Dia, yang kulupakan

 

Cinta itu … adalah hal yang sangat rumit, bukan?

Ia begitu aneh, karena dapat dirasakan oleh siapapun.

Ia begitu misterius, karena tak ada seorangpun yang tahu sebelumnya kepada siapa ia akan jatuh cinta.

Ia begitu asing, karena perasaan itu tiba-tiba menyelusup begitu saja.

Katanya, untuk mencintai seseorang hanya diperlukan tiga detik. Lalu, sebenarnya kenapa kamu bisa jatuh cinta kepada seseorang yang tak pernah kau kenal sebelumnya? Kenapa tiba-tiba kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah lama kau kenal, padahal sebelumnya kau tidak pernah merasakan apapun padanya?

Begitu misterius, bukan?

Cinta adalah misteri.

Entah kenapa ia bisa membuat pikiran kita menjadi tumpul. Ia bahkan bisa membuat kita menjadi seperti orang bodoh, yang tak pernah bersosialisasi sebelumnya. Ia juga bisa mengendalikan tingkah laku kita, membuat kita menjadi ceroboh jika orang yang kita cintai tiba-tiba mendekat. Ia bahkan bisa mengendalikan segala yang ada pada diri kita, membuat kita tak bisa mengendalikan diri sendiri.

Hanya ada satu pertanyaan, kenapa?

Kenapa semua itu bisa terjadi? Adakah yang bisa menjelaskannya padaku?

Karena sampai hari ini, aku tak juga mengerti. Karena sampai hari ini, aku tak juga menemukan jawaban yang pasti.

Kenapa kita bisa jatuh cinta pada seseorang?

Tak ada yang tahu, bukan?

Karena seperti yang sudah kukatakan tadi, bahwa cinta adalah misteri itu sendiri.

Aku bahkan menemukan sebuah fakta yang lebih aneh, bahwa walaupun seseorang mengatakan ia mencintai pasangannya, tetap saja ia lebih mencintai dirinya sendiri. Tetap saja, orang itu pasti lebih memedulikan diri dibanding memedulikan pasangannya.

Seolah, semua kata manisnya kandas hanya karena satu kejadian.

Mungkin, karena sudah melihat semua itulah aku membentengi diriku dari sesuatu bernama cinta.

Untuk apa aku mengatakan cinta pada orang lain jika itu hanya di bibir saja?

Sama sekali tak berguna, kan?

Tapi, faktanya justru banyak orang yang percaya dengan rayuan manis saja. Padahal, imbasnya begitu besar untuk kehidupan mereka nantinya. Seperti yang terjadi pada diriku.

Apakah mereka begitu bodoh, sehingga mau begitu saja percaya?

Apakah mereka begitu buta, karena tak melihat fakta yang terpampang di depan mata?

Padahal, mereka bisa mendapatkan orang yang lebih baik untuk mendampingi mereka. Mereka masih memiliki pilihan dan kesempatan, yang dibuang dengan sia-sia. Lalu, setelah itu menyesal.

Selalu demikian, dan terus berulang.

Bodoh sekali. Tidakkah mereka belajar dari kesalahan?

Dan aku selalu menanamkan dalam pikiranku, untuk tidak menjadi seperti mereka. Kalau perlu, aku takkan pernah jatuh cinta.

Karena aku sendiri adalah korban, dari kisah cinta yang telah kandas.

Aku adalah saksi, dari sebuah kisah yang tak bisa lagi diperbaiki. Aku adalah saksi hidup, atas sebuah kehancuran yang nyata.

Sesuatu yang tak ingin kualami ataupun kulihat, lagi. Karena itu adalah mimpi buruk terbesarku.

Tapi, lagi-lagi diriku tak cukup kuat. Aku memang begitu bodoh dan buta, terlebih saat pertama mengenal dirinya.
*****

“Ayleen?”

“Ah, siapa ya? Apa aku mengenalmu?” Aku mengernyitkan dahi saat melihat sosoknya yang terasa asing bagiku.

Aku mencoba menggali memori, apakah aku pernah bertemu dengan lelaki ini? Namun, aku tidak menemukannya dalam ingatanku.

“Tidak. Kamu tidak mengenal diriku, Leen.” Dia mengulum senyum, membuatku semakin penasaran.

“Ah, begitu. Lalu, ada perlu apa denganku?”

“Tidak ada, kok. Aku hanya ingin memastikan saja bahwa ini benar dirimu.”

“Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Kamu tidak ada perlu denganku, kan?”

“Tidak. Tenang saja.”

Kesan pertama tentang dirinya adalah aneh.

Entah kenapa dia melakukan hal semacam itu, padahal aku tidak mengenalnya.

Apakah dia hanya ingin mempermainkan diriku saja?
*****

“Ayleen, kita bertemu lagi.” Mendengar suara bernada riang itu membuatku merasa begitu jengah, karena mengenalinya.

Dia adalah si lelaki aneh itu. Seseorang yang terus saja mengatakan itu padaku selama seminggu penuh.

“Ada apa?” Aku tersenyum, berusaha memasang wajah ramah untuknya. Dia hanya menggelengkan kepala beberapa kali.

“Tidak apa-apa, kok.” Mendengar jawabannya itu, lagi-lagi aku merasa ingin membentak dirinya, yang berusaha kutahan.

“Baiklah. Kalau kamu tidak ada perlu, aku pergi, ya?”

“Tunggu.”

Aku benar-benar ingin berteriak sekarang. Dia tidak ada perlu denganku, tapi dia malah menahanku untuk pergi?

Apa maksudnya ini semua?

Aku ingin meneriakkan segala umpatan yang kuketahui di depan wajahnya. Namun, aku tak mungkin melakukan itu.

“Apa maumu?” Aku menghela napas, tak bisa lagi bersikap baik. Aku bahkan sudah berusaha menahan kemarahanku. Namun, lelaki berkacamata itu justru nampak ragu. Ia memilin jari-jarinya, membuat wajahku semakin merah padam.

“Cepat katakan apa maumu. Aku tak punya waktu seharian untuk meladenimu, tahu?” Tahu-tahu saja, teriakan itu sudah keluar dari bibirku, membuatnya tersentak kaget.

“Jangan membuatku semakin marah. Cepatlah katakan apa urusanmu denganku. Aku akan segera menyelesaikannya, dan pergi setelahnya.”

“Tidak apa-apa, Leen. Aku tidak memiliki urusan denganmu.”

“Lalu, kenapa kau menahanku? Kau membuat setengah jam waktuku terbuang dengan sia-sia, tahu?”

“….”

“Maafkan aku, Ayleen. Aku tidak bermaksud membuang waktumu.”

“Dimaafkan. Aku bisa pergi sekarang, kan?”

“Tentu saja, Leen. Kumohon, maafkan aku karena sudah membuang-buang waktumu. Selama ini, kau pasti sangat terganggu dengan itu, kan?” Awalnya, aku tak menyadari ekspresi wajahnya yang sendu.

“Kau sudah menyadarinya? Kalau begitu, baguslah. Sekarang, aku bisa segera pergi.”

“Aku tidak akan menemuimu lagi, Leen. Aku tak boleh membuang-buang waktumu yang sangat berharga itu.”

“Baguslah kalau kau mengerti. Aku adalah seorang pekerja, bukannya manusia dengan banyak waktu luang seperti dirimu.” Aku menjawab dengan angkuh, memandangnya dengan sebelah mata.

“Aku tahu, Ayleen. Makanya, aku tak ingin mengganggumu lagi. Maaf, kalau selama ini aku mengganggu dirimu.”

“Selamat tinggal, Ayleen.”
*****

Benar saja, dia menepati janjinya. Dia tak pernah lagi mengganggu hariku. Namun, aku merasa seperti ada yang hilang.

Mungkin, tanpa kusadari, aku sudah terlanjur terbiasa dengannya.

Padahal … pertemuan kami hanya seminggu yang menjenuhkan.

Kenapa?

Aku bercerita pada seseorang yang kupercayai, dan dia hanya tertawa untuk merespon ceritaku.

Katanya, aku mungkin sudah jatuh cinta.

“Tak mungkin.” Aku tertawa hambar, “aku tak mungkin bisa jatuh cinta semudah itu.”

“Ayleen, urusan hati tak ada yang tahu. Kita sekalipun hanya bisa menerima. Seperti yang kau tahu, kita tak bisa menyetir hati kita sendiri.”

Aku benci mengatakan ini, tapi aku tahu bahwa dia benar.

“Kalau kamu mencintainya, kejarlah dia, Leen. Jangan sampai kamu menyesal, karena melepaskan seseorang yang berharga. Aku tahu, masa lalumu memang buruk. Tapi, apa salahnya untuk kembali percaya?”

“Cobalah untuk kembali percaya, Leen. Mungkin, dia adalah orang yang tepat untukmu.”

“Aku tidak yakin.”

“Kalau begitu, yakinlah. Setidaknya, kamu harus mencoba. Setelah itu, tunggulah hasil akhirnya.”

“Kita hanya bisa menjalani, Leen. Kamu dan dia, yang pada akhirnya harus menentukan.”
*****

Setelah hari itu, aku terus mencarinya. Selama mencarinya, aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku tak pernah mengenal dirinya. Aku tak mengetahui apapun tentang dirinya, padahal dia mengetahui banyak hal tentangku.

Lalu, bagaimana aku harus mencarinya?

Setiap hari, aku selalu menunggunya di tempat pertemuan kami, sembari berharap supaya dia datang.

Aku menyesal.

Seminggu setelahnya, dia datang. Aku begitu bahagia saat melihat dirinya.

“Ayleen, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu tak lagi mau bertemu denganku?” Dia nampak terkejut saat melihat diriku. Ia nampaknya tak percaya dengan kehadiranku.

“Maafkan aku, aku menyesal. Tidak seharusnya aku mengatakan semua itu. Kumohon, maafkan aku.”

“Ayleen, jangan meminta maaf padaku. Aku yang salah, tidak seharusnya aku mengganggu dirimu. Padahal, sepertinya kamu sudah bahagia tanpaku, kan?” Dia tersenyum pahit.

“Apakah … kita pernah bertemu sebelumnya?”

“….”

“Jawab aku, Gio. Apakah kita pernah bertemu?” Mendengar kata-kataku, dia nampak riang. Sedangkan aku hanya menutup bibirku, tak percaya dengan kata-kata yang keluar.

Seharusnya … aku tak tahu namanya. Dia tak pernah mengenalkan dirinya padaku, lalu kenapa aku bisa tahu?

“Ayleen, kamu memanggilku? Apakah kamu ingat?” Aku menggeleng, mematahkan harapannya.

“Tidak apa-apa. Maafkan aku, karena aku terus mengganggumu, Leen. Seharusnya, aku tidak memaksamu untuk mengingat segalanya, kan? Seharusnya, aku memberikanmu waktu.”

“Gio,” aku menarik bajunya, “buat aku ingat akan segalanya.”

“Aku tidak tahu apapun. Aku tidak tahu, ingatan apa saja yang sudah kulupakan. Namun, aku yakin bahwa ingatan itu pasti sangat berarti bagimu, kan? Makanya, buat aku mengingat semuanya.”

“Jangan memaksakan diri, Leen. Mungkin, memang dirimu sendiri yang ingin melupakannya.”

“Kalau begitu, ayo kita buat kenangan baru. Bersama.” Aku menatap matanya dengan tekad yang bulat.

“Kalau aku tidak bisa mengingat, kita bisa membuat yang baru. Apakah kamu mau, kembali membuat kenangan bersamaku?”

“Tentu saja, Leen. Terima kasih, karena kamu sudah memberiku kesempatan.”

“Aku tidak tahu, apa saja yang sudah kita lewati bersama. Tapi, aku ingin kamu kembali bersamaku, mengajarkanku akan segalanya.”

“Tentu saja, Ayleen. Aku akan kembali mengajarkanmu, terutama akan arti cinta, yang telah hilang darimu.”

“Aku akan membuatmu mengerti, bahwa kesetiaan itu masih ada.”

Hanya dengan kalimat itu untuk membuatku percaya padanya.

Dia, yang pernah aku lupakan. Dia, yang kini kembali untuk mengajarkanku akan bahagia. Dia, yang membuatku percaya, bahwa cinta itu membawa bahagia.

Questions