Cerpen Two

Pengorbanan Membawa Perubahan
Gadis kecil itu duduk di pinggir sungai. Batu-batu kerikil yang ada di sekitarnya menjadi bahan pelampiasan perasaannya saat ini. Ia kembali mendapat nilai 60 di pelajaran eksakta dan Ibunya selalu memarahinya jika mendapat nilai rendah.
“Kamu dapat nilai 60 lagi?”
“Kamu niat sekolah atau nggak?”
“Ibu capek-capek bayar sekolah kamu tapi apa? Nilai mu selalu jelek.”
Fira teringat kembali ucapan Ibunya tadi sepulang sekolah. Setiap ia dimarah, ia selalu pergi ke sungai. Sebenarnya Fira bingung harus bersikap seperti apa, di satu sisi ia sangat bersyukur karena hanya dia dan adiknya yang bisa bersekolah di pemukiman kumuh ini, teman-teman sebayanya hanya lulus sekolah dasar atau bahkan putus di tengah jalan. Namun di sisi lain, ia merasa sedih karena selalu dimarahi Ibunya, tidak seperti teman-teman sekolahnya yang dihibur saat mendapat nilai jelek.
“Kan benar. Kamu pasti disini.” Ira, teman dekat Fira datang dan duduk di sampingnya. Ira salah satu anak yang putus sekolah.
“Dimarah lagi ya?” Fira memang selalu bercerita kepada Ira soal masalahnya.
“Kamu udah pulang kerja?”Fira tak menjawab pertanyaan Ira, Fira yakin Ira pasti tahu jawabannya.
“Baru pulang. Alhamdulillah hasil jualan hari ini lumayan banyak. Malam ini kita bisa beli martabak spesial dan nasi goreng Pak Udin.” Jawab Ira.
Tampak raut wajah Ira sangat bahagia, perkataannya sangat tulus sekali. Ia sama sekali tak keberatan harus melepaskan pendidikannya demi bekerja untuk keluarganya, padahal Ira sangat menyukai sekolah dan belajar.
“Adik aku pengen sekolah, tapi sayangnya nggak ada yang bisa ngabulin permintaan itu.”
Lama sekali mereka berdua terdiam, memandangi air sungai yang mengalir deras membawa sampah-sampah warga pemukiman entah kemana. Bisa saja air itu merebak keluar dan menyebabkan banjir di pemukiman. Fira tak tahu apa saja yang dikerjakan pemerintah sampai-sampai permasalahan ini belum juga diselesaikan.
“Udah sore. Yuk pulang, nanti kita dicariin.”
***
“Fira cepat kamu goreng tempe itu, Ibu mau mandiin Luna.” Fira baru selesai menyapu halaman rumah, langsung meletakkan sapu lidinya dan bergegas pergi ke dapur. Hari ini Ibunya baru saja mendapat gaji sebagai tukang cuci piring di sebuah rumah makan kecil, jadi keluarga Fira bisa makan tiga kali hari ini.
Fira hanya tinggal dengan Ibu dan dua adiknya yang masih kecil. Ayahnya meninggal setahun lalu karena serangan jantung dan semenjak itu Ibunya yang menjadi kepala keluarga. Adik Fira yang pertama bernama Santy kelas 4 SD dan yang kedua bernama Luna yang baru berusia tiga tahun.
“Panggil Santy, suruh pulang terus mandi. Lalu kita makan sama-sama.” Kata Ibu Fira kepada Fira yang baru saja selesai menggoreng tempe.
“Iya, Bu.” Fira bergegas keluar rumah menyusul Santy yang pasti sedang bermain kelereng bersama adik Ira di belakang rumah Ira.
***
“Fira sebentar lagi kan kamu liburan sekolah, nanti bantu Ibu jualan gorengan keliling ya? Hitung-hitung pakai nambah pemasukan kita.”
“Iya, Bu. Fira bantu jualan nanti, Fira ke belakang dulu mau cuci piring.”
“Kak, nanti bantuin Santy buat PR ya.” Katanya saat Fira akan beranjak ke belakang.
“Emang Santy ada PR apa?”
“Kayak kemarin. Santy lupa rumusnya hehe…” Kata Santy lalu nyengir. Fira menghela nafas lalu mengangguk.
***
Banyak yang bilang bahwa setiap perbuatan kita baik maupun buruk pasti akan selalu melekat di dalam ingatan. Sejak beberapa minggu yang lalu, setiap pulang sekolah Fira pasti mampir ke perpustakaan mini yang ada di kolong jembatan. Pertama kali ia melihat ini saat sedang berkeliling bersama Ira di hari Minggu. Mereka kemudian mendatangi perpustakaan itu dan sesampainya di sana kebetulan ia bertemu pendiri perpustakaan tersebut.
“Halo adik-adik, kalian mau baca buku kan?” Seorang perempuan muda nengenakan kemeja biru langit menghampiri Fira dan Ira.
“Iya, kak.” Jawab mereka berdua serempak.
“Nama kalian siapa?”
“Saya Fira, ini teman saya Ira.”
“Nama yang bagus, ayo masuk kalian bisa baca buku sepuasnya dan gratis.”
Fira dan Ira pun masuk ke dalam perpustakaan tersebut. Sesuai namanya, perpustakaan itu hanya terdiri dari tiga rak buku dan karpet sebagai pengganti meja untuk membaca. Dinding yang semula kusam dicat ulang lalu diberi hiasan, membuat perpustakaan mini itu tampak indah.
“Anis? Kamu disini juga?” Sapa Fira kepada teman sekolahnya.
Gadis yang dipanggil Anis itu menoleh, “Hai Fir. Iyadong, tempat ini kan punya kakak aku.”
“Oiya?” Tanya Fira tak percaya.
“Iya, tuh orangnya.” Fira melihat arah yang ditunjuk Anis.
“Namanya Kak Diana.” Lanjut Anis.
Jadi dia kakak Anis. Batin Fira.
“Kenapa kakak kamu buat tempat kayak gini?”
“Katanya kakakku kasian sama anak-anak putus sekolah di sekitar sini. Jadinya buat perpustakaan ini, deh supaya anak-anak itu bisa baca gratis.”
Sejak saat itu Fira jadi ingin membantu anak-anak di daerah pemukimannya, tetapi tidak tahu dengan cara apa. Mungkin jika nanti aku dewasa aku akan tahu dengan cara apa. Kata Fira dalam hati.
***
Fira tidak berani keluar kamar saat Ibunya datang dari sekolah untuk mengambil rapornya. Fira mengintip dari celah pintu, tampak Ibunya sedang duduk di kursi usang sambil membuka rapor Fira.
“Fira… Fira…” Panggil Ibu Fira.
“Iya, Bu.” Jawab Fira dari dalam kamar, dengan langkah takut, ia menghampiri Ibunya.
“Ini rapormu, simpan baik-baik.” Fira mengambil rapornya lalu membukanya. Nilaiku jelek lagi.
“Gorengannya sudah siap, kan? Hari ini kamu jualan di komplek sebelah aja dulu jangan jauh-jauh.” Kata Ibunya yang membuat Fira melongo, aku kira Ibu bakal marah.
Fira mengangguk lalu pergi ke kamar untuk menyimpan rapornya sebelum berjualan.
Malam harinya, ibunya menghitung hasil jualan gorengan Fira. Fira sangat bakat berdagang, gorengannya ludes. Ini berlaku di hari-hari berikutnya, sampai di suatu hari Ibunya mengatakan hal yang membuat Fira sedih.
“Fira, gaji Ibu sekarang turun. Rumah makan lagi sepi. Ibu takut nggak bisa biayain kalian, Nak.”
Fira belum mengerti arah pembicaraan Ibunya, namun ia juga merasa sedih mendengar hal itu.
“Fira, kamu anak yang baik dan selalu nurut sama Ibu. Kamu mau bantu Ibu kan?”
“Fira pasti mau bantu Ibu jualan, kalau perlu setiap pulang sekolah Fira jualan Bu.” Jawab Fira yakin.
Ibunya menengadahkan kepala, menahan agar air matanya tidak jatuh.
“Bukan itu maksud, Ibu. Kamu mau kan berhenti sekolah? SPP kamu dan Santy naik, sedangkan gaji Ibu turun. Ibu nggak sanggup cari kerja tambahan, Nak. Belum lagi Luna yang sakit-sakitan.”
Perkataan Sang Ibu bagai petir di telinga Fira. Ia tidak menyangka bahwa Ibunya akan membawanya menjadi gadis seperti teman-teman di pemukiman kumuhnya.
“Nggak Bu! Fira nggak mau.” Bentak Fira sambil menahan air mata.
“Tapi, Nak. Siapa lagi yang bisa bantu Ibu? Cuma kamu yang ngerti keadaan keluarga kita, kamu sudah besar sayang.”
“Tapi, Bu. Fira suka sekolah, suka belajar di kelas, suka temen-temen Fira. Fira nggak mau ninggalin itu semua.”
“Nak, lihat kondisi Luna. Sudah beberapa hari ini dia sakit dan kita hanya bisa memberinya obat warung, tapi dia nggak sembuh-sembuh.”
Fira melihat ke arah Luna yang sedang tidur di kamar sebelah bersama Santy.
“Bu, Fira bakal cari kerjaan yang bisa sambil sekolah. Fira janji.”
“Nak, Ibu tadi sudah bilang, Ibu nggak bisa bayar SPP kamu lagi. Bayar SPP Santy aja Ibu nggak yakin. Entah mengapa biaya pendidikan disini sangat mahal.”
“Tapi Bu…..
“Nak, kalau saja Bapakmu masih hidup, kamu pasti masih tetap sekolah karena Bapak dan Ibu yang akan bekerja, tapi sekarang? Hidup terus berlanjut, Fira. Kamu harus rela mengorbankan sesuatu yang berharga demi sesuatu yang berharga juga.”
Fira tak menjawab ucapan Ibunya, ia berlari ke kamarnya lalu menangis sesenggukan. Ia bingung harus bagaimana.
***
Keesokan harinya, Fira bangun kesiangan. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan banyak hal, mata dan pipinya sembab. Jika hidup terus berlanjut, maka bukan berarti kita hanya diam mengikuti alur, kita harus bisa membuat perubahan. Entah itu kata-kata siapa dan pernah didengarnya dimana, Fira tiba-tiba teringat akan hal itu. Semalaman sudah ia berfikir untuk memutuskan perkataan Ibunya, ia harap ia tidak salah mengambil langkah.
Fira berjalan ke dapur, saat melewati kamar adiknya, dilihatnya Santy sedang menenangkan Luna yang menangis, entah sakit apa yang diderita adik bungsunya itu, Fira merasa tak tega.
“San, Luna kenapa?”
“Nggak tahu, Kak. Dia nangis terus karena dari semalam kedinginan terus, padahal kan cuacanya panas.”
“Ibu di dapur kan?”
“Iya, Kak. Tadi Ibu ke kamar kakak, ternyata kakak belum bangun.”
“Luna sudah makan?”
Santy menggeleng lemah, “Mungkin karena lapar juga dia nangis terus.”
Fira tak berkata apa-apa lagi, ia berjalan ke dapur dan mendapati Ibunya sedang mencuci piring.
“Bu….” Panggil Fira lirih.
“Kamu baru bangun?”
“Fira mau berhenti sekolah, Bu.”
“Fira?…
“Tapi ada syaratnya, Bu. Fira mau bantu anak-anak yang tidak bersekolah supaya mereka setidaknya tau tentang baca tulis, Bu. Fira lakuin itu setiap hari Minggu, Bu supaya nggak ganggu kerja Fira.”
Ibunya mendekat ke arah Fira lalu memeluk anak sulungnya itu.
“Fira… Makasih banyak ya? Ayahmu benar, kamu pasti tumbuh menjadi gadis yang baik.”
“Fira boleh kan ngajar mereka, Bu? Setidaknya ini yang bisa Fira lakuin kalau Fira kangen sekolah.”
“Boleh, sayang. Ibu mendukungmu, Ibu pasti bantu kamu supaya banyak yang mau belajar sama kamu.”
“Fira ingin jadi seperti Kak Diana, Kakaknya Anis. Ibu pasti kenal Anis kan? Kak Diana punya perpustakaan mini untuk anak-anak yang putus sekolah supaya bisa membaca gratis. Fira ingin melakukan hal yang sama, setidaknya Fira merasa bermanfaat untuk orang lain.”
“Terimakasih, Nak. Terimakasih. Ibu janji, kalau nanti kita punya cukup uang, kamu bisa kembali ke sekolah.”
Fira mengangguk kemudian memeluk erat Ibunya. Fira hanyalah gadis kecil yang dituntut berpikir dewasa karena keadaan.

Questions