Memori Ospek

Senin, 15 Juli 2019

Najwa tersenyum lebar memandangi gedung kampusnya. Rasa bangga karena penampilannya rapi sekali, berbalut baju hitam,  jas hijau yang masih baru, lengkap dengan cadar dan hijab panjangnya. Sebenarnya bagi Najwa ini biasa saja, tapi memakai jas almamater ini artinya dia sudah masuk ke kampus yang dia idamkan sejak dulu, itulah yang membuatnya merasa luar biasa.

Ia berjalan melewati lorong kampusnya, lalu terus menuju gedung jurusannya untuk melihat papan pengumuman di lobby gedung itu. Sudah banyak mahasiswa baru yang berkerumun di depan papan itu. Sehingga membuat pandangannya terhalang, apalagi yang di depannya itu cowok tinggi langsing. Najwa terkejut, ketika cowok itu berbalik menghadapnya dan tubuh mereka saling berbenturan.

“Eh maaf, enggak sengaja,” kata cowok itu canggung. Najwa mengangguk dan dia langsung menyingkir dari situ.

Najwa sedikit kesal pada cowok itu, setelah lama menunggu, kini ia bisa leluasa melihat pengumuman daftar nama-nama mahasiswa yang dibagi menjadi lima kelas.

“Assalamualaikum, Najwa, kita sekelas!”

Sebuah seruan salam yang cukup keras membuat Najwa segera menoleh. Ia mengenali gadis yang berdiri di sampingnya itu.

“Waalaikumsalam, Iffah? Kita sekelas?”

Najwa menatap Iffah dengan tak percaya. Ia kembali membaca deretan susunan nama-nama mahasiswa baru di daftar pembagian kelas.

Iffah Nuraisyah, gadis dengan tampilan berhijab yang manis dan periang itu mengangguk dan tersenyum lebar. Iffah adalah sahabat Najwa sejak di SMA dulu. Dua kali mereka pernah sekelas, dan sekarang mereka sekelas lagi. Apa itu yang dinamakan takdir?

“Ini takdir atau nasib ya?” kata Iffah.

“Iya…apa ya artinya? Hmm..bukan berarti kita ditakdirkan bersama, kan?” sahut Najwa. Mereka berdua tertawa.

Sesampainya di kelasnya, masih banyak kursi yang belum terisi. Iffah memilih kursi nomor dua dari depan di barisan paling kanan. Najwa pun segera duduk di kursi sebelah Iffah.

Baru saja duduk beberapa menit, terdengar pengumuman yang memerintahkan semua mahasiswa baru jurusan Bahasa Inggris berkumpul di lapangan. Inilah jadwal mereka setiap pagi. Mereka harus duduk panas-panasan di bawah terik matahari. Berbaris dan memperhatikan kakak tingkat yang super cuek itu ngomong. Najwa menghela napas pasrah. Dia paling tidak suka baris panas-panasan sepertu itu. Karena dia memakai pakaian tertutup dan berwarna hitam, yang pastinya sangat menyerap panas dari matahari.

“Hei, kamu! ┬áJangan bengong saja! Baris yang benar, dengarkan perintah saya!”

Najwa terkejut mendengar teguran keras yang ditunjukkan kepadanya itu. Najwa langsung duduk tegap. Ini adalah salah satu kegiatan dari Ospek (orientasi

Questions