BAB 2

Rumah sakit jiwa tak seperti dugaanku sebelumnya. Kupikir akan ada banyak orang gila yang dikunci di dalam terali besi, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Sebagian pasien sedang bersantai di dalam satu ruangan sambil menonton televisi, sebagian lagi sedang berkebun, sebagian lainnya sedang menggambar saat aku berjalan melewati mereka.

Sejujurnya, aku tak suka rumah sakit karena penuh dengan aura orang-orang sakit yang mampu membuatku tertular. Tetapi penyakit jiwa tidak akan menular kan? Pasien bernama Misaki hanya ada 1 orang di sini. Secepatnya, suster mengantarkan aku ke kamarnya. Misaki berada di kamar kelas satu untuk 2 orang, tapi ranjang di sebelahnya tidak berpenghuni. Gadis itu menempati ranjang di samping jendela. Ia tersenyum melihat suster yang masuk. Tidak tampak seperti orang gila bagiku.

Aku melirik papan nama yang tertera di pintu kamarnya. Tonomura Misaki. “Jadi nama keluarganya Tonomura,” gumamku, lalu masuk. Jantungku sedikit berdebar-debar waktu menghampiri ranjangnya.

Kulit Misaki pucat, badannya kurus seolah hanya tinggal tulang berbungkus kulit. Namun, raut wajahnya ceria. Rambutnya sebahu, hitam kelam, sama dengan Tora. Yang mirip lagi adalah bentuk hidungnya yang lancip seperti paruh burung. Ia menatapku cukup lama. Tiba-tiba, senyuman yang tadi ditujukan bagi suster, sekarang menghilang begitu saja. Misaki membuang muka, tak mau menatapku lagi.

“Ada apa, Misaki-chan?” tanya sang suster.

“Usir dia dari sini!” perintah Misaki tanpa menoleh. Ia terus melihat ke luar jendela.

“Tapi Ayase-chan datang untuk mengunjungimu. Kenapa tidak mencoba berkenalan dulu? Mungkin kalian bisa jadi teman.” Suara suster ini lembut sekali. Aku jadi bertanya-tanya, apakah begitu seharusnya memperlakukan seorang pasien penyakit jiwa.

Misaki akhirnya menoleh ke arahku. Ia memelototi aku dengan mata bulatnya.

“Hai,” sapaku, yang ternyata membuatnya semakin marah sampai matanya membelalak liar.

Aku keluar dari kamarnya dengan perasaan bingung. Bagaimana caranya mendekati Misaki? Baru kusapa, ia sudah membanting vas bunga kosong yang ada di meja sudutnya ke lantai. Mata liarnya jelas-jelas menandakan bahwa ia tidak suka kehadiranku. Maka sebaiknya aku keluar, daripada memperburuk keadaan. Biar suster saja yang menanganinya. Tapi apa yang harus kulaporkan kepada Tora nanti?

Di luar rumah sakit, aku menelepon Tora. “Maaf, Misaki tidak mau menemuiku,” laporku. Tora diam sampai aku harus memanggilnya lagi supaya tahu dia masih ada di sana. Apa dia menangis? Tapi aku tahu dia pasti sedih. “Aku akan mencobanya lagi besok,” lanjutku.

“Terima kasih,” katanya singkat.

Esok hari, juga hari-hari selanjutnya pun hasilnya tetap sama. Misaki tetap membanting vas bunga kosong dari mejanya. Hebat sekali mereka selalu menggantinya dengan yang baru. Tak tega untuk melapor kepada Tora, aku pun langsung pulang. Aku berjalan ke stasiun sambil melihat toko-toko di sekitarku, memikirkan cara untuk berbicara dengan Misaki. Sungguh senangnya bila, setidaknya, ia tidak melempar vas bunga itu. “Tunggu sebentar!” Kuhentikan langkahku ketika menemukan ide cemerlang.

Aku menelepon Tora untuk meminjam uangnya. Kami bertemu di stasiun. Ia memberikan berlembar-lembar pecahan sepuluh ribuan padaku tanpa menanyakan untuk apa uang itu. Kelihatannya ia buru-buru. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Keesokan harinya, aku datang lagi ke rumah sakit. Tanpa meminta suster untuk mengantar, aku menghampiri kamar Misaki. Dari samping pintu, aku melambai-lambaikan tangan ke arah dalam kamar agar Misaki melihatnya. Kemudian, kukeluarkan sebuket bunga mawar pink yang telah kubeli memakai uang Tora, dan kulambai-lambaikan lagi. Tak terdengar suara apa pun dari dalam. Maka kuputuskan untuk mengintip. Misaki melongo melihat separuh wajahku. “Selamat sore,” sapaku ceria, berharap ia balas menyapa.

“Bunga itu?” tanyanya.

“Untukmu,” aku tersenyum, lalu melangkah masuk. Kuberikan sebuket bunga itu ke tangannya yang kurus.

“Terima kasih,” ucapnya pelan. Nampaknya ia malu menerima bunga dariku. Manis sekali.

“Namaku Ayase Tomomi. Senang berkenalan denganmu, Misaki,” aku menundukkan kepalaku.

“Tonomura Misaki. Salam kenal. Tapi…kau siapa?”

Aku duduk di sebuah kursi dekat ranjangnya. “Oh! Aku diminta kakakmu untuk datang mengunjungimu,” jawabku.

Misaki tersenyum ramah. “Mungkin kau salah orang. Aku tidak punya kakak,” katanya.

“Eh?” Apa Misaki hilang ingatan? “Kalau begitu…kau ingat mengapa kau berada di sini?” Kucoba untuk memancing ingatannya.

“Hmmm, aku hanya ingat seorang wanita membawaku kemari, tapi dia tidak pernah datang lagi sejak itu.”

Aku terdiam. “Lalu, ayah ibumu?”

“Mereka sudah bercerai sejak aku kecil. Aku bahkan tidak ingat bagaimana wajah Ibu karena aku tinggal bersama Ayah. Kemudian, Ayah menikah lagi. Aku pergi dari rumah setengah tahun yang lalu karena tidak tahan dengan perlakuan ibu tiriku. Teman-temanku masuk SMU, sedangkan aku berkeliaran di jalanan. Aku dipukuli dan dicaci oleh orang-orang seperti kucing tersesat. Dan di sinilah aku sekarang.” Misaki menceritakan apa yang terjadi padanya saja, tapi tidak menyebutkan dirinya pernah bertemu dengan Tora. Baginya, Tora tidak ada.

“Teman-temanmu?” tanyaku pelan.

“Aku punya beberapa teman dekat, tapi mereka tidak pernah datang menjenguk. Mungkin mereka pikir aku benar-benar gila,” Misaki tertawa getir.

“Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu, Misaki. Orangtuaku pun sudah bercerai, lalu aku tinggal bersama nenekku di Hokkaido, tepatnya di Hakodate.”

“Wah! Aku ingin sekali pergi ke sana!” ujarnya bersemangat.

“Oh ya?”

Kami mengobrolkan tentang banyak hal. Karena tinggal di prefektur yang berbeda, maka kami bisa membandingkannya, misalnya perbedaan iklim atau makanan khas. Hal itu membuatku teringat akan kampung halaman.

Walaupun aku lahir di Tokyo, tetapi keluarga Ayah adalah penduduk Hokkaido. Ayah pindah ke Tokyo untuk mencari pekerjaan. Ia adalah salesman sebuah perusahaan percetakan. Karena pekerjaannya yang menumpuk, kadang-kadang harus menemani klien sampai larut, ia lebih memilih tidur di kantor. Mungkin itulah sebabnya Ibu tidak tahan pada sikap Ayah yang tidak memperhatikan keluarga. Setelah bercerai, Ayah tinggal di sebuah apartemen kecil yang dekat dengan lokasi kantornya. Waktu itu, aku belum tahu apa-apa. Aku tahu ini semua dari Nenek karena rupanya Ayah sering menelepon Nenek untuk sekedar bercerita.

Rumah kami berada di Hakodate, sebelah selatan Hokkaido. Saat musim semi, bunga sakura bermekaran. Kami sekeluarga pergi ke Benteng Goryoukaku yang sekarang menjadi taman umum untuk ber-hanami[1], yaitu sekitar bulan April. Dan pada musim dingin, kadang-kadang kami pergi ke kawasan Abuta untuk main ski atau sekedar menikmati pemandangan Desa Niseko. Kami juga mengunjungi Sapporo Yuki-matsuri[2]  di Sapporo untuk melihat ratusan patung es dengan tema yang bervariasi.

Aku ingat Nenek selalu masak untuk kami semua. Lalu, kami akan duduk mengelilingi meja, menantikan makanan super lezat yang akan disajikan. Nenek berumur 90 tahun dengan 4 orang anak. Kakekku sudah meninggal sebelum Bibi Koharu lahir. Sejak itu, Nenek bekerja membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. Yang pertama adalah Paman Kazuya, yang kedua bernama Yuji. Ryutaro, ayahku, adalah anak ketiga. Dan yang terakhir adalah Bibi Koharu. Walaupun keempat anaknya tidak lagi tinggal bersamanya, tapi Nenek tetap memperhatikan mereka. Contohnya, datang jauh-jauh untuk membawakan makanan. Kadang-kadang aku menginap di rumah Nenek selama beberapa hari. Dia mengajariku beberapa menu masakan, sehingga aku bisa mempraktekkannya di rumah Bibi Koharu, meskipun Bibi tidak pernah mencoba hasil masakanku.

“Tomomi?” panggil Misaki, mengagetkanku. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

“Tidak. Aku hanya teringat nenekku,” aku tersenyum malu.

“Oh…seandainya aku juga punya keluarga sepertimu,” ujar Misaki sambil menunduk. “Selama aku di sini, tak ada yang datang mengunjungiku.”

Kasihan sekali Misaki. “Berarti aku yang pertama?” tanyaku bersemangat, ingin membuatnya melupakan hal-hal yang menyedihkan.

Misaki mengangguk. “Selamat ya,” katanya sambil tersenyum.

Sejak itu, aku selalu membawakan bunga untuknya setiap kali datang.

Kupandangi wajah Tora yang sedari tadi diam saja. Jenggotnya sudah bertambah panjang beberapa milimeter. Matanya menerawang, entah pikirannya melayang ke mana. Aku tidak berani untuk mengagetkannya. Jadi, aku hanya menunggu sambil bertanya-tanya, apakah Tora tidak percaya padaku.

“Benar dia bilang begitu?” tanyanya padaku untuk kesekian kalinya. Tapi kalau aku jawab, dia pasti bengong lagi. Mungkin dia terlalu shock dengan laporanku tentang Misaki yang tidak ingat padanya. Yah, mau bagaimana lagi? Aku hanya berkata yang sejujurnya. Siapa tahu Tora punya ide untuk membuat adik kesayangannya mengingat sesuatu.

Kami berdua sedang duduk di sebuah kedai ramen[3]. Dua buah mangkuk berisi ramen pesanan kami telah disediakan di meja, tapi belum disentuh sama sekali. Sebenarnya aku sudah lapar. Ditambah udara dingin malam ini membuat lapisan lemak di dalam tubuhku menipis. Kurasa sebentar lagi perutku akan berbunyi. Tetapi karena Tora belum memperlihatkan selera makan, maka aku juga belum mau mengambil sumpit.

“Aku harus menemuinya,” gumam Tora, lalu menoleh padaku. “Temani aku menemuinya!”

“Eh? Kau mau menemuinya?”

“Dia pasti ingat kalau sudah melihatku,” Tora menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Kau mau dihukum?” Aku mengingatkan statusnya sebagai anggota Yakuza.

“Tapi kalau seperti ini… mungkin Misaki tidak akan mengingatku selamanya,” kata Tora. Pria itu menghela napas, bingung apa yang harus dilakukannya.

“Tenang saja, Tora-san. Aku akan membantu mengembalikan ingatannya. Percaya padaku!” ucapku meninggikan diri sendiri. Padahal, aku mengatakannya hanya untuk menyemangati Tora. Aku tidak punya ide apapun di kepalaku, apalagi membuat keajaiban. Aku pun mengambil sumpit dan mulai menjepit ramen-ku yang sudah dingin.

Mengapa aku mau-maunya terlibat dalam masalah keluarga Tora? Kalau sekarang aku tidak mau peduli, sudah terlambat. Semakin lama, aku semakin tak tega pada Misaki. Malah aku menganggap gadis itu sebagai seorang adik. Dia sangat polos dalam menceritakan apapun. Kadang aku merasa bersalah karena merahasiakan beberapa hal tentang diriku, misalnya aku pernah berkelahi dengan Koizumi dan kawan-kawan.

Di sekolah, aku sudah menjadi bahan gosip. Hal ini dikarenakan Tora yang hampir setiap hari menjemputku sepulang sekolah. Sosok Tora yang misterius dengan kumis dan jenggotnya itu memang ditakuti oleh sebagian besar penghuni sekolah. Mereka mengira aku anak Yakuza atau berpacaran dengan Yakuza. Mau dibilang begitu pun, tak masalah bagiku. Yang penting, sejak Tora rajin mampir, Koizumi tak lagi berani membuat masalah denganku. Aura ‘jangan dekat-dekat’ langsung melekat pada diriku.

Aku selalu sendirian saat makan siang, jam olahraga, dan praktek laboratorium. Tak ada yang mau menemaniku. Tidak masalah. Aku selalu bisa mengobrol dengan Misaki. Bahkan, aku membawakan buku-buku pelajaranku agar bisa dibacanya. Misaki mempunyai ketertarikan pada pelajaran Sejarah. Dia senang sekali kalau aku menghadiahinya buku-buku tentang sejarah dalam maupun luar negeri.

Misaki tidak diizinkan keluar dari rumah sakit karena tidak punya tempat tinggal. Aku ingin sekali membawanya pulang, tapi keadaan apartemenku yang sempit itu tidak mendukung. Dokternya pun mengatakan bahwa Misaki harus minum obat tepat waktu. Bila tidak, trauma akan kembali mengejarnya dan membuatnya mengingat hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, penyiksaan yang dilakukan oleh ibu tirinya, yang nantinya akan berakibat buruk pada tingkah laku Misaki, seperti menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

“Ayase Tomomi!” panggil Taguchi-sensei[4] dengan suara keras.

“Eh?” Aku tersentak dari lamunanku tentang Misaki. “Ya?”

“Kau yang akan menjadi pemeran utama wanita.”

“Untuk apa?” tanyaku tidak mengerti. Sebagian besar murid di kelasku tertawa.

“Drama Cinderella.”

“Cinderella?” Aku membelalakkan kedua mataku sebesar yang kubisa karena tidak percaya.

“Dan yang akan menjadi pangeranmu adalah…Hiromitsu Seiji.”

Seketika kelas langsung heboh, sementara aku hanya bengong. Aku? Cinderella? Tidak mungkin!

Nenek tertawa sewaktu aku memberitahunya tentang partisipasiku dalam drama. Aku hampir saja memutus sambungan telepon karena tawa Nenek terdengar girang sekali. Bagaimana aku bisa ditunjuk menjadi Cinderella? Dan kenapa pangeranku harus si ganteng Seiji? Aku sudah malas berurusan dengan Koizumi. Cewek itu pasti tidak akan tinggal diam lagi.

Berkali-kali aku menghela napas saat berlatih drama. Seiji terlihat serius menghafal skenario, sedangkan aku tidak punya niat untuk membacanya. Taguchi-sensei mem-perhatikan kami semua. Perawakannya yang tinggi langsing sangat mencolok di antara kami. Rambut hitamnya model spike. Memakai kemeja dan celana panjang saja sudah membuatnya tampak seperti pangeran.

Taguchi-sensei adalah guru favoritku. Pria berusia 35 tahun itu mengajar pelajaran Kesenian. Aku suka cara mengajarnya yang menyenangkan. Mungkin aku mulai tidak suka padanya gara-gara drama Cinderella ini. Malah dia bilang drama ini akan dipentaskan di aula, yaitu di depan seluruh penghuni sekolah dalam rangka menyambut Natal. Aku tidak pernah berakting sebelumnya. Kalau harus ditonton oleh orang sebanyak itu, mungkin aku akan muntah duluan. Memikirkannya saja sudah membuat perutku mulas.

“Ayase! Sedang apa kau!” seru Taguchi-sensei.

Aku tersentak dan tersadar bahwa kami semua masih di dalam aula untuk latihan. “Ya?” tanyaku seperti orang bodoh.

Taguchi-sensei berdecak kesal, lalu menghampiriku. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Disentilnya keningku sambil berkata, “Konsentrasi! Mulai dari awal!”

Sungguh melelahkan hari ini. Kami latihan selama 2 jam. Tora tidak bisa menjemputku karena sibuk. Dia bilang Kumicho[5]-nya akan datang ke Freeze malam ini, dan dia bersama ‘saudara-saudara’-nya harus mempersiapkan segala sesuatunya agar Kumicho puas dengan hasil kerja para anak buahnya. Jadi, aku pulang sendirian. Dalam perjalanan dengan kereta, aku membaca skenario Cinderella karena tak ada teman mengobrol. Tanpa sadar, aku sudah berada pada halaman terakhir. Menarik juga ceritanya. Dan aku senang Koizumi tidak ikut bergabung dalam drama ini karena dia pasti ingin menyiksaku lewat peran sebagai saudara tiri Cinderella.

Yang paling sulit adalah adegan dansa. Aku tidak bisa dan tidak pernah berdansa sedikit pun. Tapi yang membuat kami semua tercengang adalah Taguchi-sensei. Pria memesona itu benar-benar bisa berdansa. Gerakan tubuhnya luwes sekali. Dia seperti sedang melayang di lantai dansa saat memeragakan gerakan dansa. Lagu yang dipakai adalah berirama waltz. Kebiasaan menginjak kaki pasangan dansa, baru kualami sekarang. Seiji cepat memahami pengarahan Taguchi-sensei dan pada akhirnya aku disuruh berlatih sendiri di rumah karena Seiji geregetan tiap kali aku melakukan kesalahan yang sama. Aku sulit untuk berputar dengan mantap. Padahal, sudah seminggu kami berlatih. Kurasa aku harus melatih keseimbanganku dulu.

Mirip orang bodoh, aku berputar-putar sendirian di dalam apartemenku dan hampir terjatuh saat ponselku berdering. Kuraih benda itu dari meja makan. Tora.

“Halo,” sapaku.

“Tomomi, kau ada waktu?” tanyanya.

“Ya. Ada apa?”

“Aku hanya ingin jalan-jalan. Mau menemaniku?” Suara Tora terdengar ceria.

“Kau libur?”

“Ya. Kujemput kau sekarang.” Telepon diputus oleh Tora.

“Aku belum bilang ‘oke’,” gumamku.

Tora mengajakku makan di restoran sushi[6]. Kebetulan sekali! Latihan dansa membuatku lapar. Kami makan dengan lahap. Baru kulihat nafsu makan Tora yang begini. Biasanya dia hanya makan secukupnya, tapi sekarang seakan dia punya perut cadangan. Kuperhatikan sushi-sushi itu masuk ke dalam mulutnya di antara kumis dan jenggotnya yang tebal. Ia hanya tersenyum melihatku yang sedang melongo menatapnya.

“Gajimu naik?” tanyaku padanya karena penasaran.

Pria itu mengangguk satu kali, lalu tertawa renyah.

“Selamat ya!” ucapku ikut senang. Kutinju lengan atasnya dan itu membuatku kesakitan. Otot lengan Tora keras sekali. Tanganku seperti meninju tembok. Di balik pakaiannya yang selalu tertutup, seperti apa kira-kira bentuk tubuhnya? Aku bertanya-tanya sampai akhirnya diriku sendiri yang membuyarkan pikiran-pikiran aneh di kepalaku.

“Kau sedang apa tadi?” tanya Tora.

“Oh…aku sedang berdansa,” jawabku malu.

“Ada pesta?”

“Bukan. Ini untuk drama. Aku jadi Cinderella.”

“Eeeeeh? Kau jadi pemeran utama! Hebat sekali!” serunya sambil membelalakkan mata.

“Ini berat!” balasku. “Aku tidak bisa dansa.”

“Hmmm, temanku, Makoto, pernah belajar dansa dan aku yakin dia mau mengajarimu. Tapi apa kau juga mau? Dia juga seperti aku, kalau kau tahu maksudku.”

Aku tahu maksud Tora, bahwa temannya adalah seorang Yakuza seperti dirinya. “Aku sudah berteman dengan seorang Yakuza. Jadi, kenapa harus menolak,” kataku.

Malam ini juga, Tora mengajakku ke rumah teman yang ia maksud. Tempat tinggalnya berada di kawasan perumahan elit, dan rumah-rumah di sana lebih mirip mansion. Rumah Makoto terletak di ujung gang, yaitu satu-satunya yang bercat merah muda. Dari luar saja sudah tampak megah. Sepertinya Makoto gemar berkebun, karena aku bisa menemukan berbagai macam tanaman di halaman rumahnya. Lampu-lampu berwarna putih menerangi bunga-bunga yang bermekaran di taman. Cantik sekali. Tidak memperlihatkan bahwa orang yang tinggal di sini adalah Yakuza.

Tora memanggil-manggil nama Makoto dan menekan-nekan bel, tapi tak ada sahutan dari dalam. Diteleponnya Makoto melalui ponsel. Ternyata Makoto sedang keluar. Ia memberi tahu kode alarmnya kepada Tora, sehingga kami berdua bisa menunggu di dalam.

Kami masuk ke dalam rumah Makoto. Kegelapan menyelimuti kami ketika pintu di belakang kami tertutup. Tora mencari-cari tombol lampu dan menemukannya di tembok sebelah kanan. Ia menekannya dan seketika lampu ruang tamu menyala.

“Hyaaaaa!” teriakku nyaring saat melihat wajah hantu yang sedang terbang di dekat langit-langit. Aku menutup mukaku sendiri dengan kedua tangan. Bulu kudukku berdiri semua. Keringatku segera keluar lewat pori-pori. Jantungku pun ikut bekerja keras.

“Kau kenapa?” tanya Tora panik. Bisa kurasakan telapak tangannya memegang pundakku.

“Ada hantu! Ituuu!” Aku menunjuk ke atas sambil tetap menutup mata rapat-rapat.

“Yang mana?”

“Yang bertaring dan bertanduk!” seruku kesal karena Tora masih juga tidak mengerti.

Tora diam saja. Kupanggil namanya, tapi dia tetap tak bersuara. Apakah dia sudah dimakan hantu? Aku mundur 3 langkah. Punggungku menabrak pintu dan aku berteriak lagi. Ke mana Tora? Bukankah dia tadi di belakangku? Aku berusaha membuka pintu untuk kabur, tapi ternyata tidak bisa dibuka.

Selama 10 detik, tidak ada yang terjadi. Aku masih bernapas. Kubuka mataku sedikit dan terlihatlah lantai marmer beserta kaki Tora dan kakiku. Aku memperlebar pandanganku, lalu menegakkan kepalaku. “Hyaaaaaa!” teriakku lagi begitu melihat wajah hantu itu berada tepat di hadapanku. Kulitnya putih pucat. Taringnya panjang sekali sampai melewati bibir bawahnya yang semerah darah. Sepasang tanduk melengkung di kepalanya terlihat tajam. Dan mataku tidak dapat beralih dari mata hantu yang hitam kelam itu, seakan-akan aku tersedot masuk ke dalam kegelapan. Tora sudah dimakan. Tak ada lagi yang bisa menolongku. Seharusnya aku tidak ikut dengannya ke mansion berhantu ini.

“Tomomi…,” panggil hantu itu.

“Eh? Kau bahkan tahu namaku!”

“Ini aku,” katanya seraya mencopot wajahnya sendiri. Terpampanglah wajah Tora.

“Kau!” seruku sambil mendorong pundak penipu itu.

Tora tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Ia juga menunjuk-nunjuk mukaku dengan geli. Kurang ajar sekali.

“Kau menakuti aku! Dasar bodoh! Kau kira aku ini apa? Hah?” omelku padanya.

“Tak kusangka kau takut hantu,” katanya di sela-sela tawa. Napasnya tersengal-sengal. “Ini hanya topeng. Ekspresimu lucu sekali! Hahahaha!”

“Teganya… Sudah cukup! Jangan tertawakan aku lagi! Kucing bodoh!”

“Kukira aku macan,” ujar Tora. Dia sudah lebih tenang setelah menghela napas berkali-kali. “Hei, kacamatamu berembun. Kau pasti ketakutan sekali ya.”

“Ini semua gara-gara kau!” Kutunjuk hidung lancipnya sambil cemberut.

Tora tidak menanggapi perkataanku, tapi malah melepaskan kacamataku, sehingga penglihatanku menjadi sedikit kabur, tapi aku bisa menangkap bahwa Tora sedang membersihkan kacamataku. “Ini,” katanya sambil mengem-balikan kacamataku.

Aku memakainya lagi dan pandanganku jelas seketika. Kulihat Tora mengantongi sapu tangannya. “Terima kasih,” ucapku. Aku memandang berkeliling. “Rumahnya besar sekali!” Dan bersih. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakiku. Rumah bergaya klasik milik Makoto ini indah sekali dengan chandelier di ruang tengah yang luas.

“Kita tunggu saja dia di sini,” kata Tora merujuk ke sofa ruang tamu.

Sofa-sofa mengelilingi sebuah meja kopi setinggi lutut yang terbuat dari kaca. Aku dan Tora duduk berseberangan. Karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan, kami membaca koran yang kebetulan berada di atas meja.

Aku mendengar suara mesin mobil di luar. Itu pasti Makoto. Tora dan aku mengembalikan lembaran koran yang kami baca, lalu keluar untuk menyambut Makoto. “Eh? Aku baru tahu kalau ternyata Makoto itu seorang perempuan,” gumamku, bertanya-tanya berapa usianya.

“Maaf, aku terlambat karena ada masalah dengan staf keuangan lainnya,” kata Makoto sambil berjalan menghampiri kami. Suaranya merdu, meskipun terdengar lelah. Rambutnya dikonde rapi, memperlihatkan tengkuknya yang indah ketika ia menunduk menaiki anak tangga di beranda. Tubuh langsingnya dibalut long coat tidak dikancing berwarna coklat muda yang cocok dengan warna kulit putihnya. Kakinya panjang dan kurus, namun terlihat berotot. Aku bisa melihatnya karena ia mengenakan celana pendek. “Hai, namaku Makoto Aya,” sapanya seraya mengulurkan tangan untuk berjabat. Ia tersenyum lebar. Cantik sekali. Tipe neesan[7] yang kusukai.

“Ayase Tomomi. Salam kenal, Makoto-neesan,” aku menyambut tangannya dan menundukkan kepala, juga membalas senyumannya.

Neesan?” Makoto tampak terkejut. Diliriknya Tora yang berdiri di sampingku.

“Apa tidak boleh?” tanyaku canggung.

Makoto tertawa. “Tentu boleh. Mari masuk,” ajaknya. “Kuharap kau tidak keberatan kalau aku berganti baju dulu.”

“Tidak,” kataku. “Berapa umurnya?” bisikku kepada Tora setelah Makoto naik ke lantai 2.

“Seumur denganku,” balas Tora, juga berbisik.

“Cantik sekali dia.”

Tora mengangguk. “Tugas utamanya adalah membunuh orang.”

“Eh?” Seketika itu juga, aku terbelalak ngeri. Di balik long coat yang dikenakan Makoto, mungkin saja tersimpan pistol. Atau sebenarnya ada sebuah ruangan khusus untuk menyimpan senjata-senjatanya di rumah ini, semacam gudang senjata seperti yang ada di film-film.

“Aku bohong,” Tora menahan tawa.

“Kau ini!” Kutarik jenggot Tora dan dia mengaduh kesakitan.

Makoto turun dengan mengenakan pakaian yang lebih santai, tapi celana pendeknya masih sama. “Aku akan memutar lagunya dulu. Biasanya waltz memakai ketukan tiga perempat, jadi memakai lagu apa pun akan sama,” katanya sambil berjalan cepat ke rak CD yang berada di ruang tengah. Koleksinya banyak sekali sampai satu lemari penuh. Ia memilih salah satunya.

Terdengar alunan musik waltz yang halus. Aku berdiri di bawah chandelier, bersiap-siap menerima pelajaran darinya. Pertama-tama, Makoto memberikan arahan tentang dari mana dansa waltz berasal, yaitu dari Vienna. Semakin lama, waltz populer di Amerika. “Aslinya, dansa ini dilakukan oleh pria dan wanita. Aku akan menjadi prianya,” lanjut Makoto.

Wanita cantik itu mengajarkan aku dari hal yang paling mendasar seperti melangkah berbentuk kotak sampai ke langkah putaran yang indah. Makoto tidak keberatan jika sering kali aku menginjak kakinya karena lupa kaki mana yang harus kugerakkan. Tapi semakin lama, injakan itu berkurang. Aku jadi terbiasa dengan langkah-langkah dasarnya. Maaf, Taguchi-sensei, tapi aku lebih mengerti penjelasan dari Makoto.

“Tanganku tidak sampai,” kataku ketika harus memegang tangan Makoto yang mencontohkan gerakan berputar. Makoto lebih tinggi dariku, sehingga panjang lenganku tidak sampai jauh ke atas kepalanya.

“Kalau begitu…Tora, kemarilah,” panggilnya kepada Tora yang sedari tadi hanya melihat, lalu beralih kembali padaku. “Perhatikan baik-baik. Kau juga harus menjaga keseimbanganmu. Apalagi nanti kau harus memakai sepatu high heels,” katanya.

Makoto menyuruh Tora melangkah ke kiri dan memegang tangannya saat ia berputar. Gerakan yang indah sekali. Setelahnya, mereka melangkah setengah kotak. Ternyata Tora juga menginjak kaki Makoto, lalu mereka tertawa. Mereka seperti sepasang suami istri. Cocok sekali.

“Oh! Dan, Tomomi, sebaiknya kau memakai lensa kontak saja. Cinderella tidak berkacamata kan?” saran Makoto.

“Eh? Oh…ya,” aku mengangguk pelan, membuyarkan lamunanku.

“Kau baik-baik saja?” tanya Makoto bingung melihat perubahan sikapku. Setelah aku meyakinkannya dengan anggukan dan senyuman, ia melanjutkan dansanya bersama Tora.

Aku berusaha fokus, menyingkirkan pikiran tak enak, hingga akhirnya kami menyudahi pelajaran karena, menurut Makoto, aku sudah bisa. Tapi tetap saja aku masih mengingat-ingat saat Tora dan Makoto berdansa. Mereka berdua sungguh kompak walaupun Tora sama bodohnya seperti aku. Makoto adalah guru yang baik. Dia menjelaskan dengan perlahan agar aku menangkap dan mengerti semuanya. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Mungkin aku yang terlalu aneh karena memikirkan mereka berdua.

“Ada apa?” tanya Tora ketika mengantarku pulang dengan mobilnya. “Tidak biasanya kau diam begini. Apa kau capek?”

“Ya, sedikit,” jawabku jujur.

Tora menambah kecepatan mobilnya supaya cepat sampai. Ia bahkan turun dari mobil dan mengantar sampai ke depan pintu apartemenku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku menutup pintu dan langsung merebahkan diriku di atas kasur.

Makoto dan Tora. Mereka berdua sangat serasi. Sungguh menyenangkan melihat mereka, tapi ada perasaan yang membuatku tidak suka, tidak rela. Aku bukan siapa-siapanya Tora, sedangkan Makoto adalah salah seorang sahabatnya yang juga Yakuza. Aku sudah dipastikan kalah status darinya. Makoto lebih dulu mengenal Tora dibandingkan denganku. Wanita cantik itu telah tahu segalanya tentang Tora meskipun Tora masih terbilang baru di dunia Yakuza.

“Kenapa aku jadi membanding-bandingkan diriku dengannya?” gumamku sendirian. Sejenak, aku diam tanpa memikirkan apa pun, menatap langit-langit kamarku yang sedikit berlumut di pojoknya. “Sebaiknya aku mandi.”

Acara pementasan drama Cinderella hanya tinggal hitungan hari. Mereka, khususnya Seiji, terkagum-kagum pada kemajuanku berdansa. Aku sudah tak lagi menginjak kakinya. Pelajaran waltz dari Makoto sangat membantuku. Makoto bilang ia akan siap mengajariku step yang lebih sulit bila aku berminat. Tentu saja aku menolak. Sudah cukup aku dipermalukan dalam drama ini.

Aku, yang sudah mempunyai firasat, akhirnya diajak ke taman belakang gedung sekolah oleh Koizumi. Kuterima ajakannya karena ia sendirian, tidak bersama kedua sohibnya. Ternyata ia telah memohon-mohon pada Taguchi-sensei agar ikut berpartisipasi dalam drama ini. Dan akhirnya ia mendapatkan peran sebagai saudara tiri Cinderella. Jadi, dia khusus mengundangku ke taman hanya untuk melaporkan hal itu. Dia terlihat senang sekali sampai tertawa licik. Yah, semua ada skenarionya. Tak mungkin dia akan menyiksaku secara sadis. Aku pun tidak akan diam saja menghadapinya. Aku sudah siap.

[1] Hanami : kebiasaan khas Jepang untuk berkumpul dan berpiknik di bawah pohon sakura bersama keluarga maupun teman sambil menikmati indahnya pohon sakura yang tengah bermekaran sebagai tanda menyambut musim semi

[2] Sapporo Yuki-matsuri : Festival Salju Sapporo yang dirayakan 7 hari selama bulan Februari di mana pengunjung dapat melihat ratusan patung salju dan patung es dengan tema bervariasi

[3] Ramen : masakan mi kuah khas Jepang yang berasal dari Cina

[4] -sensei : guru

[5] Kumicho : bos/pimpinan klan

[6] Sushi : makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak

[7] -neesan : kakak (perempuan)

Questions