Terima kasih, karena mencintaiku

“Apakah aku boleh mencintaimu?” Dia berlutut di hadapanku, menyodorkan sebuah kotak kecil yang berisi sepasang cincin.

“Apakah terlalu muluk jika aku yang tidak sempurna ini, menginginkanmu untuk menyempurnakan diriku, dan membuatku menjadi lebih utuh dari sebelumnya?” Dia menatapku dengan penuh kesungguhan.

“Aku juga sama sepertimu. Aku pun tidak sempurna. Mungkin, bersama denganmu akan membuatku merasa lengkap.” Aku ikut berlutut di hadapannya.

“Aku juga mencintaimu. Aku juga menginginkanmu. Bisakah kita berdua membuat suatu kisah yang utuh? Mungkin, memang dirimu yang aku cari selama ini, untuk melengkapi diriku.”

“Terima kasih karena telah mencintai diriku, Harold. Sungguh, aku bahagia bila bersamamu. Aku membutuhkan dirimu.”

Di bawah langit Den Haag yang bersalju, dia memasangkan sebuah cincin di jari manisku.

Semuanya begitu indah, dan nampak begitu sempurna untukku.

Sayangnya, aku tidak tahu, apakah semua kebahagiaan ini akan berlangsung lama?
*****

“Harold, bukankah lebih baik kau tinggalkan aku saja? Kini, aku tak lagi berguna. Bagaimana aku bisa mengisi hidupmu dengan keadaanku sekarang? Aku hanya akan merepotkan dirimu, Harold.” Aku menangis, sembari menghadap ke arahnya.

“Tidak, Annie. Aku sudah mengatakan, bahwa aku mencintai dirimu. Apakah kata-kataku tak cukup untuk meyakinkanmu?” Ia memasang wajah terluka.

Oh Harold, kumohon jangan mempersulit diriku. Ini semua sudah cukup membuatku menderita.

Jujur, aku masih sangat mencintaimu. Namun aku tahu, bahwa aku tak diijinkan untuk bersamamu, lagi.

“Aku menginginkan kamu, Annie. Hanya dirimu. Tolong jangan mendorongku untuk pergi. Karena aku benar-benar membutuhkanmu untuk mendampingiku.” Ia mengambil sebelah tanganku, menggenggam dengan kedua tangannya yang hangat.

“Kumohon, Annie. Hanya kamu yang bisa melengkapi diriku, bukan yang lain. Kondisimu sekarang hanya sebuah cobaan untukku. Aku yakin, Tuhan hanya ingin melihat kesetiaanku padamu. Ayo, kita lewati ini bersama.” Ia menatap mataku dengan penuh kesungguhan, membuatku mulai goyah dalam mengambil keputusan.

“Harold, bagaimana jika ini adalah cara Tuhan untuk mengatakan padamu, jika aku bukanlah yang terbaik untukmu?” Aku memandang matanya, nanar. Sesungguhnya, aku takut jika benar itu terjadi.

“Kalau begitu, aku akan menentang diri-Nya. Karena hanya kamu yang aku inginkan, Annie.”

“Tapi, aku seorang gadis lumpuh, Harold. Aku hanya akan merepotkan dirimu saja. Aku takkan bisa melakukan sesuatu seperti seorang istri pada umumnya. Masih sanggupkah kau menerima diriku?” Aku menunduk, melihat ke arah kedua kakiku sendiri.

Beberapa hari lalu, aku terkena kecelakaan. Sebagai imbasnya, kedua kakiku tak lagi bisa bergerak. Mungkin, untuk selamanya.

Karena itulah, aku mau Harold pergi dariku. Karena, aku begitu mencintainya. Aku tak ingin dia merasa terbebani dengan kondisiku.

Tak seharusnya aku membebani dirinya, lagi. Apalagi, untuk seumur hidupku.

Harold adalah lelaki yang baik. Dia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.

Namun, dia justru tersenyum lembut. Kenapa?

“Tentu saja, Annie. Karena aku mencintaimu sebagaimana adanya. Aku tulus mencintaimu.” Ucapannya penuh dengan keyakinan. Itulah yang membuatku kembali bertekad.

“Jadi, maukah kau menikah denganku, Annie? Aku janji, akan membuatmu bahagia. Aku akan melakukan segala hal yang kubisa, untuk membuktikan perasaan cintaku. Kondisimu, sama sekali bukan masalah untukku.”

Mungkin, aku harus mencoba untuk kembali percaya. Pada Harold, dan pada cinta, lagi.

Questions