Pergi

Masih bisakah kamu kembali percaya?
*****

Apa itu cinta?

Apakah rasa ingin memiliki? Apakah itu adalah rasa ingin menjaga? Apakah itu perasaan sayang?

Menurutku, definisi cinta adalah ketika kita rela melakukan segalanya demi melihat keceriaan di wajah seseorang.

Tentu saja, kita akan melakukan apapun untuk membahagiakan orang yang kita cintai, kan?

Namun, bagaimana jika kebahagiaannya adalah saat lepas dari kita?

Bagaimana, jika ia merasa tertekan dan tidak bebas dengan kehadiran kita?

Bisakah kamu melepas dia, supaya dia mendapatkan bahagianya?

Memang begitu sulit untuk membahagiakan seseorang. Begitu banyak hal yang harus kita korbankan hanya untuk kebahagiaan seseorang.

Tentu saja, kita tak bisa mengabulkan semua keinginannya. Kita bukanlah dewa, kita hanyalah manusia biasa yang juga memiliki batasan.

Bagaimana jika dia pergi dengan tiba-tiba, saat kamu baru saja berhasil meraihnya?

Hancur. Remuk redam.

Setelah itu, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau masih bisa mencari cinta yang baru? Ataukah kau terdiam di tempat, dan merenung?

Pastinya, banyak pikiran buruk yang bersarang di kepala.

Semua tergantung kita. Apakah kita memilih untuk menyesali, ataukah kita memilih untuk kembali melangkah maju?

Bagaimana jika setelah kamu menemukan seseorang, dia justru pergi darimu, lagi?

Masih sanggupkah dirimu untuk percaya? Masih sanggupkah dirimu untuk melangkah maju? Bisakah kamu hidup tanpa dibayangi masa lalu yang ada?

Bisakah kamu kembali percaya akan cinta, dan kembali mencari seseorang yang ditakdirkan untukmu?

Masih sanggupkah kamu untuk kembali berdiri?

Cobaan memang ada untuk mengukur kemampuan kita. Namun, siapa yang tak goyah jika ditimpa masalah yang berat dan berturut-turut?

Siapa yang masih bisa bertahan, jika ia telah kehilangan segala yang ia miliki?

Siapa yang masih bisa tersenyum, walaupun beban yang dipikulnya begitu besar?

Tidak ada. Dan tidak akan pernah ada orang sekuat itu.

Sebenarnya, aku pernah menemukan seseorang yang begitu tangguh, yang berhasil membuatku jatuh cinta dalam waktu yang singkat. Namun, aku tidak bisa mempertahankan dirinya.

Aku sungguh menyesal karena itu.

Pada akhirnya, aku kehilangan Dia juga.

Seseorang yang sangat kucintai.
*****

Oktober, 2005

“Kamu … Prasetyo?” Seorang gadis memanggilku dengan suara yang terdengar ragu.

“Siapa ya? Ada perlu apa?” Aku mengerutkan keningku. Rasanya, gadis ini sungguh asing. Aku tidak pernah melihat dirinya sama sekali.

“Ah, benar kamu Prasetyo? Aku pikir, aku salah orang.” Bukannya menjawab pertanyaan dariku, dia justru menghela napas lega.

“Kalau tidak ada perlu, aku pergi.” Aku hanya membalasnya dengan dingin, dan segera beranjak.

Jujur, aku begitu malas untuk kembali berurusan dengan wanita, apalagi setelah pengalaman buruk sebelumnya. Makanya, aku sebisa mungkin menghindari makhluk yang satu itu.

“Tunggu sebentar.” Ia berteriak dengan lantang, membuatku mempercepat langkah.

“Kumohon, tunggu sebentar. Aku ingin berbicara sebentar denganmu.” Kata-katanya masih tidak kugubris.

“Aku adalah sahabat Enya.” Perkataan itu membuatku langsung menghentikan langkah, terkejut.

Ah, rupanya mendengar nama itu saja sudah membuatku seperti ini.

Ternyata, aku memang belum bisa sepenuhnya melupakan dirinya.

“Apa Enya yang memintamu?” Nada suaraku berubah, menjadi begitu dingin. Begitupula dengan raut wajahku, yang berubah menjadi lebih datar.

“Tidak.”

“Lalu, mau apa kau? Apa tidak cukup sahabatmu itu sudah menghancurkan diriku? Apa kau mau melakukannya juga?”

“Dengarkan aku sebentar, Prasetyo. Enya tidak pernah mengkhianati dirimu. Aku datang kemari dengan keinginanku sendiri, untuk menjelaskan semuanya padamu.”

“Tau apa kau soal itu? Kau tidak tahu apapun. Kau bukan siapa-siapa, kau tidak akan mengerti.”

“Kau hanya orang luar. Tidak usah ikut campur dengan urusanku. Aku dan Enya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang bisa dilanjutkan di antara kami. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.”

“Kamu tak berhak mengatakan apapun. Tidak lagi.”

“Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi, Enya butuh didengar. Enya adalah gadis yang begitu baik. Dia tidak pernah mengkhianati dirimu.”

“Kalau kamu mencintainya, seharusnya kamu bisa lebih percaya. Aku mulai ragu, benarkah kamu mencintai dirinya? Apakah kamu hanya menjadikan dirinya sebagai pelarian?” Perkataannya membuatku terdiam, tak bisa membalas.

Aku benar-benar mencintai Enya. Namun, bagaimana aku bisa percaya lagi padanya? Apalagi, aku melihat dengan mataku sendiri saat dia berselingkuh dengan lelaki lain.

Dan gadis ini masih memintaku untuk percaya pada Enya?

Aku bukan lelaki yang mau dibodohi dua kali. Lebih baik, aku berhenti di sini. Mungkin, Enya tidak benar-benar mencintai diriku.

Kalau dia mencintaiku, seharusnya dia menjaga kepercayaanku.

“Coba kau menanyakan hal yang sama padanya. Apakah dia benar-benar mencintaiku, atau aku hanya pelariannya saat dia merasa bosan dengan kekasihnya itu.” Aku tersenyum miring.

“Tak ada lagi yang perlu dibicarakan, bukan? Kalau begitu, aku pergi sekarang.”

“Prasetyo, akan kubuktikan bahwa kau salah. Aku yang paling tahu bahwa dia masih sangat mencintaimu. Aku yang paling paham perasaannya. Tunggulah hingga saat itu tiba. Aku yang akan membuktikannya sendiri.”

“Hm, aku yakin kau tak akan bisa melakukannya. Karena aku yakin, bahwa Enya memang tidak pernah mencintaiku. Jadi, lakukanlah sesukamu.”

“Kau salah, Prasetyo. Aku pasti akan membuktikannya. Saat itu tiba, kau hanya bisa menyesali segala keputusanmu.”
*****

Karena kehadiran gadis itu, beberapa hari ini aku merenungkan segalanya. Karena dia, aku kembali memikirkan soal Enya. Padahal, aku tak lagi ingin memikirkan dirinya. Padahal, aku ingin membebaskannya dari hubungan ini.

Karena perkataan gadis itu, aku kembali memikirkan alasanku mencintai Enya.

Dia membuat hariku berubah dengan drastis. Dia membuatku kembali memikirkan Enya setiap harinya.

Sebenarnya, siapa gadis itu? Aku bahkan tak mengenalnya, namun dia rela menghampiriku hanya untuk mengatakan bahwa Enya masih mencintaiku.

Tak ayal, kata-katanya membuat harapanku kembali muncul begitu saja.

Mungkinkah Enya masih mencintaiku?

Apa benar yang dikatakan gadis itu? Bahwa Enya tak pernah selingkuh?

Tapi, aku terlalu takut untuk kembali padanya. Bagaimana jika dia memang mempermainkan diriku?

Aku tidak siap mendengar jawaban darinya.
*****

“Apa kamu yakin, Enya masih mencintaiku?” Dia mengangguk dengan semangat.

“Iya. Enya memang sangat mencintaimu. Aku tidak tahu siapa lelaki itu, tapi aku pastikan bahwa itu bukan pacarnya. Dia hanya mencintaimu, tidak ada yang lain dalam hidupnya.”

“Kamu seharusnya bahagia karena dicintai oleh Enya sedalam ini, ketika yang bisa kau berikan kepadanya hanyalah luka.”

“Aku tahu itu. Namun, bagaimana aku bisa percaya setelah dikhianati? Aku masih mencintai dirinya, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tak ingin dikhianati lagi olehnya.”

“Prasetyo, Enya memang salah karena sudah melakukan hal seperti itu. Namun, percayalah sekali lagi. Cukup sekali saja. Jika Enya melakukan hal seperti itu lagi, aku yang akan melindungimu. Aku janji.”

“Kau yakin?”

“Percayalah padaku, Prasetyo. Aku akan membantu dirimu. Kau tidak salah apapun. Aku hanya ingin meminta kesempatan kedua, untuk Enya.”

“Percayalah, aku akan mendampingimu.”

Hanya membutuhkan seulas senyum, untuk membuatku percaya sepenuhnya.
*****

“Prasetyo?”

Suara lembut itu membuatku kembali tersadar dari lamunan.

“Ah, kamu sudah datang.” Ia duduk di sampingku. Sejenak, aku merasakan harum dari rambutnya yang terurai.

“Maaf, aku terlambat menemuimu. Aku baru saja bertemu dengan Enya.”

“Lalu, apa katanya?”

“Sayang sekali, dia tidak bisa datang.”

“Ah, begitu ya?” Sepertinya, ia menangkap rasa kecewa dari suaraku.

“Tidak apa-apa. Aku yang akan menemanimu hari ini, sebagai pengganti Enya yang tidak bisa datang. Kau tidak masalah dengan itu, kan?”

“Tidak. Aku malah senang, karena bisa menghabiskan waktu bersamamu.” Aku menyunggingkan senyum yang tipis, namun tulus. Wajah itu merona merah setelahnya.

“Jangan menggodaku. Kau masih memiliki Enya. Ingat?”

“Hm, aku takkan mungkin bisa melupakan Enya. Sudah kukatakan, bahwa aku benar-benar mencintai dirinya. Aku tak rela kehilangannya, walau hanya satu kali. Enya adalah milikku, bukan hak milik orang lain.”

“Posesif sekali.” Dia mencibirku, namun aku hanya mengulum senyum.

“Memang beginilah aku. Apa kau baru mengerti?”

“Aku tidak kaget. Aku sudah tahu sebesar apa cintamu padanya. Bahkan, saat berjauhan darinya justru kau yang nampak nelangsa.”

“Hm, itu memang benar. Aku memang sudah dibutakan oleh cinta.” Aku tidak menyangkal, karena memang itulah yang terjadi.

Padahal, aku sudah dikhianati.

Aku memang bodoh, ya?

“Tenang saja. Biar aku yang menghubungkan kalian. Biar aku saja yang membantu kalian dalam menjalani hubungan ini.”

“Kenapa?”

“Hm?”

“Kenapa kau mau membantu kami sejauh ini?” Aku menanyakannya dengan wajah yang serius, namun dia justru tertawa.

“Masih perlukah kau bertanya? Tentu saja karena kita teman, kan? Aku tidak ingin kalian berdua merasakan kesedihan. Aku mau melihat kebahagiaan di wajah kalian berdua. Aku tak punya maksud lain di balik ini, percayalah. Aku selalu menyayangi kalian.”

“Terima kasih banyak, karena sudah berbuat sejauh ini untukku. Aku menyayangimu, Dia. Kamu adalah sahabat yang baik.”

Ya, nama gadis itu adalah Dia. Dia Zellophina.
*****

Tiba-tiba, Dia menatapku dengan wajah yang pucat. Dia juga nampak sangat gelisah.

“Ada apa?” Dia hanya menggeleng, tentu saja tak memuaskan diriku. Aku butuh jawaban.

“Ada apa, Dia? Katakan padaku.”

“Tidak apa-apa, Prasetyo. Sungguh.” Aku yakin, dia tidak akan memberiku jawaban. Maka, aku berbalik.

Dan aku melihatnya.

Enya sedang berjalan dengan lelaki lain, lagi. Bahkan, mereka berdua nampak mesra.

“Prasetyo? Jangan lihat mereka, lihat aku saja.” Dia meletakkan kedua tangannya di sisi wajahku.

“Aku akan selalu bersamamu, Prasetyo. Maafkan aku, ternyata memang aku yang salah karena mempercayai Enya.”

“Tidak, ini bukan salahmu. Kau sudah melakukan segala yang kau bisa, untuk kembali menyatukan kami. Tapi sepertinya, kisah kami memang sudah berakhir.” Aku tersenyum pahit.

“Mungkin, memang harus begini. Aku tidak apa-apa, Dia. Aku justru bersyukur, karena mengetahui sifatnya sekarang.”

“Terima kasih karena sudah melakukan banyak hal untukku. Sekarang, sudah tak ada lagi yang bisa kau lakukan. Kau boleh pergi, dan tak mengenalku lagi.”

“Tidak, Prasetyo. Ini keinginanku sendiri. Aku akan mendampingimu. Aku adalah sahabatmu, ingat?”

“Aku takkan pernah meninggalkanmu, sekalipun yang lain pergi.” Kemudian, Dia merengkuh diriku.

Ah, Dia memang selalu mengerti diriku.

Mungkin, aku bisa belajar untuk mencintai Dia?

“Terima kasih, Dia. Kau benar-benar sahabat yang baik. Aku beruntung menemukan dirimu.”

Peristiwa yang terjadi setelah itu takkan pernah kulupakan.

Dia berjinjit, kemudian mengecup bibirku. Memang hanya sekilas, namun cukup untuk membuatku terkejut.

Dia menatap ke arahku, tanpa aba-aba, wajahnya merona merah.

“Maaf, Prasetyo.”

Aku memegang kedua pundaknya, menatapnya dengan penuh kesungguhan.

“Dia, katakan padaku, apa kau menyimpan perasaan untukku?” Dia mencoba memalingkan wajah, namun segera kutahan.

“Jawab aku, Dia.” Hanya sebuah anggukan kecil, yang menjawab segala pertanyaan itu.
*****

“Dia, kau sudah datang.”

“Maafkan aku, Prasetyo. Aku sangat terlambat, kan?” Aku menggeleng.

“Tidak apa-apa, Dia. Tapi, kenapa wajahmu kelihatan pucat? Apa kau sakit? Kalau sakit, seharusnya kamu tak perlu memaksakan diri untuk datang.” Aku memasang wajah tidak suka.

“Jangan pikirkan itu. Selama bersamamu, aku tidak akan merasa sakit.” Ia memasang senyuman lebar. Aku menggandeng tangannya, kemudian berjalan seiring dengannya.

“Aku mencintaimu, Dia. Sungguh.”

“Hm, aku juga. Aku ingin kebersamaan kita ini berlangsung selamanya.”

“Tapi … tak ada yang abadi, bukan?”

“Apa maksudmu, Dia? Apa kau tak ingin bersamaku lebih lama?”

“Bukan begitu, Prasetyo. Tapi, umur seseorang tak ada yang tahu, kan?”

“Aku tidak menyukai ucapanmu, Dia. Kumohon, berhentilah mengatakannya.”

“Maafkan aku, Prasetyo. Aku hanya ingin kamu ingat soal itu. Aku tidak bermaksud menyakiti dirimu.”

“Lupakan saja perkataanku tadi.”
*****

Rupanya, yang disampaikan Dia saat itu adalah suatu pesan untukku.

Beberapa hari setelahnya, aku baru mengetahui bahwa Dia sakit. Sayangnya, itu bukan penyakit biasa yang bisa hilang dalam waktu singkat.

Katanya, hati Dia sudah rusak. Hatinya tak lagi mampu menyaring racun yang masuk ke tubuhnya, membuat tubuh Dia semakin lemah tiap harinya.

Kenapa nasibnya begitu malang?

Padahal … kami baru saja bersatu.

Apa ini pertanda dari Tuhan, yang tak mengijinkan kebersamaan kami?

“Tak apa, Prasetyo. Aku baik-baik saja.” Dia menghapus air mataku, dan tersenyum tipis.

“Jangan menangis, Prasetyo. Kamu harus bahagia. Percayalah, aku akan tetap kuat sehingga bisa bersanding di sisimu nantinya. Aku mencintaimu, jadi percayalah padaku.” Aku hanya bisa mengangguk.

“Aku tahu, Dia. Kau adalah perempuan yang kuat, jadi kau harus bertahan, ya? Untukku.”

“Hm, aku akan berjuang untukmu.”
*****

Takdir berkata lain.

Dia pergi, tepat seminggu setelahnya. Menyakitkan sekali untukku. Padahal, hubungan kami baru sebentar berjalan. Namun, dia justru pergi begitu saja, membawa kepingan hatiku.

“Dia, kini aku tak lagi bisa percaya. Setelah semua yang kulalui, terlalu sulit untukku bisa kembali percaya, terutama pada cinta. Tapi jangan khawatir, karena aku takkan pernah melupakan dirimu.”

“Aku mencintaimu, jadi berbahagialah di sana.”

“Selamat tinggal, Dia.”

Questions