria bertubuh tinggi besar dari belakangku. Kuperkirakan tingginya lebih dari 180 sentimeter. Bagian bawah wajahnya dipenuhi kumis dan jenggot sampai ke rahang. Rambutnya hitam kelimis, disisir ke belakang seluruhnya. Ia mengenakan kacamata hitam. Sebuah anting pendek menggantung di telinga sebelah kirinya. Sepasang sarung yang menutupi kedua tangannya mengingatkanku pada film bertema pembunuhan. Namun, setelan kemeja tangan panjang, plus celana panjang, beserta rompi yang dipakainya membuatnya terlihat rapi.

“Eehhh…” kataku tergagap. “Maaf, aku salah masuk!” Aku membungkuk dalam-dalam, berharap pria itu mau membiarkan aku keluar.

“Salah masuk, tapi mau merusak properti klub ini?” tanyanya sinis. Suaranya berat sekali, dengan penekanan pada huruf R. Raksasa itu mengambil batang rokok dari mulutnya. “Kau pikir kau siapa? Hah?” Ia maju selangkah, membuatku mundur 2 langkah. Dibukanya kacamatanya untuk menatapku dalam-dalam. Matanya tajam sekali. Seketika itu juga, ekspresinya sedikit berubah walaupun aku tidak membacanya.

“Tora, sedang apa kau?” tanya seorang pria yang sedang berjalan menuju kami. Nada bicaranya berwibawa. Dia bahkan lebih besar daripada si kumis ini, meskipun lebih pendek. Seluruh kepalanya bersih dari rambut sampai terlihat mengilap ketika sorot lampu mengenainya. Ia mengenakan kaos tanpa lengan dan celana jeans. Penampilan yang lebih santai.

Namun, mataku terbelalak saat melihat kedua lengannya yang penuh dengan tato. Orang-orang ini… Yakuza?

“Dia ingin merusak pintu klub, Bos!” seru si kumis, yang ternyata bernama Tora, penuh hormat.

“Oh ya?” Sekarang si bos botak sudah bisa melihatku dengan jelas. Ia memperhatikan aku dari kepala sampai kaki seperti scanner, lalu menggeleng. “Cih! Aku tidak tertarik. Terserah mau kau apakan dia,” katanya cuek dan pergi begitu saja.

“Siap!” Tora melirikku. “Keluar kau, anak kecil!” perintahnya padaku.

Segera saja aku melangkah melewatinya seolah merasa jijik padanya. Kucoba untuk membuka pintu tebal itu lagi. Masih tidak bisa. Aku kebingungan, tapi daripada tidak bisa keluar, lebih baik aku meminta bantuannya saja. “Tora-san[4],” panggilku sopan. Aku sedang mempermalukan diriku sendiri di depan orang asing.

“Ada apa?” tanyanya galak.

“Pintu ini berat sekali,” aku tersenyum padanya semanis yang kubisa.

Tora berdecak kesal, tetapi ditariknya juga pintu itu, kuat sekali sampai membawa Koizumi yang sedang memegang gagangnya dari luar. Melihat itu, Tora langsung mengusir kami semua. Teriakan kerasnya membuat Koizumi dan kawan-kawannya berlari sekuat tenaga meninggalkan aku yang terjatuh karena didorong Tora. Pantatku sakit terbentur aspal basah. Ternyata hujan semakin lebat ketika aku di dalam.

Aku mengutuk ketiga cewek itu. Koizumi dan 2 temannya yang seperti kembar itu. Tak bisa dipercaya, aku tertipu. Mereka bilang ingin meminta maaf padaku, mengajakku jalan-jalan, bersenang-senang, tapi akhirnya mereka juga yang mencoba mencelakai aku. Setelah bangkit berdiri, aku melihat jam tanganku. Sudah tidak bisa pulang dengan kereta. Bus juga sudah tidak ada. Terpaksa aku harus jalan kaki.

Sepanjang jalan, segala caci-maki keluar dari mulutku. Aku beruntung karena hujan mereda. Tapi udara dingin tetap menusuk. Kuputuskan mampir ke sebuah minimarket untuk minum teh hangat. Setelah tenagaku pulih, kulanjutkan perjalananku. Lewat tengah malam, aku baru bisa merasakan hangatnya pemanas ruangan di dalam apartemenku. Dan aku pun tertidur sampai pagi tanpa mandi.

Keesokan harinya, aku terbangun dalam keadaan pusing, tulang-tulangku serasa remuk seluruhnya, dan kakiku pegal sekali. Belum lagi ditambah mimpi buruk soal klub penari telanjang itu. Di dalam mimpiku, Tora menjadikan aku salah satu penari dan, anehnya, aku mau saja, bahkan merasa senang bisa meliuk-liukkan badanku serta berputar-putar di tiang. Bapak-bapak mesum menontonku dengan antusias, menantikan aku melepas seluruh pakaianku. Benar-benar memalukan meskipun itu hanya sebuah mimpi.

Aku terlambat ke sekolah, sehingga harus menjalani hukuman di lapangan, yaitu senam tak berguna yang dipimpin oleh guru olahraga. Ada 5 anak lainnya yang juga terlambat. Kami semua dimarahi sambil melakukan gerakan-gerakan yang membuat kami nampak seperti orang bodoh. Hukuman kami tidak selesai sampai di sini. Kami harus menulis ‘saya berjanji tidak akan terlambat lagi’ sebanyak 10 halaman penuh. Dan semua harus selesai hari ini juga.

Kulirik Koizumi dan kawan-kawannya saat masuk kelas. Mereka bertiga memasang senyuman kemenangan. Rasa pusing di kepalaku langsung bertambah parah. Bisa kurasakan pelipisku berdenyut-denyut. Saat kukira mereka adalah orang-orang baik, seenaknya saja mereka mencelakai aku. Kalau aku benar-benar jadi penari telanjang, akan kuajak mereka semua!

Jam istirahat kupakai untuk merebahkan kepalaku di meja, membuatku sedikit lebih tenang karena hanya ada beberapa orang di kelas, dan kami tidak pernah bertegur sapa. Jadi, mereka tidak akan bertanya apa pun padaku. Yang kuperlukan sekarang ini memang ketenangan. Aku pun memejamkan kedua mataku.

“Kyaaaa!”

Teriakan itu membuatku kaget sampai pundakku melompat.

“Ada pria menyeramkan di depan gerbang!”

Cewek-cewek pasti sedang memandang ke luar jendela dan menemukan sosok pria bertampang galak di bawah. Tapi tidak mungkin lebih menyeramkan daripada para Yakuza itu kan? Dan tadi malam aku sampai dibuat ngeri oleh hanya 2 orang Yakuza.

“Menggangguku saja,” gumamku kesal.

Aku baru diperbolehkan pulang pada pukul 5 sore, lebih lama daripada yang lain. Selain harus menyelesaikan hukuman tulisan, aku juga diceramahi oleh Wali Kelas. Wanita paruh baya itu agaknya tak menyangka aku adalah murid yang bermasalah. Tapi, menurutku, mereka membesar-besarkan masalah keterlambatan ini karena masih belum melupakan perkelahianku dengan Koizumi. Kalau kubilang Koizumi-lah penyebab semuanya, apakah beliau akan percaya? Kurasa tidak.

Langkahku pelan sekali. Seragam blazer ini terasa berat di pundakku. Cuaca hari ini cukup bersahabat walaupun angin kencang berhembus. Dengan terus memandangi kaki pegalku ini, akhirnya aku berhasil keluar melewati gerbang sekolah.

“Hei, cewek.”

Aku mendengar sebuah suara berat milik seorang pria. Tapi siapa yang memanggil siapa? Mungkin bukan aku. Jadi, kuputuskan untuk tidak mempedulikannya.

“Cewek!” Pria itu menambah volume suaranya. “Cewek yang tadi malam mampir ke klub penari telanjang!”

Deg! Jantungku seperti tertusuk.

Aku menegakkan kepalaku, mencari sumber suara. Kulihat seorang pria berkumis dan berjenggot di depan gerbang. Refleks, aku menunjuk wajahnya. “Tora-san!” seruku.

Tora mengenakan jaket. Rambut hitam kelamnya yang kelimis tetap disisir ke belakang. Melihatnya mengingatkan aku pada sosok vampir. Apalagi kerah jaketnya dinaikkan menutupi lehernya. Menyeramkan hingga membuatku merinding. Hanya, kali ini ia tidak memakai sarung tangan dan kacamata hitam, sehingga tidak menunjukkan bahwa ia vampir betulan. Tora versi hari ini, di tempat terang seperti ini, tetap membuatku bergidik karena sorot matanya yang tajam menjadi jelas terlihat.

“Aku menunggumu dari tadi!” teriaknya, membuatku terlonjak.

Apakah dia mau meminta pertanggungjawabanku karena pintu klubnya rusak? Kurasa kemarin aku tidak sampai merusaknya. Bahkan pintu itu tidak bergetar sedikit pun. “Aku? Kenapa?”

“Kau ada waktu?” tanyanya ragu. Ia harus menundukkan kepalanya saat berbicara denganku karena tinggiku hanya mencapai bahunya.

“Mau apa?” Kurasa sebaiknya aku bertanya demikian. Kalau dia mau bertindak macam-macam, misalnya ingin merekrutku sebagai penari telanjang, aku bisa cepat-cepat kabur.

“Sebentar saja!”

Aku berpikir, lama sekali sampai mengernyitkan dahi, menimbang-nimbang ini dan itu. Tanpa sadar, aku sudah mencondongkan tubuhku ke arah gedung sekolah, bersiap-siap lari jika seandainya Tora berniat jahat. “Kalau kau mau memintaku menjadi penari, aku tidak mau,” kataku ketus.

“Haa? Hahahaha!” Tora tertawa geli. “Bukan itu. Kau dengar sendiri kan bosku bilang dia tidak tertarik padamu?”

Terus terang, aku sedikit sakit hati dibilang seperti itu. Memangnya aku tidak menarik sama sekali ya? “Jadi, untuk apa?” tanyaku.

Tora kembali serius. “Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Boleh?”

“Bantuan apa?”

“Tidak bisa membicarakannya di sini.”

Aku mengerti. Dia adalah seorang Yakuza. Pasti ada peraturan-peraturan yang tidak ingin dilanggarnya. “Sekarang?”

Tora mengangguk.

Maka, kami pun pergi ke sebuah kedai kopi di dekat sekolah. “Silakan memesan apa pun yang kau mau,” katanya sambil membaca menu. Aku cukup tahu diri untuk tidak memesan makanan atau minuman mahal, tapi aku lapar karena melewatkan makan siang. Jadi, kuputuskan untuk memesan sandwich dan segelas teh manis hangat supaya memberiku energi. “Kopi saja,” ujarnya kepada pelayan.

“Aku belum tahu namamu,” katanya lagi setelah pelayan itu pergi.

“Aku juga belum tahu namamu,” balasku.

“Namaku Tora.”

“Apa itu nama aslimu?”

Tora diam saja. Ia enggan memberi tahu nama aslinya padaku. “Panggil saja aku dengan nama itu. Tidak penting memberi tahu nama kepada orang lain.”

Sombong sekali. “Kalau begitu, aku pun tidak mau menyebutkan namaku.”

“Kau ini kenapa sih?” Pria yang seharusnya menyeramkan ini memiliki ekspresi yang lucu sekali kalau sedang marah begini, membuatku ingin menunjuk hidungnya sambil tertawa. Sehabis menarik napas beberapa kali, akhirnya ia tenang.

“Ayase Tomomi,” kataku.

“Eh?”

“Namaku Ayase Tomomi. Salam kenal,” aku menundukkan kepala di hadapannya, mencoba bersikap sopan karena dia terlihat lebih tua dariku.

“Berapa umurmu?”

“Enambelas.”

“Boleh kutanya kenapa kau masuk ke klub tadi malam?”

“Kau lihat sendiri ulah cewek-cewek itu.”

“Mereka teman-temanmu?”

“Aku menganggapnya demikian sebelum aku masuk ke dalam klub.”

“Mereka mengganggumu ya?”

“…”

“Kau tidak melaporkannya ke kepala sekolah?”

“…” Ada apa dengan orang ini? Kenapa bertanya terus?

“Apa kau takut menghadapinya?”

Oke! Ini aneh! Dia bilang mau meminta bantuan, tapi yang dilakukannya sekarang malah menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh. “Tidak, aku tidak takut,” jawabku tidak sabar.

“Bagus,” katanya. “Karena aku ingin kau pergi ke sebuah rumah sakit untuk bertemu adikku, Misaki.”

“Tunggu sebentar. Kau takut pada adikmu sendiri?” tanyaku heran. Mana ada kakak laki-laki yang takut pada adik perempuannya? Apalagi kakaknya menyeramkan begini.

“Bukan itu alasannya! Jangan selalu menyimpulkan sesuatu semaumu!”

“Hei, aku hanya bertanya!” debatku.

“Bisa mendengarkan aku sampai selesai?”

“Tidak bisa, karena itu tidak masuk akal.”

“Kau kan belum mendengarnya!”

Perdebatan kami menimbulkan keributan di kedai itu, sehingga pelayan terpaksa mengusir kami dari sana karena Tora berniat membalikkan meja makan. Tora menyuruhku menunggu di depan kedai, sementara ia sendiri mengambil mobilnya yang diparkir di sekitar situ. Ia berjanji akan mengantarku pulang jika aku mau mendengar ceritanya. Aku setuju karena badanku sakit, persediaan uangku menipis, dan langit mendung.

“Belok kiri di perempatan selanjutnya,” kataku memberi petunjuk ke arah apartemenku.

Tora diam selama 2 detik. “Sebenarnya aku mengikutimu kemarin,” katanya. “Sempat terpikir untuk memanggilmu, tapi aku tak tahu siapa namamu. Dan kau sepertinya lelah sekali. Jadi…”

“Tapi tadi kau memanggilku ‘cewek’!” protesku. “Dan juga, kenapa kau tahu sekolahku?”

Tora tertawa renyah. “Tadi pagi juga, aku mengikutimu.” Aku mendengus kesal karena benar-benar tidak menyadarinya. Pria itu mengangkat bahu sebelum memberhentikan mobilnya di depan gedung apartemenku.

“Besok aku akan ke rumah sakit setelah pulang sekolah untuk bertemu Misaki. Terima kasih sudah mengantarku. Maaf, membuatmu repot, khususnya di kedai itu,” kataku malu.

“Tidak apa-apa. Kalau kau perlu bantuanku…” Tora mengeluarkan selembar kartu nama dari kantong jaketnya, “hubungi saja aku.”

Aku membanting pintu kamar mandi. Segar rasanya mandi di saat perut kenyang. Tadi aku dan Tora sempat membeli hamburger di pinggir jalan dan memakannya di dalam mobil. Setelah habis semuanya, baru ia mulai bercerita soal adiknya.

Ayah dan ibu Tora sudah bercerai sejak ia masih berumur 10 tahun. Ia tinggal bersama ibunya, sedangkan adiknya, Misaki, bersama sang ayah. Lalu, ibunya meninggalkannya 6 tahun kemudian. Tora berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja. Ia sempat ke rumah ayahnya, tapi Misaki dilarang untuk menemuinya. Ayahnya menikah lagi dan membawa Misaki pergi. Lima tahun kemudian, Tora bertemu dengan Misaki di jalan. Mereka hanya bertukar nomor telepon karena waktu itu Tora, yang berusia 21 tahun, sudah masuk dalam organisasi Yakuza. Kadang-kadang mereka saling menelepon, hanya untuk menanyakan kabar. Namun, tampaknya Misaki tidak ingin kakaknya mengkhawatirkan dirinya. Padahal, gadis itu menderita sekali di rumah ayah mereka karena ibu tirinya selalu menyiksanya dan sang ayah selalu pulang dalam keadaan mabuk.

Misaki tak lagi menghubungi Tora selama 2 tahun, sampai akhirnya Tora membaca berita di koran bahwa seorang gadis ditemukan oleh seorang office lady di jalanan. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut berantakan, seluruh tubuhnya penuh memar. Ketika wanita itu bertanya, Misaki mengoceh tak karuan dan berteriak-teriak. Foto Misaki terpampang jelas di halaman koran. Setelah itu, Misaki menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

Tora tidak diizinkan berhubungan lagi dengan keluarganya walaupun boleh menikah. Karena itu, dia tidak dapat sesuka hati mengunjungi Misaki, karena memang begitu peraturan yang ada di dalam gengnya. Tora tidak memberitahuku hukuman apa yang akan ia terima kalau melanggar aturan. Yang pasti, bukan hal yang kusukai.

Agaknya, aku mengingatkan Tora akan adiknya. Kami seumur. Tora selalu membawa foto Misaki kecil dan foto keluarga mereka. Anak yang manis sekali. Sayangnya, ia bernasib buruk. Hal ini membuatku bersyukur atas apa yang kumiliki sampai sekarang. Misaki tak punya siapa pun di sampingnya, sedangkan aku masih punya nenek. Tora merasa bersalah karena tidak bisa membawa Misaki bersamanya. Oleh karena itu, ia berniat membantu pengobatan Misaki sebagai tanda permintaan maaf darinya.

Cerita Tora membuatku kasihan pada mereka. Mungkin nasibku akan sama jika tidak diasuh oleh Nenek. Dan aku akan membantu mereka sebisaku. Aku pun memutuskan untuk menelepon Nenek sebelum tidur. “Halo? Nenek, aku kangen,” kataku setelah tersambung.

[1] -chan : akhiran untuk menunjukkan panggilan sayang terhadap anak kecil maupun perempuan yang usianya lebih muda

[2] Ocha : teh

[3] Anime : animasi/kartun Jepang

[4] -san : akhiran untuk menyebutkan nama seseorang secara hormat, baik terhadap laki-laki maupun perempuan

Questions