Bab 1 Akhir Dari Ketegangan

Cerah langit di waktu siang hari seakan menemani para siswa yang sedang merayakan kelulusan mereka dengan cara mencorat – coret pakaian sekolah menengah atas yang kini sudah menjadi seragam terakhir mereka Adi Firmansyah sedang berada di tengah lapangan bersama teman – temannya sekelasnya. Dia lulus, tepat di usianya yang ke tujuh-belas tahun, lelaki dengan bertubuh tinggi dan berkulit putih yang memiliki rambut hitam yang disisir kesamping kiri, serta matanya yang bersinar tertawa senang sambil menuliskan nama di seragam salah satu teman sekelasnya.

Adi seakan tidak percaya dirinya telah lulus, rasanya seperti baru kemarin dia mengikuti MOS, tiga tahun berlalu tanpa terasa dan sekarang dia bukan lagi anak SMA. Dilihat jam tangannya sudah sore saja bisiknya lalu merencanakan untuk pulang. Temannya yang berjalan tepat berada disebelahnya dilaluinya lebih dulu dan tiba – tiba saja teman tersebut memanggilnya.

“Hai, Adi tunggu !!”.

Sejenak Adi menghentikan langkah kakinya, didepan gerbang sekolah. Sahabatnya Jaki sedang berlari kecil kearahnya.

“Jaki dari mana saja kamu, aku tidak melihat kamu dari tadi”, Adi bertanya.

Jaki menarik nafas sebelum menjawab.

“Aku di kantin tadi, kamu mau buru-buru pulang ?” Jaki tersenyum lebar

“Iya sudah sore, nanti keburu bis-kotanya penuh”, Adi tersenyum kecil mendengarnya sambil melangkah menengok kearah kiri kemudian, mengusap lengannya, temannya dapat melihat, ada yang berbeda dengan Adi.

“Adi, kamu kan ikut kursus bahasa Inggris, ini SMA sudah lulus, lalu bagaimana TOEFLnya ?” tanya Jaki perhatian.

“Ah…, aku belum tahu soal itu ?” jawabnya sambil mengibaskan tangannya, sebenarnya dia sedang resah memikirkan rencana untuk meneruskan pendidikan perguruan tingginya dengan cara mendapatkan beasiswa. Apakah mimpinya bisa diraih ? Adi sangat ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, karena itu salah satu upaya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dari keadaan sekarang ini di keluarganya. Pikirannya jauh melayang, tetapi bagaimana caranya, semua orang tahu itu memerlukan biaya yang besar, cari beasiswa mungkin, tetapi bagaimana caranya. Ah pusing amat, bagaimana nanti, bekerja saja sambil kuliah, itu yang mungkin. Adi sudah merasa dia hanya seorang pemuda dari keluarga sederhana, tetapi sebagaimana teman-temannya yang lain, berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi atau ke pendidikan lanjutan lainnya.

“Aku doakan saja, agar kamu bisa sukses”, Jaki menepuk bahu Adi, sambil berlari kecil kearah pagar sekolah meninggalkannya lebih dulu dengan semangat.

“Terima kasihhhhhh…..sobattttttt !!!” Adi berteriak sambil masih berdiri di samping gerbang sekolah.

Adi kembali melanjutkan langkah kakinya kearah halte bis-kota. Oh iya, Jaki tadi telah mengingatkannya tentang hasil kursus bahasa Inggrisnya. Dalam mengikuti kursus tersebut Adi memang berusaha memperoleh nilai TOEFL yang tinggi. Selain ingin menunjukkan kepada orang tuanya yang telah berusaha membeayai kursus bahasa Iggrisnya juga untuk dapat memperoleh nilai TOEFL yang tinggi. Nilai ujian nasional SMA yang tinggi serta nilai TOEFEL yang tinggi juga, merupakan modal yang meyakinkan untuk memperoleh beasiswa. Tidak tahu nanti akan mempergunakan beasiswa dari mana, pokoknya berusaha memiliki nilai akdemik yang bagus.

Kelulusan SMA nya dengan nilai tertinggi diantara teman-teman sekelasnya telah memepngaruhi pikiran dan jiwanya untuk mengejar beasiswa universitas nasional maupun universitas di luar negeri. Memang itu impian setiap orang, rasanya dia memang memiliki cita – cita setinggi langit walaupun masih samar dan belum tahu kemana arah tujuannya, itu hanya sebuah harapan. Harapan itu bisa nyata tentunya harus diperjuangkan. Harapan ini bukan harapan Adi seorang tetapi juga harapan orang tuanya. Ibunya, Ida, seorang penjual gado – gado di pasar tradisional, sedangkan ayahnya Rahmat hanya seorang pegawai kecil tetapi mereka berusaha keras untuk bisa menyekolahkan anaknya di SMA yang bagus karena berdasarkan nilai rata-rata SMP nya yang tinggi diatas nilai rata-rata teman-temannya.

Adi lulus dengan prestasi yang gemilang, selama kelas sepuluh atau sebelaspun dia banyak terpilih mengikuti kegiatan sekolah. Salah satunya Adi pernah terpilih menjadi ketua OSIS, selain itu dia pernah terpilih juga menjadi sebagai petugas pengibar bendera selama perayaan Hari Kemerdekaan tiap tahunnya berturut-turut, Adi memang seorang anak yang pintar serta cerdas karena itu dia punya banyak teman di sekolahnya, selain Bahasa Inggrisnya bagus, kalau ada tugas Bahasa Inggris teman – temannya sering bertanya padanya.

Sambil berjalan keluar pagar sekolah menuju kearah halte bis yang ada didekatnya, kembali Adi menerawang keadaan ekonomi keluarganya yang kenyatannya memang pas – pasan, dan itu dikhawatirkan akan menghambat kelanjutan pendidikan sekolahnya. Namun sangat beruntung, dia memiliki sahabat terbaik seperti Jaki yang menjadi sahabat yang selalu bersama dan mendukungnya sejak duduk di kelas sepuluh, sambil berjalan menuju keluar pagar sekolah dan menuju halte untuk menunggu bis.

Dia melihat kendaraan berjalan berseliweran berisikan penumpang yang masing-masing mengejar kehidupan. Adi berfikir tentang kehidupan keluarganya diapun berjuang keras untuk bisa menjadi orang sukses agar bisa membantu mereka, “Mau kemana aku ini…?, tapi aku yakin bisa menggapai bintang”.pada waktu bersamaan, Adi melihat adanya keributan diluar antara pengendara motor dengan mobil pribadi berwarna biru. Sepertinya si pengendara motor kesal karena sedari tadi mobil pribadi itu belum juga bergerak.

“Woiii, saya mau buru – buru nih…, istri saya mau melahirkan !”.

Baru saja bis mulai bergerak dua pengamen sudah masuk ke dalam berdiri di belakang pintu bis. Mereka mulai memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu dari Afgan yaitu “Bukan Cinta Biasa” sambil membawa kantung bekas bungkus permen untuk meminta kepada penumpang. Adi mengeluarkan uang recehan dari saku kemeja, sambil berkata dalam hati “sebuah kehidupan, ya sekarang aku berfikir tentang hidup dan bagaimana untuk bisa hidup”.Setelah berjam-jam mengarungi kemacetan Ibu Kota, bis Adi akhirnya sampai di sebuah jalan gang, kemudian Adi berteriak  “Minggir bang”. Bis berhenti dan Adipun melangkahkan kakinya turun dari bis. Sorot mata lelaki tersebut memandang sebuah jalan agak sempit didepannya, sambil membetulkan tali ransel Adi masuk kedalam gang yang sempit, dan agak becek, beberapa anak menyambutnya sambil bermain, ada yang acuh dan ada yang sibuk dengan temannya didepan rumah. Adi membuka pintu rumah lalu membalikkan badan untuk menutupnya kembali.

Suasana dalam rumah terlihat kosong, karena Ida, ibunya, belum pulang dari pasar, sedangkan Rahmat, ayahnya, juga sepertinya belum pulang dari kerja, dan Gita, adiknya, mungkin sebentar lagi pulang. Terdengar dari dalam kamar suara pintu rumah ditutup, dan ada suara derap langkah menuju kearah pintu kamar Adi, Gita membuka pintunya sedikit sambil melongokan kepala ke dalam, membuat Adi tersentak kaget.

“Wahhh kak, lulus ya !” Gita terlihat senang, sambil berlari kecil sambil memeluk kakaknya.

“Iya, Git…” Adi melepaskan pelukannya.

“Kita makan bersama yuk…” ajak Gita.

“Oke” Adi menyetujui.

Gita keluar dari kamar Adi pada saat terlihat Adi ingin melepas seragamnya, untuk menggantinya dengan kaos merah serta celana pendek cokelat. Tepat saat itu, Hpnya berbunyi, Adi membaca nama kontaknya dari Vivi Cahyani kepala sekolahnya, jantungpun berdegup keras menerimanya.

“Yah Bu Vivi ada apa ?” tanya Adi dengan sopan sambil duduk di pinggir ranjangnya yang kasurnya sudah lapuk.

“Besok pagi ke sekolah, ini ada masalah TOEFL kamu…” Bu Vivi memberi tahukannya.

“Baik bu…” Adi menjawab sambil mengakhiri telepon. Jantung berdebar dengan sangat cepat, dia pergi keluar kamar untuk membicarakannya dengan Gita. Sesampainya di  luar kamar Adi menatap tudung saji, membuka tudung saji itu dan Adi melihat menu sehari – hari.

Tidak lain hanya tahu dan tempe,kadang hanya kerupuk dengan kecap atau sisa gado-gado jualan Ida. Cukup sehat hanya saja Adi ingin segera bisa membahagiakan keluarga dengan memperoleh hasil uang yang banyak dari tenaganya sendiri kelak nanti. Biaya kursus itupun, dari hasil pinjaman uang Ida atau Rahmat kepada koperasi di kantornya. Adi melihat jam di dinding, sudah menunjukkan jam empat sore, Ida biasanya pulang pada jam enam sore kalau pasar sudah tutup, sedangkan Rahmat pukul tujuh malam.

Mendung terlihat dari luar jendela, Adi menarik nafas sambil melihat atap plafon yang sudah banyak bocor, karena belum bisa memperbaiki, bukan hanya itu, cat tembok rumahnya saja sudah mulai kusam, Adi bersiap – siap mengambil ember takut kalau hujan turun untuk menadahinya. Tiba – tiba saja langit berubah, cerah teryata mendung itu hanya menipu akan turun hujan, Adi resah dengan kesal, sambil duduk di kursinya sambil memandang keluar jendela rumah kemudian sorot matanya kearah piring yang ditaruh dengan posisi telungkup diatas meja untuk dibukanya, kemudian nasi serta lauk pauknya.

“Akhir – akhir ini, cuacanya hanya tipuan kak”, Gita mengajak bicara Adi pada saat melihat sikap Adi melihat kearah jendela dari arah sofa, dia sambil duduk dan satu tangannya asyik memainkan remote untuk mengganti – ganti program acara dengan satu tangannya, dan tiba – tiba saja Gita terdengar tertawa agak keras sambil membesarkan Volume Tvnya.

“Apanya yang lucu Git…, lama – lama acaranya bosan…” Adi menggerutu dari meja makan.

“Hey kakk.., ini lucu lhooo, masak penjahatnya kalah dengan anak kecil” Gita menceritakannya sedikit.

“Tapi aku sudah menonton film itu berulang kali”, Adi menyahut. Gita, memelankan suara Tv, dia kemudian berjalan kearah meja makan dan duduk di hadapan Adi, perasaan yang ingin dikatakannya terbesit dalam pikirannya saat ini.

“Besok aku mau ke sekolah, untuk bertemu dengan Bu Vivi untuk masalah TOEFL” Adi bercerita kepada Gita.

“Ohh.., besok ceritakan padaku kalau begitu…” Gita merasa semangat mendengarnya.

“Tapi aku merasa…”, perkataan Adi terhenti matanya terpaku sejenak, pada saat mata Gita mengisyaratkan sesuatu kepadanya.

“Ayolah…, kak Adi yang sudah memutuskan juga” nasehatnya.

Adi hanya terdiam, tidak bergeming mendengar kata – kata tersebut, namun dia tersenyum dengan kesungguhan besar jiwanya sambil mengangguk kepadanya kemudian wajahnya melihat kearah tembok. Dia meninggalkan kursi meja makan untuk berpikir di dalam kamarnya.

“Aku memang sangat menginginkan ini, tapi aku yakin aku mampu menguras tenagaku  untuk segalanya.”. Keesokan harinya, Adi berjalan di lorong sekolah, kemudian masuk ke dalam ruangan kepala sekolah yang ada di sisi kiri. Ia mengetuk pintunya perlahan, dan Bu Vivi membukakan pintunya.

“Ayo masuk”, dia menyuruhnya dengan lembut, Adipun masuk sambil duduk di kursi berhadapan dengan Bu Vivi, matanya melayang kearah tembok di sebelah kanan.

“Adi Firmansyah..” dia menyebut namanya, jantung Adi semakin berdetak keras dengan hebat, pada saat Bu Vivi menyerahkan hasil TOEFL-nya kepadanya sambil melipat kedua tangannya diatas meja.

“Adi.., hasil dari TOEFL kamu  nilainya sangat bagus dan bagi yang nilai TOEFEL-nya sangat bagus akan memperoleh beasiswa untuk bersekolah di universitas di luar negeri, tetapi untuk memeproleh beasiswa itu harus mengikuti test terlebih dahulu. Jadi Adi harus berjuang untuk test, kalau kamu bisa lulus, akan memeperoleh beasiswa.

“Itu beasiswa dari uiniversitas di luar negeri mana Bu. Vivi ?” tanya Adi pelan sambil matanya tertuju ke Bu Vivi. Yang ditanya tidak menjawab, tetapi melanjutkan keterangannya.

“Dari Singapura. Nanti saya beri kabar ke kamu, kapan testnya akan dimulai” dia menjelaskan.

Bibir Adi sulit untuk berkata apapun, perguruan tinggi yang akan dimasukinya adalah paling bagus di negara tersebut, itu kalau lulus test masuk, tetapi ini adalah kesempatan. Kesempatan adalah suatu hal yang sering tidak bisa diulang.

“Terima kasih Ibu, berita ini akan saya beritahukan ke orang tua saya. Saya mohon diri Ibu, selamat siang”, Adi mengangguk sopan, sambil berpamitan keluar ruangan Ibu Vivi. Surat keterangan nilai TOEFEL dia masukkan ke dalam ransel hitamnya dengan hati-hati, dia beranjak berdiri dari kursi untuk meninggalkan ruangan.

Sejenak Adi duduk di kursi teras ruangan kelas, sambil menghadap ke lapangan, pandangannya menatap kearah tembok pembatas, rupanya Jaki, Dion dan Vini mendengar pembicaraan Adi dan Bu Vivi didalam ruangan.

“Ciyeeee…, yang mau ikut test masuk ke perguruan tingggi diluar negeri, bagaimana hasilnya?” Jaki memberikan pujian, sambil mendekat padanya, Adi memandangi teman-temannya dengan mata berbinar.

“Aku masih menunggu kabar dari Bu Vivi untuk ikut testnya Jak”, Adi  tersenyum.

“Ah Jak, kamu ini bisa saja” dia meneruskan kalimat ucapannya.

“Ciyeeee” dia menyimpulkan cengiran kagum pada sahabatnya

“Kamu tahu Di.., kenapa dulu aku mencalonkan kamu sebagai ketua OSIS, karena kamu hebat, layak buat aku orang seperti kamu menjadi pemimpin sekolah ini”, Jaki duduk disebelahnya sambil menepuk bahunya, sedangkan Adi merunduk dalam.

“Berlebihan kamu memuji Jak…” Adi merendah.

“Tidak berlebihan tapi fakta, kamu ingat tidak waktu majalah dinding kosong, kamu yang benar – benar yang paling tegas menyuruh orang untuk menaruh karyanya disana, salah satunya Cici adik kelas kita…” dia bercerita dengan menggebu, namun terdiam sejenak dan teringat akan apa yang mau dibicarakannya.

“Oh yah, bagaimana dengan masalah perpisahan nanti. Sudah waktunya sebentar lagi…?” pertanyaan Jaki membuat wajah Adi berubah menengadah kearahnya, dia menatap tajam mata Jaki.

“Aku akan ikut tapi aku pikir – pikir dulu”, tegas Adi sambil berdiri meninggalkannya, seraya melambaikan tangan di udara. Jaki tidak membalasnya dia memiliki harapan untuk Adi bisa ikut. Adi meninggalkan gedung sekolah, untuk menyeberang ke halte bis menuju kerumahnya.“Hidup untuk dipertaruhkan, apapun yang akan didapatkannya. Letak harta karun, yang tersembunyi dibalik pintu rahasia, kalau ada yang mau berusaha untuk membukanya maka dia akan mampu untuk membukanya. Ah aku berpikir ini hanya mimpi kalau aku bisa kuliah di luar negeri, tapi yang berada di ranselku ini adalah kenyataan”  Bis yang ditunggunya akhirnya datang, Adi melangkahkan kaki untuk naik ke dalam bis, dan duduk di pinggir jendela. Dia mengambil Hp serta earphonenya untuk mendengarkan lagu “I Still Believe In Love” Hayden Pattienerre. Pandangan mata melayang kearah keluar jendela. Jalanan Ibukota terlihat sangat padat pada waktu – waktu seperti ini, disertai kencringan suara gitar dari dua orang pengamen dan temannya memegang kaleng bekas yang menyerobot masuk ketika bis berhenti mengangkut penumpang. Berdesakan bercampur keringat didalam bis pengamen itu mulai menyanyi dengan nada seadanya

Kucoba.., untuk melawan hati, tapi hati terasa disini untukmu, bagiku semua sangat berarti lagi kuingin kau disini…” sebuah sepenggal lirik lagu “Hingga Akhir Waktu” dari Nineball terlantun dari suaranya, Adi melepas earphone dari telinganya pada saat pengamen tersebut menadahkan kaleng kearahnya dari samping. Adi memasukkan tangan ke dalam sakunya, untuk mengambil recehan kemudian memasukkannya ke kaleng pengamen tersebut.

Adi turun dari Bis persis di halte depan gang rumahnya, dia segera masuk ke gang rumahnya. Sambil membetulkan ransel hitam yang dicangkingnya sambil berjalan menelusuri gang, setelah sampai di depan pintu rumahnya ia membukanya untuk masuk ke dalam rumah.

“Bagaimana kak tadi di sekolah ?” Gita terlihat baru sampai dari sekolah, tapi dia lebih awal dari Adi.

“Nilai TOEFL-ku bagus, tapi aku harus ikut test dulu di tempat kursus bahasa Inggris, untuk bisa memperoleh beasiswanya masuk ke perguruan tinggi di negaranya, begitu kata Bu Vivi” Adi bercerita dengan semangat.

“Tapi dia sudah memberi tahu kalau akan ke Singapura…” Adi meneruskan kalimatnya sambil melepas sepatu dengan duduk di sofa yang bagian pinggirnya sudah sobek – sobek, juga berwarna merah.

“Baguslah, kalau begitu.., aku turut senang mendengarnya”, kata Gita dengan wajah gembira.

“Yah terima kasih, aku memang memiliki cita-cita yang tinggi”, Adi tersenyum lebar, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya sambil melepaskan baju menggantinya dengan kaos berwarna kuning serta celana panjang hitam.

Pada saat itu Ida dan Rahmat sudah sampai dirumah, mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam sambil membicarakan masalah test untuk memperoleh beasiswa sekolah di perguruan tinggi ternama di Singapura. Adi mengambil nasi sambil melihat kearah anggota kelurganya satu demi satu.

“Aku mohon doa restu untuk ikut test itu yah mak, pak… ,” kata Adi mendesah, sambil matanya melihat ke kedua orang tuanya. Dalam hatinya dia ingin tetap berjuang dengan tangannya sendiri.

“Baik Di kamu ikut test saja, siapa tahu kamu lulus dan bisa meneruskan pendidikanmu.” tegas Ida. Adi hanya diam saja disini, dia tidak mengangguk ataupun menjawab sepatah katapun.

“Test dimana Di“, tanya Rahmat.

“Di tempat kursus bahasa Inggris pak”, jawab Adi.

“Terus apa yang harus dipelajari Di”. Tanya Rahmat.

“Aku juga tidak tahu pak, mungkin bahasa saja. Pokoknya datang saja dan apa yang akan dikerjakan ikut saja pak”, jawab Adi.

“Iya juga Di, bapak dan emak hanya bisa berdoa semoga kamu berhasil”. Kata Rahmat. Setelah makan selesai Adi masuk ke dalam kamar, Adi merebahkan kepalanya melihat malam melalui kaca jendelanya sambil merenung, sedangkan Ida dan Rahmat menuju ke kamarnya.

Di dalam kamar mereka membicarakan Adi, suaranya sayup-sayup terdengar oleh Adi yang kebetulan saat itu sedang keluar kamar, pintu kamar kedua orang tuanya sedikit terbuka, mereka sedang membicarakan untuk pinjam uang kalau Adi lulus test nanti. Untuk bikin paspor dan lain-lain yang perlu. Mendengar itu hati Adi merasa semakin berat mendengarnya.   Adi menutup pintunya perlahan, rasa kegigihan dalam jiwa tidak akan putus, Adi bertekad untuk mencari pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan walau harus jadi tukang bersih-bersih di Mall, apabila tidak lulus test. Di kamarnya, Adi merenung kembali di kamarnya, memikirkan segalanya untuk bisa tetap berusaha berjuang untuk hidup. “Kalau memang ini hidup yang harus aku jalani, aku akan jalani

Keesokan paginya, jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, Adi menguap sejenak, sambil membuka matanya, kemudian menegakkan tubuhnya untuk bangun, kemudian Adi turun dari ranjangnya serta merapikan kasur serta bantal juga selimutnya. Adi berjalan sedikit kearah cermin untuk menyisir rambutnya, dan keluar kamar, gerakan kakinya kearah jemuran handuk untuk mengambil handuk yang warna kuning miliknya, kemudian Adi masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, Adi melepas pakaiannya untuk ditaruh di belakang pintu dengan handuknya juga, Adipun mengambil gayung disampingnya untuk membasahi tubuhnya, satu tangan mengambil sabun untuk menggosok tubuhnya, dan satu tangannya lagi menguyur lagi badannya, sehabis mandi Adi keluar dari kamar mandi, menuju kamarnya memakai seragam sekolahnya dan menyisir kembali rambutnya. Diluar kamarnya, Ida sudah menyiapkan sarapan, diapun nampak tergesa – gesa karena harus berjualan kembali ke pasar.

“Kamu akan siap test hari ini Di ?” tanya Ida lembut melihat Adi menuju kearah kursi meja makan, dia mengambil nasi dan tempe diatas meja, Rahmat duduk sambil mengamatinya untuk mengatakan sesuatu.

“Semoga hasilnya adalah yang terbaik” kata Rahmat menimpali.

“Mudah-mudahan pak”, Adi tersenyum sopan kepada kedua orang-tuanya.     “Aku berangkat lebih dulu kak, pak, mak aku pamit ”, kata Gita yang selesai sarapan lebih dulu, segera berlari keluar rumah untuk berangkat sekolah. Dalam  waktu bersamaan, Adipun menyusul untuk berpamitan.

“Aku juga mau berangkat  mak, pak, aku mohon doa restu agar segalanya berjalan lancar”, Adi meneguk teh manisnya, kemudian berpindah duduk di sofa untuk memakai sepatunya. Adi keluar rumah meninggalkan rumahnya menuju halte yang setiap harinya tempat Adi menunggu bis, sementara duduk di halte, pikiran melayang sambil membuka bukunya untuk mempelajari sedikit yang sudah dibacanya. Suara bis berhenti didepannya, membuat Adi bergegas untuk memasukkan bukunya kembali ke dalam ransel, lalu naik ke dalam bis. Di dalam bis, Adi membuka kembali buku itu untuk menghafalnya lagi. Setelah sampai di halte didepan gedung tempat kursus bahasa Inggris, Adipun turun sambil membetulkan ransel di pergelangan tangan kanannya, berjalan menuju kearah halaman gedung kursus bahasa Inggris.

Disana sudah ada beberapa anak yang datang lebih dulu, yaitu teman-teman kursus bahasa Inggris Adi juga yang memperoleh nilai TOEFL bagus, tidak banyak memang ada sebagian yang tidak lulus TOEFL dan yang lulus hanya sedikit salah satunya adalah Adi. Tidak lama kemudian seorang pegawai tempat kursus datang, mempersilahkan peserta test masuk kelas. Setelah semua peserta duduk, datang dua orang pengawas memberikan lembaran pertanyaan yang ditaruhnya diatas meja peserta. Adi mengerinyitkan kening, sebelum menjawabnya, dia mendesah nafas untuk menguras pikirannya selama enam puluh menit.

“Yang sudah selesai ditaruh diatas meja, pengumuman hasil test akan diumumkan besok siang jam satu siang di papan pengumuman”, seorang pengawas memberi tahukan. Adi tidak ingin menjawabnya dengan tergesa – gesa, agar bisa mendapatkan jawaban yang benar, waktupun terus berlalu, sorot mata semakin tajam menatap kalimat diatas kertas untuk menjawabnya, dan waktu akhirnya telah selesai, Adi menghela nafas kembali untuk menaruh lembaran jawaban  diatas meja.

Adi duduk di kursi di teras samping gedung kursus sambil menatap kearah lapangan parkir, membayangkan masa – masa sebelum duduk di kelas dua belas, dan saat itu waktu masih di kelas sebelas atau sepuluh.

“Kamu sudah selesai ?” suara Fajar dari samping kanannya, membuyarkan lamunan Adi, diapun segera menengok.

“Aku baru selesai”, jawab Adi tersenyum melihat pemilik suara itu adalah seorang teman kursusnya Fajar.

“Aku mau pulang duluan”, Adi berpamitan dan Fajar mengangguk.

Setelah sampai di rumah Adi langsung merebahkan badannya di kamar. Semua kegiatan yang dilakukannya siang tadi dilaluinya dengan baik, harapan yang ada dikalbunya adalah testnya berhasil dan dapat memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Tengah melamun, pintu kamarnya diketuk, Adi segera membuka pintu kamarnya dan terlihat Gita, adiknya, yang segera menyapa kakaknya

“Kak bagaimana tadi ujiannya”, kata Gita.

“Biasa saja”, jawab Adi singkat.

“Apa saja yang lain di uji kan, seperti matematika, kimia contohnya “, tanya Gita

“Tidak, hanya bahasa Inggris saja yang diuji oleh mereka”, jawab Adi.

“Ooo, ya sudah kita makan siang yuk”, ajak Gita.

“Okey, kita makan, sudah lapar juga aku”, jawab Adi.

Mereka langsung menuju meja makan, hanya mereka berdua, orang tua mereka belum pulang, biasanya sore hari baru orang tua mereka pulang ke rumah. Selesai makan mereka berdua melakukan kegiatannya masing-masing.

Pada waktu sorenya kedua orang tua mereka pulang dan Adi serta Gita seperti biasanya menyambut kedua orang tua mereka dengan mencium tangan kedua orang tua mereka.

“Uuuh, di bis tadi penumpangnya banyak, tapi sudahlah sudah sampai di rumah dengan selamat”, kata Rahmat.

“Iya, bersyukur pak, yang beli gado-gado tadi banyak, tanganku lumayan pegal, nguleg ha…ha”, kata istrinya.

“Eee, anak-anak sudah makan siang belum”, kata Ida.

“Sudah mak”, kata Gita dan Adi bersamaan.

Kedua suami istri tersebut berjalan menuju ke kamarnya dengan tidak lupa membersihkan kaki dan tangannya di kamar mandi.

“Gita, bapak dan emak istirahat dulu ya”, kata Ida

“Iya mak, urusan makan malam biar aku sama kak Adi yang menyiapkan. Emak katakan saja apa yang disiapkan. Tapi aku lihat belum ada sayur mak”, kata.

“Sudah nanti sore saja emak masak sayur dulu, tapi sekarang emak istirahat dulu”, kata Ida.

“Iya mak”, kata Gita.

Ida dan Rahmat mulai masuk ke kamarnya, kedua anak-anknya asyik melakukan kegitannya masing-masing. Terlihat Adi mulai membersihkan halaman rumahnya., meskipun halaman sempit tetap saja harus bersih dan indah. Gita mebersihkan dalam rumah.

Senjapun mulai merangkak malam, terlihat Ida dibantu Gita melakukan kegiatan masak sayur untuk makan malam keluarga kecil itu. Karena sudah merupakan kegiatan sehari-hari kegiatan memasakpun selesai dengan cepat. Penyajian makan malam di meja makan yang nampak sederhana sudah dapat dinikmati dan ajakan makan malam kepada seluruh keluiarga di serukan oleh Gita

“Pak, Kak Adi yuk kita makan malam, ini makanan sudah siap”, kata Gita

“Mari Di, itu makanan sudah disiapkan emak dan Gita”, kata Rahmat

“Iya pak, siaaaap”, kata Adi.

Mereka mulai duduk mengitari meja makan dan mulailah keasyikan keluarga kecil itu menikmati karunia Tuhan. Sambil makan mereka mulai mengobrol tentang kegiatannya masing-masing pada waktu siangnya.

“Tadi di ujian apa saja Di”, tanya Ida ke Adi.

“Bahasa Inggris dan ujian saja mak”, jawab Adi.

“Oh ya, emak baru ingat aku kan ada kegiatan belajar bersama di sekolah”,tiba – tiba saja Gita teringat sesuatu di tengah obrolan keluarga.

Kapan itu”?, tanya Ida .

“Iya mak, untuk persiapan menjemput ulangan minggu depan, emak bukan di sekolah tetapi di rumah teman”, kata Gita meneruskan kalimatnya.

“Besok sore mak”, kata Gita.

“Lah kalau begitu sampai malam itu, kalau sampai malam emak dan bapak tidak mengijinkan”, kata Ida lagi.

“Eh, salah mak, bukan sore tetapi selepas sekolah, jadi aku tidak segera pulang tetapi akan belajar bersama di rumah teman Gita”, kata Gita.

“Itu mak, sahabat Gita, si Elin yang mengajak dan aku bersama tiga anak lagi jadi semua lima anak”, kata Gita.

“Oh ya sudah, kan emak harus tahu”, kata Ida lagi.

Begitulah percakapan keluarga berlangsung dengan hangat, dan setelah makan malam usai mereka mulai berkumpul di depan televisi, satu-satunya tempat keluarga itu menghibur diri. Malam tidak begitu sunyi, karena ada suara tetangga yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi di teras rumahnya, waktu masih menunjukkan jam delapan malam.

“Kamu tumben tidak nonton sinetron”? tanya Adi, Gita hanya menyimpulkan senyuman sedikit kepadanya.

“Aku sedang bosan nonton sinetron dan kebetulan sedang diputar film Aladdin” jawab Gita.

“Kapan hasilnya diberi tahukan kak”? Gita bertanya.

“Besok siang, katanya jam satu ”, Adi menjawab singkat.

Orang tua mereka ikut asyik nonton acara televisi yang disetel oleh Gita. Gita membesarkan sedikit suara Tvnya ketika mendengar tetangga yang bernyanyi suaranya semakin keras.

“Memang berisik mereka, suaranya juga sudah tidak bagus”, Adi memahami maksud sikap Gita. Setelah film itu selesai Adi berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya kepada Gita, dia merebahkan tubuhnya dan tiba – tiba terserang rasa mengantuk dan memejamkan matanya.

Keesokan harinya, setelah makan siang Adi kembali ke tempat kursusnya untuk melihat hasil testnya. Setelah sampai di tempat kursus Adi dengan rasa was-was mengamati papan pengumuman. Didepan papan pengumuman sudah berkerumun beberapa teman kursus yang mengikuti ujian kemarin. Hati-hati dia mengamat tulisan di papan pengumuman dan dengan mata terbelalak Adi membaca dengan jelas bahwa Adi lulus ujian. Dan perguruan tinggi Singapura benar – benar didapatkannya.

“Adiii selamat Di, aduh aku gagal” Diaz, yang baru keluar dari kelas bercerita sambil berjalan meninggalkan tempat kursus pada Adi

“Teryata kamu orang yang beruntung”, dia masih melanjutkan ucapannya sambil membalikkan badan kemudian menghampiri temannya yang bernama Wisnu, dan terdengar di ujung sana, dia bercerita mengenai Adi, Wisnu menatap kearahnya, tersenyum lalu memutar bola matanya sambil sedekap, pandangan matanya menatap kagum pada Adi, sambil melayangkan senyuman.

“Biasa saja, semua hanya kebetulan”, Adi merendah kepadanya berkata dari jauh mendengar pembicaraan mereka.

“Jika ada orang yang lebih hebat dari kita semua itu namanya luar biasa”, Gio yang juga ada disana baru saja datang langsung ikut menyahut sambil menepuk bahu Adi pada saat berdiri disampingnya dia bersama dengan lainnya yaitu Enggar, Adi menarik nafas kemudian membuangnya dari mulut.

“Terima kasih kalau begitu”, katanya kemudian, dia melirik jam tangan sambil membalikkan badan, kearah sebuah ruangan diantara deretan ruangan – ruangan lainnya yang ada disana. Sesuai dengan petunjuk yang tertulis di lembar pengumuman Adi disuruh menghadap pimpinan kursus yaitu Pak Nico, besok pagi jam sepuluh pagi. Tepat jam sepuluh pagi keesokan harinya dia berjalan kearah ruangan Pak Nico, berdegup jantungnya pada saat mengetuk pintunya.

“Masuk” dia berkata dari dalam Adipun membuka pintunya, kemudian duduk di depannya, dia menyerahkan sebuah lembaran kepadanya.

“Saya, sudah bicara dengan Bu Vivi, tentang beasiswa kamu, pihak sekolah dan tempat kursus inipun, sudah menyetujui adanya kamu bisa masuk ke perguruan tinggi disana, mungkin sebelumnya Bu Vivi sudah memberi tahukannya padamu tentang ujian ini”, Pak Nico bicara panjang lebar.

“Selamat yah, kamu mendapatkan perguruan tinggi ternama di Singapura…” dia tersenyum lebar, mendengar kalimat tersebut mata Adi terbelalak, apa yang didengarnya tidak pernah disangka olehnya sebelumnya. “Singapura” kata hatinya bicara sambil berpikir, kalau biayanya sangat besar untuk bisa pergi kesana. Selama dalam perjalanan pulang kerumah hatinya sangat senang, dan rasa itu ingin cepat – cepat dberi tahukan kepada keluarganya.

“Biayanya, pasti besar sekali dan aku harus berusaha keras sendiri untuk bisa meraihnya, karena aku ingin kelak bisa membantu orang tua dan adikku” 

“Semoga kamu sukses disana, saya juga sudah menghubungi perguruan tinggi Singapura, mereka sudah menyetujuinya juga !!” dengan semangat Pak Nico menjabat tangan Adi dan Adi dengan gemetar membalasnya. Sebelum meninggalkan ruangan, matahari terlihat oranye menemani langkah Adi meninggalkan tempat kursus, langkahnya terasa pelan, menuju kearah halte untuk menunggu bis. “Aku sangat percaya adanya impian tetapi impian itu memang tidaklah mudah terwujud, seseorang harus berusaha keras meraihnya.  Bis berwarna oranye dan biru, akhirnya tiba di tunggunya, sang kenekpun sudah mulai menyuruhnya untuk masuk ke dalam, Adipun bergegas untuk melangkah ke dalam sambil membetulkan ransel yang disandangnya, kemudian, duduk di pinggir jendela, cahaya yang masuk dari luar kendaraan tersebut nampak masih silau, karena saat ini masih pukul empat sore. Seorang pengamen memetik gitarnya sambil bernyanyi, menunggu kesempatan pada saat bis tersebut sedang berhenti sejenak. Selamat tidur kekasih gelapku, semoga cepat kau lupakan aku, kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu…..” satu orang menepuk tangannya, sambil bernyanyi, dan satu orang memetik alunan melodinya. Suasana semakin ramai, semakin waktu terus maju, dan sore semakin akan berganti gelap, dan matahari lamban laun akan masuk ke dalam balik awan.

Sore hari menjelang malam ini Adi baru sampai di halte dekat rumahnya, kemudian melangkah untuk masuk dalam gang, dan membuka pintu rumahnya yang berada di jalan ujung gang, keluarganya nampak sedang berkumpul di ruang TV, dan melihat kearah Adi yang baru tiba dirumah, dia memulai ceritanya sambil melepas sepatunya dan menaruhnya diatas rak.

“Aku mendapat beasiswa itu ke Singapura” Adi memulai perkataannya.

“Oh yah.., kerennn sekalii !!!” Gita memuji dengan senang, kemudian menghadap kearah Ida, dia nampak tersenyum bangga dengan anak lelakinya.

“Diii, anak emak kamu memperoleh yang terbaik dari Tuhan, kita semua bersyukur”, kata Ida sambil mengusap kepala Adi pada saat dia mencium tangan kedua orang tuanya dan hendak masuk ke dalam kamarnya, untuk berganti pakaian. Malam harinya, pada saat mereka semua berkumpul di meja makan, Adi menceritakan panjang lebar bagaimana TOEFLnya itu dengan keluarganya. Rahmat tersenyum lebar, diam-diam Ida melihat ke Rahmat dengan mata berbinar gembira. Gita, adik Adi tesenyum.

“ Nanti kita ngomong-ngomong pakai bahasa Inggris ya kak”.

“Okey, supaya kamu juga bisa lancar”, jawab Adi.

“Ayo kita makan malam, semua yang ada sudah tersedia”, ajak Ida.

“Semua yang ada, semua apa mak”, tanya Rahmat sambil tersenyum.

“Banyak, itu sayur lodeh, tahu, tempe, sambal dilengkapi dengan kerupuk” jawab Ida.

“Iya itu sudah banyak pak”, sambung Gita

“Itu semua makanan sehat pak”, sahut Adi.

“Iya kalau anak-anak bapak berkata dengan nada syukur, bapak sangat bahagia”, kata Rahmat.

“Karena ada lho anak-anak yang berkata, ……cuma itu….., nah itu yang Bapak tidak harapkan”, sambung Rahmat.

Mereka mulai duduk mengitari meja makan yang sederhana. Bersama mereka mulai menyantap makanan dengan lahap.

“Wah kalau jadi benar ke Singapura, Adi akan naik pesawat terbang ya Di”, kata Ida.

 

“Iya mak, nanti bisa lihat rumah kita dari atas, ha……ha” Adi tertawa lepas.

“Kak, katanya kalau baru pertama kali naik pesawat terbang, di dalam pesawat nanti muntah-muntah”, kata Gita.

“Siapa berkata begitu”, kata Adi.

“Kata teman aku yang baru pertama kali naik pesawat terbang”, jawab Gita.

“Begini, sebelum pesawat naik ke udara, kita mengulum permen dulu, itu adalah akal kita supaya tidak pusing, yang menyebabkan muntah itu kan pusing”, kata Adi selanjutnya.

“Iya, turuti saja apa kata orang yang biasa naik pesawat terbang “, kata Rahmat.

“Katanya duduknya juga diikat ya Di”, kata Ida.

“Wah kurang tahu juga mak”, jawab Adi.

“Tapi kalau kita naik taksi dan duduk di depan dekat supir kan badan kita diikat di kursi mobil, katanya kalau mengerem tiba-tiba supaya badan kita tidak terbentur ke depan, mungkin itu maksudnya”, kata Adi selanjutnya.

“Nah, ini pasti Kak Adi menangis, tidak bisa makan sayur lodeh, tidak bisa makan sambal terasi, uih banyak lagi yang Kak Adi tidak bisa makan makanan kita sekarang”, kata Gita

“Di Singapura mana ada sayur lodeh dan gado-gado”, lanjut Gita.

“Aaah itu sih ringan”, kata Adi.

“Yang penting makanan sehat, halal dan tidak kelaparan di negeri orang” kata Adi selanjutnya.

Mereka berempat masih berceloteh di sekitar meja makan meski acara makan malam sudah selesai. Keluarga kecil itu nampak bahagia. Berangsur malam mereka mulai meninggalkan meja makan. Rahmat dan Ida menuju ke kamarnya, demikian juga anak-anaknya, karena lelah di siang harinya, masing-masing memasuki kamar tidurnya.

Setelah sampai di dalam kamarnya, Ida mulai mendesah dan dengan berbisik Ida berkata kepada suaminya,

“Pak, kita bersyukur Adi dijamin bisa melanjutkan pendidikannya. Mudah-mudahan anak kita jauh lebih tinggi derajat hidupnya dibanding kita ya Pak. Yang jadi pikiranku itu biaya bikin paspor, masalah pakaiannya, nanti makannya disana bagaimana, terus kalau sakit siapa yang merawat”, kata Ida berbisisk.

“Untuk biaya pembuatan paspor, saya akan usaha pinjam uang di Koperasi kantor mak, tenang saja kamu supaya anaknya tidak kecil hati. Selebihnya saya percaya pada anak laki kita. Kita memperbanyak doa dan bermohon pada Tuhan, anak kita selamat adanya”, kata Rahmat.

Esok paginya keluarga itu bertemu lagi di meja makan untuk sarapan pagi. Terngah makan pagi itu Adi berkata

“Pak, mak, Adi mohon ijin akan mencari pekerjaan lebih dulu. Ehmmmm, untuk biaya bikin paspor”, kata Adi meneruskan kalimat yang diucapkannya, Ida masih terdiam tidak memberikan komentar apapun.

“Untuk bisa memenuhi biaya itu, Adi mencari pekerjaan apa saja, meskipun menjadi tukang bersih – bersih di Mall sekalipun”, kata Adi selanjutnya.

“Di, kamu masih punya orang tua dan bapak serta emak kan bekerja, maka menurut bapak Adi tetap tidak usah mencari pekerjaan, bapak akan biayai Adi untuk mengurus paspor dan yang lain-lain untuk keperluan ke Singapura”, kata Rahmat.

“Nah, begini sementara Adi menunggu kapan berangkat ke Singapura, bantu emak saja di pasar jualan gado-gado, bagaimana”, kata Ida.

“Baik mak, tetapi Adi akan mencoba mencari pekerjaan, boleh ya mak”, kata Adi selanjutnya.

“Di, emak nasehati anak emak, supaya tidak terjadi suatu apa pada Adi sementara Adi menunggu keputusan dari pemberi beasiswa”, kata ida.

“Jadi kesehatan Adi terjaga” kata Ida selanjutnya.

“Ya sudah kalau emak berkata begitu Aku nurut saja mak”, kata Adi selanjutnya.

“Iya gitu kak, pokoknya Kak Adi jangan kemana-mana, jaga diri baik-baik”, kata Gita.

Keluarga itu mulai berpisah untuk melakukan kegiatannya masing-masing. Adi dengan pakaian sederhana pergi bersama emaknya ke pasar untuk membantu emaknya berjualan gado-gado.

Di pasar Adi terlihat tidak canggung membantu permintaan para pembeli gado-gado emaknya, karena pada waktu-waktu tertentu seperti hari libur sekolah Adi dan Gita adiknya membantu Ida berjualan dipasar.

“Bu Ida, itu punya pembantu cakep sekali”, kata seorang pembeli Ibu-ibu.

“Anak saya bu, baru lulus SMA mau bantu saya sebelum dapat pekerjaan”, jawab Ida merendahkan diri.

“Ooo, iya surga ada di telapak kaki ibu ya nak, semoga cepat dapat pekerjaan”, kata ibu itu ke Adi.

“Iya bu, terima kasih”, jawab Adi.

Begitulah Adi bersama Ida melayani pembeli gado-gado sampai sore. Adi merasakan sangat lelah membantu ibunya meladeni pembeli gado-gado emaknya yang kebetulan sangat tekenal enak di pasar itu. Adi melihat emaknya kelihatan lelah mengadoni bumbu gado-gado.

Adi berfikir bahwa dia tidak rela kalau emaknya bekerja terus di pasar berjualan gado-gado. Makin tinggi usia emaknya maka makin tidak mampu mengerjakan bumbu gado-gado. Makin kuat tekadnya mempertinggi kemampuannya mencari penghasilan untuk membahagiakan keluarganya. Apapun jalannya akan aku lakukan, oh emakku, restui anakmu mak. Begitu pikiran Adi sambil membungkus gado-gado pesanan orang.

“Aduuuh, saya giliran nomor berapa Bu Ida, lapar niiih”, celetuk seorang bapak-bapak pembeli gado-gado.

“Ini saya sekarang mengerjakan pesanan bapak’, jawab Ida.

“Nah bu Ida, bapak itu kan datangnya belakangan bu”, kata seorang ibu ptotes.

“Maaf ibu, bapak ini sudah dari tadi bu, mungkin ibu baru melihatnya”, jawab Ida.

“He…..he…. iya, iya bu Ida, ya kalau saja ada yang membantu ibu membuat adonan, eh…. jangan bu nanti rasanya lain,” kata ibu itu lagi.

Demikianlah secuil celotehan suasana pembeli gado-gado Ida dipasar. Memang ramainya pembeli pada waktu-waktu jam makan siang, semua pembeli maunya cepat. Nanti menjelang sore hari keramaian pembeli sudah mulai mereda. Pada waktu itulah Ida baru bisa mengisi perutnya sendiri. Adi ikut makan bersama emaknya.

“Di, menunggu sepinya pembeli baru kita makan. Nah yang harus diingat adalah waktu makan siangnya  tertentu, jam tertentu, jangan ganti-ganti waktu, akan rusak pencernaan kita. Katakanlah pada waktu jam makan siang sedang sepi pembeli,meskipun begitu kita jangan makan siang, tunggu waktu jam biasa kita makan. Dengan demikian pencernaan kita terjaga”, kata Ida.

“Nah, nanti kalau kamu di Singapura, lakukanlah seperti biasanya kamu makan di rumah, biasanya kamu bersama Gita makan siang sekitar jam dua siang, lakukanlah seperti itu Di”, nasehat Ida.

“Iya mak”, jawab Adi. Tidak menyangka emakku pintar masalah kesehatan. Begitu pikiran Adi.

Sore hari mereka mulai bersiap-siap pulang ke rumah, barang-barang dagangannya disimpan di kotak yang terletak di lapak pasar kepunyaan Ida. Mereka anak dan emaknya pulang naik bis umum yang menuju daerah mereka tinggal. Lelah tetapi lega memperoleh hasil yang lumayan.

Singkat kata pertemuan keluarga itu di meja makan sewaktu makan malam berlangsung dengan hangat, celotehan tentang pengalaman masing-masing pada siang harinya berlangsung ceria deselingi canda tawa ringan. Disela-sela makan Rahmat berkata pelan.

“Di, Bapak punya uang cukup untuk mengurus paspor, terserah Adi saja kapan mulai mengurus paspor:”

“Iyah pak, besok akan aku mulai tanya-tanya bagaimana mengurus paspor, kan kita belum pernah ke luar negeri”, jawab Adi.

Rutinitas kegiatan keluarga hampir tidak berubah, selesai makan mereka berombongan keruangan di depan televisi, menyaksikan acara-acara apa saja yang mereka pilih. Tetapi ayah mereka mempunyai pilihan yang harus dilaksanakan yaitu acara berita, kalau sudah begitu yang lain menurut. Sesudah acara berita selesai, baru Gita yang aktif memilih acara, yang lain menyerahkan ke Gita saja. Semakin larut orang tua mereka yang duluan pamit masuk kamar tidur, belakangan baru Adi dan Gita. Adi masuk kamarnya langsung merebahkan badannya di tempat tidur. Tanpa terasa, dia memejamkan matanya dalam keadaan korden jendela belum ditutupnya.

Pagi harinya sayup terdengar suara Ida membangunkan Adi, dan oleh karena itu Adipun terlonjak bangun, dia menegakkan badannya sambil duduk di tempat tidur Adi menggeliat melihat kearah emaknya yang sudah berdiri di hadapannya.

“Di, katanya mau mengurus paspor”, kata Ida pelan.

“Sudah jam delapan Di….. sekarang, masih mengantuk ya”, kata Ida lagi

“Iya mak, masih lesu”, jawab Adi.

“Adi.., kami tahu perasaanmu ingin tidak membebani orang tua, tapi pendidikan itu penting dan nomor satu, setidaknya biar kita kondisinya seperti ini berharap yang terbaik untukmu dan adikmu”, Ida menasehati pelan.

“Tapi Di hari ini kamu sehat kan”, kata Ida selanjutnya.

“Sehat mak, cuma lesu saja kok”, jawab Adi.

Sejenak Ida memperhatikan anaknya dengan teliti dan Adipun bangun beranjak dari ranjang.

“Mak, aku urus kalau begitu paspornya sekarang,” kata Adi kemudian.

“Hati-hati ya Di”, kata Ida.

Adipun keluar kamar untuk mandi. Setelah menyiapkan diri sebaik-baiknya, baik pakaian yang warnanya polos, surat-surat yang diperlukan, Adipun mulai keluar rumah sambil menyandang ranselnya berangkat untuk mengurus paspornya. Selama dalam perjalanan didalam bis, lamunan terbuyar dalam otaknya. “Dimana hidup, aku tidak memilihnya namun kehidupan yang memilihku.., aku hanya mengikuti setiap gerakan isyarat dari sebuah cahaya kalau itu memang diperuntukkan untuk milikku

Adi sampai di tempat untuk bisa mengurus paspor, orang yang antri cukup banyak,  dia mengambil nomor antrian, kemudian mengambil formulir untuk diisi. Repot juga untuk mengisi formulir, karena meja untuk keperluan menulis dipenuhi orang-orang dengankepentingan yang sama. Sabar, akhirnya ada juga tempat lowong untuk menulis, dia mengisi formulir dengan teliti, selesai kemudian mencari tempat duduk yang kosong untuk menunggu di panggil namanya. Wah nomornya tinggi juga, setelah menunggu beberapa lama namanya di panggil, diapun mengikuti peraturannya untuk di wawancara kemudian di foto. Paspor bisa diambil satu minggu lagi.

Adi pulang naik bis umum dan sampai dirumahnya sudah sore, maklum di kantor imigrasi menuntut waktu lumayan lama, dia masuk ke dalam kamarnya sambil duduk di ranjang menghela nafas, lelah memandang meja tulis kayu di hadapannya.

“Terkadang, ada orang yang tidak ingin memilihnya, aku bukan orang yang memilih untuk segalanya dalam hidupku, tetapi Tuhan memberikan aku jalan untuk ini semua, dan karena itu kuasaNya aku hanya bisa mengikuti arahanNya kemana Tuhan memberikan petunjuk”.

Tanpa sadar mata mengantuk, Adi merebahkan kepala di bantal untuk memejamkannya.

Gita masuk kamar kakaknya yang pintunya tidak tertutup, dia dapati kakaknya sedang tidur nyenyak kelelahan. Jam sudah menunjukkan jam setengah tujuh sore, sudah waktu magrib, pelan-pelan kakaknya dia bangunkan.

“Kak Adi, bangun kak sudah sore”, kata Gita pelan.

Tergagap Adi bangun, dilihatnya Gita, adiknya, berdiri disamping tempat tidurnya.

“Kak sudah soreeee ni”, dia menyapa persis di telinga Adi.

“Lelah sangat ya kak”, kata Gita lagi.

“Iya Git”, jawab Adi.

Mereka berdua keluar kamar dan masing-masing menjalani kegiatannya, Adi pergi kekamar mandi untuk mandi, Gita masuk kamarnya. Sementara mereka masing-masing menjalani kegiatannya, orang tua mereka datang dari tempat kerja dan satu persatu masuk rumah.

“Maaak”, Gita berteriak dari kamarnya.

“Iya, kenapa” Ida menyahut

“Takut bukan emak dan bapak yang masuk rumah” Gita berkata sambil keluar kamarnya.

Gita menyambut kedatangan orang tuanya dengan mencium tangan mereka.

“Kakakmu sudah pulang Git”, tanya Ida.

“Sudah mak, tuh sedang mandi”, jawab Gita.

Rahmat dan Ida masuk kamarnya untuk berganti pakaian, dan mereka segera keluar kamar untuk bertemu anak-anaknya. Adi yang kebetulan sudah selesai mandi dan berpakaian menemui orang tuanya dengan mencium tangannya.

“Tadi di kantor imigrasi bagaimana Di”, tanya Rahmat.

“Beres pak, jadinya paspor seminggu “, jawab Adi.

“Waah, antriannya panjang juga pak, tetapi beres juga kok”, sambung Adi.

“Iya memang begitu, kata teman-teman bapak di kantor juga begitu, tetapi mereka bilang semua terlayani dengan baik, cepat”, kata Rahmat.

“Bagaiamana uangnya cukup” tanya Rahmat lagi.

“Cukup sekali pak, cukup”, kata Adi.

“Ya, syukurlah, tapi bapak masih punya uang untuk persiapan keberangkatanmu nanti, sudahlah tugasmu adalah urus baik-baik ketentuan-ketetuan dari pihak pemberi beasiswa”, kata Rahmat.

“Terus kapan dipanggil lagi”, tanya Ida.

“Belum tahu ma, saya tunggu saja”, jawab Adi.

Rahmat dan Ida duduk-duduk di teras rumah melepaskan lelah, tertiup angin sejuk sore menjelang malam itu, sementara mereka duduk Gita datang menyuguhkan teh manis untuk kedua orang tuanya.

“Aduuuh anak gadis emak paling rajin dan paham sama orang tuanya”, kata Ida.

“He…..he…..he nanti kak Adi dengar marah lho mak, kan dia juga anak emak”, kata Gita.

“Eh….. iya samua anak emak disayangi amat sangat”, sahut Ida cepat-cepat sambil mencium dahi Gita.

Kata-kata bermanja antara orang tua dan anaknya berlangsung hangat. Rahmat dan Ida mulai menikmati teh hangat, mereka berdua duduk diam dengan masing-masing fikirannya. Angin malam mulai terasa menyentuh tubuh mereka.

“Pak, masuk yo pak, sudah mulai dingin anginnya, dan perut sudah terasa lapar”, kata Ida.

“Ya sudah yo mak”, jawab Rahmat.

Secara bersamaan mereka masuk rumah, mereka melihat meja makan hanya ada nasi hangat, ada lauk tempe dan tahu serta kerupuk. Sayur memang Ida belum masak dan biasanya memasak sayur dibantu Gita.

“Sebentar saya masuk dulu ya pak, masak sayur lodeh saja yang cepat, kebetulan bahan sayurnya tadi saya beli di pasar”, kata Ida pada saat melihat Rahmat baru pulang kerja.

“Gita, bantu mama sebentar ya nak, masak sayur”, kata Ida kemudian sambil melirik kearah Gita.

“Baik mak, siaaaap”, jawab Gita.

Mereka berdua, kemudian langsung terlibat kerjasama di dapur. Dan mulailah adonan dijerang di kompor. Keduanya langsung menyiapkan diri ke kamar mandi.

“Ta, emak mandi dulu ya nak”, kata Ida.

“Iya mak, sementara masakan sayurnya saya tunggu supaya tidak meluap”, kata Gita.

Adi masuk dapur, dan berkomentar,

“Uih, baunya sayur lodeh ni, lapar aku Ta”, kata Adi.

“Gita tahu kak Adi sudah laparrrrr, tapi tahan sebentar ya, he……he….”, gurau Gita.

“Sebentar emak lagi mau mandi, tadi aku menuangkan air panas untuk emak, sudah malam biar mandi air hangat”, kata Gita selanjutnya.

“Ini menuangkan air lagi untuk bapak”, kata Gita lagi.

“Lalu apa yang bisa aku bantu”, Adi berkata.

“Makan he……he….”, Gita menyahut sambil tertawa cekikikan pelan.

Masing-masing anggota keluarga mulai menyiapkan diri untuk menikmati makan malam bersama. Didahului Ida yang menyiapkan meja makan, disusul anak-anaknya dan suaminya menyusul untuk duduk mengelilingi meja makan. Dan selanjutnya berlangsunglah  kegiatan makan malam keluarga dan bersamaan dengan itu masing-masing anggota keluarga mengeluarkan persoalannya yang dialami pada waktu siang harinya. Dan Rahmat, ayah mereka dengan tangkasnya memberikan jalan keluarnya.  Setelah menunggu satu minggu,

“Pak, mak, besok pagi aku akan mengambil paspor ke kantor imigrasi, mudah-mudahan berlangsung cepat”, kata Adi.

“Oh ya, ambil saja Di,” kata Rahmat dan Ida hampir bersamaan.

Selesai makan, berbondong mereka berjalan ke ruangan keluarga di depan televisi. Itulah rutinitas keseharian mereka.

Keesokan harinya Adi mulai naik bis kota menuju ke kantor imigrasi. Sampai di kantor imigrasi Adi langsung menuju meja pegawai imigrasi yang akan menyerahkan paspor masing-masing penduduk yang memerlukannya. Pegawai imigrasi menyerahkan dengan memanggil nama-nama penduduk yang akan memiliki paspornya.

Termasuk Adi yang akhirnya  sudah mendapatkan paspornya, dia periksa dulu keterangan yang ada di paspornya sesuai petunjuk pegawai imigrasi supaya kalau ada kesalahan dapat segera diperbaiki. Ssemua tertera dengan baik dan cocok dengan identitas kependudukan Adi. Segera ia berterima kasih dan meninggalkan meja pegawai tadi yang segera memanggil nama penduduk berikutnya. Adi segera meninggalkan kantor imigrasi menuju halte bis untuk menuju pulang ke rumahnya. Begitu bis kota datang Adi segera naik bis, duduk dan diam melamun, pikirannya kembali teringat acara perpisahan pelajar SMA-nya.

”Perpisahan pelajar hanya sekali dalam hidup, benar juga kata si Jaki. Ah aku akan ikut saja, mengenai pakaian yah seadanya saja, pakai yang lucu-lucu saja. nanti akan aku pikirkan bersama Gita, dia lebih tahu kalau soal-soal pesta”.

Sementara melamun bis kota sudah sampai di muka halte dekat gang menuju rumahnya. Adi turun dan segera bergegas ke rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, perut lapar. Rumah terlihat sepi, adiknya, Gita, kelihatannya belum pulang. Akhirnya Adi makan sendiri dengan lahapnya, selesai makan Adi duduk istirahat diteras rumah menunggu adiknya pulang. Memang tidak lama kemudian Gita pulang berombongan dengan teman-temannya yang rumahnya berdekatan dengan rumah keluarganya.

“Ta, tuh kak Adi sudah menunggu kamu, kakakmu ganteng Ta,” kata teman perempuannya.

“Ih kamu yang dilihat pria tampan terus”, kata temannya yang lain.

“Kan normal, aku kan gadis, kalau senang melihat pria kan biasa”, jawab temannya cepat.

“Iya, iya kalian kan sudah kenal”, jawab Gita.

Gita mulai membuka pagar halaman rumahnya dan sekalian melambaikan tangannya kepada teman-temannya.

“Ayooo, sampai ketemu besok pagi ya”, kata Gita sambil melambaikan tangannya kepada teman-teman sekolahnya.

“Ta, teman kamu yang rambutnya dipotong pendek itu cantik”, kata Adi kepada Gita menyambut kedatangan adiknya.

“Oooo, itu si Angela, memang dia termasuk primadona di kelas aku”, kata Gita.

“Kak Adi tertarik padanya”, tanya Gita memandangi muka kakaknya sambil menaik – turunkan alisnya.

“Eeeeh, biasa saja  Ta, kan sama-sama masih sekolah”, jawab Adi.

Keduanya segera masuk rumah dan malanjutkan kegiatannya masing-masing. Karena hari sudah menjelang sore, Adi menyapu halaman tumahnya. Sambil menyapu halaman Adi melamun  “ Akan berpakaian apa ya nanti kalau acara perpisahan di sekolahnya, pokoknya yang lucu, aaah biar Gita saja nanti, dia punya rancangan apa aku nurut aja”.

Sore hari kedua orang tua mereka mulai datang, kedua anaknya menyambut kedatangan mereka.

“Uuuuh bis kotanya penuh, tapi semuanya bisa duduk kok’, kata Ida

“Ada yang mengamen mak”, tanya Gita.

“Kebetulan tidak ada Ta”, jawab Ida.

Rahmat, Ida, Adi dan Gita segera membersihkan diri masing-masing mmpersiapkan diri untuk makan malam di meja makan sederhana, pusat pertemuan keluarga sesudah masing-masing anggota keluarga menjalani kehidupannya sesuai peranan mereka dalam keluarga, yang bekerja mencari dana untuk kelangsungan hidup keluarga, yang m,encari ilmu untuk hari depannya, ya begitulan roda kehidupan berputar.

Seperti biasanya pertemuan keluarga terjadi pada waktu makan malam dan Adi menceritakan kepergiannya ke kantor imigrasi kepada keluarganya untuk menghambil paspor.

“Ooo, paspor itu seperti buku kecil ya”, kata Gita.

“Coba-coba bapak lihat” kata Rahmat seraya meminta paspor tersebut.

“Oooo iya ini ada foto Adi dan uraian tentang diri Adi, ada dua bahasa ya Di, bahasa Inggris dan bahasa kita, terus lembar-lembar di belakang ini untuk apa ya”, tanya Rahmat.

“Kata orang di kantor imigrasi tadi, itu tempat tanda tangan dan stempel negara yang kita tuju, setiap kali kita memasuki negeri orang, maka petugas imigrasi negara tersebut menandatanagi dan memberi stempel di lembar yang kosong, itu tanda ijin masuk ke negaranya”, kata Adi menjawab pertanyaan Rahmat.

“Iya-ya, tidak seperti Kartu Penduduk kita”, kata Ida.

Pada saat mereka tengah mengobrol Adipun teringat dengan acara perpisahan di sekolahnya. Mulailah semangatnya untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Ada kebesaran hati di dadanya, tidak seperti kemarin yang diingatnya hanya keadaan kemampuan keuangan keluarganya yang mengalami kesusahan kalau harus mendukung Adi untuk meneruskan pendidikan. Di tengah-tengah makan bersama keluargnya Adi memaparkan maksudnya,

“Oh ya pak, mak Adi akan mengikuti perpisahan sekolah Adi. Di sekolahku, ada acara perpisahan hari minggu, temanya pesta kostum karakter dongeng”,  Adi melanjutkan kata- katanya sambil menikmati masakan Ida yang hanya tahu dan tempe.

“Iya Di, emak sarankan, kamu ikut saja. Kenangan itu hanya sekali, Di…, apalagi kamu akan berangkat ke tempat yang jauh”, Ida melanjutkan bicaranya.

“Yah aku pasti akan ikut, tenang saja mak”, sahut Adi berbicara dengan gaya santai.

“Lagipula, kalau tidak ikut kapan lagi, seperti kata emak namanya perpisahan SMA itu merupakan acara yang hanya sekali dalam hidup”, Rahmat menimpali dan Adipun hanya tersenyum sambil ngunyah makanan.

“Kak, kalau soal pakaian nanti aku usul yang lucu-lucu. Tapi ngomong-ngomong temanya dongeng apa”, kata Gita.

Adi mendesah sambil matanya melihat ke udara, dan berkata

“Masalahnya gini lho Ta, temanya adalah kostum dongeng, dan setiap dongeng pasti memiliki pasangan, lha aku kan tidak punya pasangan”, Adi menceritakan isi hatinya.

“Kak Adi kan bisa memakai kostum yang tokohnya hanya sendiri saja” Gita mengusulkan,. Desiran perasaan halus merasuk ke dalam perasaan jiwa Adi, dia menunduk dalam.

“Yang benar saja…, mana ada tokoh dongeng tanpa pasangannya”, Adi mengeluh.

“Kalau begitu pakai saja,….  kalau tidak salah,…hmm apa ya, bingung aku Ta, kan kamu tahu itu cerita si upik abu dia memiliki pangerannya sedangkan si cantik juga ada pasangannya meskipun buruk rupa, jadi yang tidak ada pasangannya siapa ?”, Adi bersedekap sambil mendesah nafas.

“Ohh, begini saja prianya raja hutan itu saja, kan tidak punya pasangan”, kata Gita dan Adi menjadi menggaruk kepalanya.

“Eh ada Ta, raja hutan juga ada pasangannnya, tapi yang benar saja aku berpakaian seperti itu, nanti mereka anggap aku gila”,  Adi memberikan komentar

“Kalau begitu aku berkata tidak saja, biar tidak banyak berdebat”, Adi meneruskan kalimat kata-katanya dan rasanya juga, sulit untuk mengucapkan apalagi kepada mereka dalam pikiran Adi tentang dirinya sendiri.

“Ah kak Adi, makanya punya pacar”, kata Gita melanjutkan

“Pacar ? itu si Angela, teman kamu, kamu tanya mau tidak pacaran denganku, cuma dalam acara perpisahan saja ha…ha…ha”, kata Adi sambil ketawa.

“Iiih enak saja, bicara saja sendiri sama Angela”, kata Gita

Demikian percakapan mereka dimeja makan, Adi berdiri untuk meninggalkan kursi dan masuk ke dalam kamarnya, masalah pasangan itu semakin menekan pikirannya. “Aku yakin, kalau nanti perpisahan mereka akan berpikir hanya aku yang datang sendirian tanpa seorang pasangan. Ah biar saja memang seiring berjalannya waktu pasti aku juga akan mendapatkannya”. Dia mendesah menahan nafas dalam, sambil memijit kepalanya di ranjang, sedikit pusing.

Di dalam kamarnya Adi mendengarkan lagu “When Will My Life Begin” sebuah lagu dari Mandy Moore. Hatinya bertalu bagai gendang tidak keruan, dentumannya sangat kuat menggema di hati dengan apa yang dirasakannya meresapi lirik lagu tersebut, kemudian berpikir tentang teman – temannya, yang selalu mengatakan soal dirinya belum pernah pacaran.

“Yah, aku akan melewatkannya, dan sudah waktunya aku bersenang-senang, orang juga butuh hiburan, hanya saja, aku berpikir mereka terlalu banyak menyinggung masalah pacar secara berlebihan kepadaku, memang mereka mau  cepat – cepat nikah, dasar…memangnya mereka ingin nikah muda kali yah…”. Adi berpikir sambil tertawa dari dalam hatinya.

“Yah…, cinta memang perlu dalam hidup, tapi tidak mungkin jika ada cinta tanpa sebuah kehidupan sebagai pelengkapnya, cinta itu bisa sambil berjalannya waktu, ahhh…, sudahlah cinta itu rahasia Tuhan, nanti dia akan datang sendiri kalau sudah waktunya”.

Dia kembali bicara dalam hatinya. “Lebih baik mereka akan mendengarkan ceritaku tentang pengorbanan hidupku, namun rasanya kalau begitu banyak bicara sekali kalau dengan Jaki aku cerita apa saja dalam hidupku dengannya dan semua isi hatiku, hanya dia yang tahu, dibanding teman – teman lainnya walau akhirnya mereka akan tetap tahu dengan sendirinya, karena keadaanku tidak bisa dibohongi juga”

Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur bermaksud tidur, tetapi diantara jutaan hati yang bergumul resah bercampur aduk di jiwanya semakin memberati pikirannya, membuat Adi semakin tidak bisa tidur. Hatinya memang sedang galau. Di tengah malam Adi yang susah tidur, keluar kamar dan di tengah ruangan, dia melihat Gita belum juga tidur masih duduk di depan Tv melihat acara film yang sedang berlangsung. Pada akhir kisah  roman percintaan dalam film itu menampilkan adegan rasa sedih, karena akhirnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Gita menonton film itu dengan serius, dan Adi duduk disebelahnya, sambil ikut menonton menemaninya.

“Film apa ini”? dia bertanya sambil melirik.

“Tidak tahu kak…, tapi bagus ceritanya dan aku sepertinya suka”, Gita memberikan komentar pada film yang ditontonnya. Adi mengangguk karena dia seperti akan menyukai alur cerita dalam film tersebut, pada saat mengikuti jalan ceritanya, walau  baru saja setengah menonton.

“Pacarnya gadis itu, meninggalkan dia di kamar itu…” Adi memberikan komentar pada film itu lagi.

“Yah…., begitulah sudah tidak usah banyak komentar kita tonton saja filmnya” Gita menimpali dengan sebal, karena Adi terlalu sering komentar kalau nonton film, kadang – kadang kebiasaannya dia memberikan komentar sambil bicara sendiri kalau sudah ada adegan yang sangat seru.

“Belum tidur kak ?” tanya Gita setelah tersadar kakaknya ada disampingnya

“Aku belum bisa tidur Ta”, Adi menjawab sambil duduk di sisi kanannya.

Adi meraih remote TV di meja, untuk mematikan Tvnya pada saat acara film itu selesai, dan Gita bersedekap wajahnya mulai cemberut, matanya melirik kesal kearah Adi.

Adi, membalas tatapan itu dengan cengiran di bibirnya, kemudian tertawa pelan sambil membalas tatapannya.

“Jelekkkk…, sekali wajah kamu kalau marah ha….ha…ha” dia mulai meledek

“Dasar yah, orang tidak jelas…” Gita membalas ledekan itu dengan wajah menggerutu, kemudian dia berjalan pergi ke kamarnya. Adi menaruh remote tv itu kembali keatas meja, kemudian pergi ke kamarnya, dia mulai menarik selimutnya, rasanya ingin memejamkan mata dengan cepat tapi masih terasa sulit

“Kalau malam hari tiba, aku selalu berdoa pada Tuhan jika esok adalah hari yang lebih baik lagi” dia berkata dari dalam hatinya.

“Biarkan, saja aku terbang bagai kupu – kupu yang mampu dengan mudahnya, akan hinggap kemana saja, untuk menjalani sebuah angan dan harapan dalam hidupku, agar bisa menjadi orang yang bisa membantu keluargaku kelak” Adi berkata dalam hatinya lagi tapi terusik oleh Galih tetangga yang tinggalnya di depan rumahnya.

Pasangan suami istri tetangga Rahmat dan Ida yang memiliki anak laki – laki sebaya dengan Adi, bernama Galih, terlihat sebagai anak yang lebih mudah bergaul dengan orang-orang di sekitar gang tersebut, penampilannya anak itu senang memakai kaos berwarna hitam atau putih serta celana pendek, dan rambutnya selalu pony disisir cepak

“Adiii”!! Galih berteriak dari pintu.

“Galih, sedang dirumah saja”? Adi menyebut namanya sambil bertanya, dan menengok ke belakang.

“Aku mau mengajak adikmu jalan bolehkah”? tanya Galih.

“Ha…ha…ha boleh sajalah, tapi rundingkan sendiri saja. Aku tidak tahu dia mau apa tidak”, Adi berbisik agar Gita tidak mendengarnya, namun sebenarnya dari kejauhan Gita sudah mengupingnya hanya saja pura-pura tidak tahu.

“Kalau saja kamu bukan anak tunggal, paling tidak punya saudara perempuan”, mata Gita mengarah pada Adi pada saat mengatakannya, iapun tahu isyarat tersebut. Maka Adipun langsung berubah, matanya setengah melotot kearah Gita.

“Kamu tidak perlu menyindir seperti itu”, Adi menggerutu.

“Bukan menyindir hanya mengatakan yang sebenarnya”, Gita berkilah sambil mengibaskan tangannya ke udara, dan satu tangannya lagi terus menekan – nekan remote Tv.

“Jadi kamu jadi mau jalan denganku atau tidak”? Galih mengulangi kalimatnya kembali.

“Oke, kak Galih mau ajak aku kemana”? Gita menimpali sambil melangkah menyusul Adi

yang berdiri di depan pintu.

“Paling hanya jalan-jalan di sekitar sini saja yang dekat”, wajah Galih nampak memohon kepadanya.

“Oke, kalau begitu aku ganti baju dulu”, kata Gita memutar badannya kearah kamarnya, kemudian menoleh kearah Adi yang berada di belakangnya.

“Dan satu hal lagi, kalau ingin pacaran dengan adikku, harus benar ya”, kata Adi sambil bercanda.

“Aku janji akan serius”,  Galih tertawa kecil.

“Aku pegang ucapanmu, karena dia adalah adik perempuanku satu – satunya”? Adi bersedekap sambil berkata pelan, sementara mereka mengobrol, Gita sudah keluar kamar dengan mengenakan kaos kemeja berwarna merah serta celana biru, ia sudah siap mencangking tasnya di pergelangan tangan kanannya

“Aku pamit  keluar rumah Kak, kalau nanti emak dan bapak menanyakan pergi kemana, bilang saja aku jalan dengan Galih”, Gita mengibaskan sekali tangannya ke udara sambil menutup pintu rumahnya.

Adi kembali duduk di depan Tv, sambil memainkan remote Tvnya, kemudian Ida baru saja keluar kamar dan melihatnya sambil mengernyitkan kening.

“Gita dimana?” tanya Ida, dan dia berdiri dari arah samping kiri, lalu berjalan sedikit untuk duduk disebelahnya.

“Dia baru saja keluar dengan Galih”, jawab Adi, tangannya sambil terus menekan – nekan saluran Tv.

“Tumben hari ini acaranya sedang tidak menarik” Adi gerutu.

“Kita nonton berita saja, siapa tahu ada hal yang penting”, Ida mengambil remote Tv ketika Adi sudah menaruhnya diatas meja.

“Waktu itu siapa saja yang dapat beasiswanya, mungkin kamu bisa punya teman barengan pergi kesana ?”, tanya Ida.

“Ohh, lumayan, tetapi tidak banyak mak dan hanya aku yang mendapat bea siswa ke Singapura”, Adi menjawab sambil menengok kearah Ida dengan tersenyum. Tiba – tiba saja bunyi Hp terdengar dari dalam kamar, dan Adi langsung masuk ke dalam untuk mengangkat di nama kontak tertera nama, Jaki.

“Di.., aku sebentar lagi akan sampai dirumahmu”, katanya sambil mematikan telepon kembali. Dari suara seberang telepon terdengar bising suara di jalan, nampaknya Jaki sedang di dalam perjalanan. Tidak lagi dari Jaki menelepon Adi, tiba – tiba saja ada suara laki – laki diluar kamar, Adi langsung membuka pintu sedikit. Melihat orang itu duduk di teras rumah, dan Adi langsung menyusulnya.

“Mobil kamu sudah dikunci, takut saja tidak aman”, Adi mengingatkan temannya, karena Jaki memiliki model mobil yang bagus.

“Yah sudah, Di…” dia mengangguk sambil sedekap.

“Jak, ayo masuk rumah saja”, Adi mempersilahkan Jaki. Adipun langsung mengajak duduk di depan TV.

“Di komplek perumahanku, justru malah parah, kemarin baru saja ada tetangga persis sebelah rumahku, orangnya rumahnya dirampok dan yang jadi korban adalah pembantunya”, Jaki bercerita.

“Mereka sedang keluar rumah semua begitu ?”, raut wajah Adi sangat antusias mendengarkan ceritanya.

“Yah begitulah, dan mereka sedang liburan ke luar negeri, yang aku dengar desas – desusnya selama seminggu belakang ini”, Jaki menambahkan ceritanya dengan suara sangat menggebu. Adi memandangnya dengan sorot mata yang berbeda sekarang.

“Jangan – jangan itu kamu”, Adi tersenyum sambil berguman pelan.

“Ya ampun Di,  seperti aku ini kurang kerjaan saja”,  suara Jaki meninggi.

“ Cuma bercanda Jak, ha…..ha……”, kata Adi sambil tertawa.

“Lalu kemana Gita ?”, tanya Jaki, dia melihat kearah rumah di sekelilingnya, biasanya adiknya itu memang sering terlihat di depan Tv dibanding Adi.

“Dia sedang jalan dengan tetanggaku, Galih…, anak laki – laki itu kadang kalau bosan dirumah suka menghampiri Gita untuk jalan berdua” Adi bercerita.

“Dan kamu sendiri ?”, raut wajah Jaki, seolah berubah melihat dirinya yang masih sendiri dengan cengiran kecil.

“Ha….ha….ha, santailah Jaki nanti ada waktunya sendiri”, jawab Adi sambil tertawa, gerakan tubuhnya mengisyaratkan kalau dia belum berpikir sepenuhnya tentang pacar, dan baginya hidup lebih baik dijalani saja.

“Kamu tidak mau dengan Diah anak IPA itu…?” Jaki bertanya padanya.

“Aaaaah……untuk kamu saja Jaki…..”, Adi menjawab santai.

“Setidaknya, biar dia bisa menemani kamu pada saat acara perpisahan”, suara Jaki akan sedikit ditinggikan kembali.

“Yah…, asal dia mau saja menemaniku”, Adi menaikan alisnya sedikit sambil duduk di sofanya.

“Memang, kamu tidak ingin mencari teman wanita apa.?” Jaki menatap dirinya serius, Adi hanya tersenyum kemudian berjalan kearah dapur, untuk membuatkannya minuman, satu tangannya membuka laci yang berada diatas wastafel untuk mengambil gelas, kemudian dia membuka lemari disebelah kompor untuk mengambil teh lalu menyeduh untuknya.

“Kamu, jangan berpikir seperti orang kebelet nikah begitulah Jak…., kita sendiri saja baru lulus SMA”, Adi menasehati dirinya dari arah dapur, Jaki melirik dirinya, sambil menekan remote TV di tangannya.

“Mana tahaaaaan, kamu sendiri terus, belum pernah pacaran satu kalipun, tidak ada teman wanita atau pacar untuk bisa bermesra – mesraan, kalau sedang di kantin atau di jalan” Jaki berkata heran, dengan jalan pikiran Adi yang nampak santai tentang cinta.

“Yah…., itu mah namanya mengumbar kemesraan…” Adi memberikan pendapatnya. Dia berjalan sambil membawa gelasnya kearah sofa ruang TV dan menaruhnya diatas meja, Jaki meminum airnya.

“Yah…., pendapat kamu benar juga kita baru lulus SMA, masalah cinta bisa seiring berjalannya waktu nanti ” Jaki menambahkan kalimat pembicaraan lagi.

“Tapi, memang kamu sudah merasakan apa rasanya cinta ?”, Adi memandang temannya dengan rasa ingin tahu apa yang ada dalam dirinya.

“Aku sama seperti dirimu, kamu berpikir aku sudah punya pacar…ha…ha…. ”, sahut Jaki sambil ketawa.

“Barangkali”, mata Adi mencoba menebak diri Jaki.

Di tempat yang berbeda, Gita berjalan bersama Galih di sekitarnya ada beberapa toko, tepat di hadapan Gitapun ada tulisan “The Catwalk” serta toko dengan nama “Play” ia berjalan agak merunduk sebentar.

“Kak Galih sendiri akan kuliah dimana ?” pertanyaan Gita membuka percakapannya yang sebenarnya untuk sejenak menenangkan hatinya yang sedang sedikit gugup berjalan berdampingan dengan Galih.

“Ah, kalau aku sendiri keberuntunganku hanya mengambil jurusan Ekonomi di Jakarta saja, tidak seperti kakakmu” dia berkata dengan santai.

“Keberuntungan itu bukan kehebatan Kak Galih, tapi adalah jerih dari hasil yang dikerjakan selama ini, dan perjuangan orang sama saja, hanya saja hasilnya yang didapatkan itu berbeda, tapi apa yang ingin diraihnya itu sama. Hidup untuk sukses !” perkataan Gita terdengar tajam yang sangat mengena di hati Galih, dan membuatnya terdiam sambil tertunduk.

“Apa yang dikatakan Gita, seakan menyelipkan sedikit kata yang membangkitkan aku mengingat cerita hidupku sendiri”, pikiran Galih sedikit terkecoh, dengan tatapan mata Gita yang seakan hendak membaca isi jiwanya.

“Aku tahu, kak Galih sedang berpikir tentang apa yang aku bicarakan barusan”, Gita menebaknya.

“Kita makan dulu, setelah itu baru aku antar pulang”, Galih menawarkan diri, semakin lama bersanding dengan Gita, hati yang dirasakan oleh Galih semakin kuat, bagaikan apa yang diucapkan tidak mau hilang dari sanubarinya.

“Kehebatan itu bukan dipandang dari luarnya, kalau kak Galih berpikir demikian. Berarti Kak Galih tipe laki-laki yang hanya mau terima bersih dari seseorang yang menjadi pasangan kak Galih nantinya.” Gita mengamati sikapnya, yang seperti ada getaran kuat, dia menghela nafas sambil menunduk.

“Setelah makan, kita nonton sebentar ?” tawaran Gita, membuat Galih membelalakan matanya.

“Kamu ingin, kalau aku sampai dihajar oleh kakakmu”, dia bersedekap, pandangan matanya seraya dilayangkan ke udara.

“Ini baru setengah delapan malam”, Galih memperlihatkan angka di jam tangannya, dan Gita setelah melihat angka di jam tangan Galih dia melihat kearah samping kanan tatapannya sayu melihat pada sebuah toko yang menjual pakaian perempuan remaja.

“Iyah, oke kita nonton setelah makan”, akhirnya Galih menyetujui, Gitapun tersenyum kepadanya. Kemudian mereka melanjutkan langkah kakinya, suara gemerisik dari toko yang menyalakan musik dengan jenis semangat membuat suasanapun menjadi ramai.

“Aku yakin, kamu pasti lebih sering dirumah” kata Galih sambil melihat kearah kanan.

“Bukannya kamu juga sama seperti itu”, Gita mendongak keatas melihat kearah wajahnya, sambil memandang lurus. Di depannya ada dua pasangan juga sedang bermesraan mereka bergandengan tangan, lalu tangan Galihpun mulai meremas jemari Gita yang semakin menunduk dalam.

“Kak Galih, mudah – mudahan, kalau tujuanmu ini direstui oleh Kak Adi”, Gita menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali.

“Jangan sampai juga kalau kakakmu itu terlalu orang yang overposesif”, Galih memulai pembicaraannya lagi.

“Sudahlah kita makan ditempat itu saja ayoo..!” tanpa sengaja, pergelangan tangan Gita menarik tangannya, kemudian Galih menjadi menengok kearahnya, sorot mata Gita menjadi lebih tajam dari sebelumnya melihat kearahnya.

“Ya ampunnnn….!!!” tiba – tiba saja, Galih justru malah berteriak keras, Gita menjadi melepas pergelangan tangannya, kemudian menengok kearah ke belakang Gita.

Dua pasangan sedang bertengkar mengalihkan perhatian mereka yang sedang saling berpandangan satu sama lain, seorang wanita memakai pakaian hitam dengan dibalut syal di lehernya bermotif bunga lili kecil berwarna putih dengan warna dasar abu – abu muda. Dia nampak terlihat marah sekali, bahkan mengeluarkan air mata sambil menampar wajah prianya yang hanya diam saja.

“Sudahlah tidak perlu dilihat, kita lanjut ke tempat makan saja” Galih mengibaskan tangannya.

Mereka masuk ke dalam restoran Jepang dan diatas bertuliskan “Yaruka” ada berderetan tempat duduk berwarna hitam. Gita duduk di hadapan Galih. Pada saat itu, dia mendapat telepon dari Adi.

“Yah Kak…, aku baru saja makan”  Gita menyahutnya, dia mengobrol di telepon sambil membuka menu makanan yang ada di meja.

“Ohh.., aku juga masih mengobrol dengan Jaki dirumah. Sambil beli minuman hangat, ada orang berjualan wedang jahe tepat gerobaknya berhenti di depan pintu rumah kita”,. Adi mengakhiri teleponnya, kemudian menghadap kearah Jaki yang sedang menyuap dengan sendoknya sambil meneguknya wedang jahenya.

“Dia masih dengan pemuda itu ?” Jaki bertanya tanpa menoleh kearah Adi.

“Iyah, katanya sekaligus mau nonton film. Yahhh.., kalau saja aku juga bisa begitu” Adi mendesah sambil menaikki bahunya sedikit.

“Aku memang belum punya cinta, tapi kita tetap harus berjalan juga untuk mengarungi hidup ini, lagipula aku belum terlalu memikirkannya”, dia menambahkan lagi kalimat pembicaraannya.

“Jangan terlalu bersikap cool begitu, aku tahu kalau semua manusia butuh cinta…”, Jaki menasehatinya dengan nada suara yang mengena di hati Adi, namun dia tertawa pelan tapi ekpreksi wajahnya memahami perkataan Jaki, iapun berkata

“Ha…, ha…, ha yah itu memang benar, tapi laki – laki juga harus punya pekerjaan dulu”

“Dasar…., kamu ini betah sekaliii menjadi laki – laki yang belum punya pacar, dimana-mana yang namanya laki – laki itu tidak tahan kalau melihat perempuan cantik jelita seperti bidadari….” Jaki meledeknya, dan hal itu adalah yang kerap dilakukannya kepada Adi, namun dia selalu menanggapi dengan bijak.

“Mata keranjang itu mah namanya…” Adi memberikan pendapatnya.

“Apalagi ya…..kalau penampilannya seperti selebriti….”, Jaki menambahi kalimat yang dibicarakan dengan nada suara menggebu – gebu.

“Matre itu mahhh…, namanya juga”, Adi memberikan pendapatnya lagi.

“Yang cantik itu bukan hanya dari luarnya tapi hatinya.., tapi laki – laki kalau cuma bermodalkan wajah tampan tidak punya uang, bagaimana bisa menghidupi keluarganya…”, pendapat Adi yang satu ini, membuat Jaki akhirnya terdiam, tetapi wajahnya mengekpeksikan kalau dia kagum dengan sifat dewasa temannya itu.

“Baiklah kawan.., aku menyerah berdebat denganmu”, dia menepuk bahunya, usia Adi memang baru tujuh belas, tapi cara pemikirannya sudah lebih jauh kedepan daripada usianya sendiri, penyebabnya karena adanya keadaan ekonomi keluarganya, dalam hatinya saat inipun Adi sedang berpikir tentang hidupnya.

“Burung gagak tidak akan pernah lelah untuk mencari mangsa, sampai dia berhasil mendapatkannya walau harus terbang ke tujuh langit sekalipun…, bahkan tanpa sadar sudah berada di luar angkasa…, karena kepakan sayapnya terlalu menggebu di udara, dan aku tidak akan lelah dengan segala tenaga yang kukuras meski keringat mengucur untuk bertahan hidup”

     “Adi, aku pamit pulang dulu.., ini sudah jam sepuluh malam”, suara Jaki berpamitan membangunkannya ditengah hanyut dalam lamunan, Adipun tersentak dengan terlonjak menatap dirinya terbelalak.

“Oh, tidak menginap saja dirumah ?” Adi menawarkannya, Jaki sudah membaca pikiran Adi tentang situasi akhir – akhir ini di jalanan kota tempat tinggal mereka.

“Begal…, maksudmu, ada perampok begitu ?” Jaki seolah menembus isi kepala Adi, yang berdiri lebih dulu kemudian memutar badan berada di posisi berhadapan dengannya.

“Yah, apalagi mobil kamu bagus”, tercermin rasa khawatir Adi.

“Mudah – mudahan, aman – aman saja di jalan”, Jaki meyakinkan dirinya.

“Lagipula, mobil kamu kan parkir persis didepan gang disini, jadi aku bisa menitipkannya dengan tetangga”, Adi menyela dengan cepat, secara kebetulan Gita baru saja sampai dirumah, dia menutup pintu rumahnya.

“Pantas, aku tadi melihat ada mobil parkir persis didepan gang”, Gita meihat kearah Jaki.

“Begini, aku pulang saja, mudah – mudahan baik – baik saja di jalan”, Jaki mencoba menenangkan rasa kekhawatiran Adi padanya.

“Oke.., oke”, akhirnya Adi mengalah, dia membalikkan badan untuk berjalan kearah kamar orang tuanya untuk mengetuk pintunya perlahan kemudian dari luar pintu Adi berkata sedikit keras,

“Mak, pak ……. Jaki mau pulang ?” Adi memberi tahukan, lalu Rahmat dan Ida keluar kamar untuk menemui teman Adi, pemuda itupun berpamitan dan mencium tangan kedua orang tua Adi sebagai sikap hormat.

“Malam – malam begini…?” kecemasan juga tercermin dari wajah Ida.

“Menginap saja dulu, nanti biar saya beri tahu tetangga untuk dititipkan mobilnya, maksudnya agar diawasi”, Rahmat menyela perkataan Ida.

“Tidak apa – apa, aku pulang saja. Lagipula kalau mau menginap aku belum pamit dengan orang tua”, Jaki menyimpulkan senyuman kepada mereka, seraya melambaikan tangan menuju keluar rumah.

Adipun, masuk ke dalam kamarnya, Gita ikut menyusulnya untuk menceritakan pengalamannya bersama Galih barusan.

“Bagaimana tadi jalan seharian.., ciyeee” Adi menggodanya.

“Biasa saja kak…, yah hanya makan dan nonton” Gita menyalakan kipas angin di dekat tempat tidur diatas meja kecil.

“Tapi kamu sudah sesorean dengan seorang laki – laki di jalan dan itu kamu tahu tandanya, cinta itu bisa datang dalam satu peristiwa”, kata Adi menambahkan kata – katanya.

“Lagipula, Kak Adi sendiri kenapa menolak dengan Angela kalau begitu, mumpung dia masih belum punya pacar juga”, Gita tersenyum nyengir.

“Gitaa…,kalau kamu terus – menerus meledekku, awas yahh !!” Adi mengancam sambil bercanda kemudian berdehem sejenak, terlihat dia mulai merebahkan kepalanya di bantal, Gitapun keluar kamar, sambil menutup pintu dengan hat-hati agar tidak menganggu kakaknya yang akan beristirahat, sejenak sebelum memejamkan mata pikiran Adi mengambang mengenai hidupnya.

“Aku bukan orang buta, atas kehidupanku sendiri. Dan aku juga bukan anak yang masih berumur tujuh tahun.., keajaiban setiap orang punya hak untuk memilikinya, tapi tidak mudah menembusnya. Dia ada di belahan langit sebelah utara, tapi harus naik pesawat dulu untuk kesana, kalau dia ada dibalik pohon rimbun, maka harus mencarinya di tengah suara malam yang menakutkan, walau harus berhadapan dengan singa buas sekalipun” Adi berhalusinasi berputar seperti kotak musik, sambil merebahkan tubuh menghadap ke samping melihat jendela kamar yang terbuka.

“Bahkan, masuk ke dunia khayalanpun tidaklah mudah, ada beberapa syarat yang harus ditempuh, dan jika syarat itu tidak dipenuhi dunia khayalan itupun hanya akan jadi angan semu. Dimana orang – orang bertanya dimana pada hal yang tidak masuk akal menjadi masuk akal, karena jawabannya adalah dalam hati, saat merasakan keyakinan untuk percaya walau mustahil tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini.

Matanya mulai redup memandangi jendela kaca kamarnya, kemudian ditariknya selimut untuk mencoba memejamkan mata walau rasanya sulit.

Suara kokok ayam, terdengar nyaring, perlahan Adi membuka matanya, jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dia melihat ke arah jendela, sinar mentari telah menembus selanya dengan warna biru cerah dilangit, Adi menguap sebentar, sambil turun dari ranjang, lalu merapikan kasur dan selimut. Udara pagi yang menyehatkan perlahan menerpa dari sela tiang – tiang jendela yang pintunya dibuka.

“Kakkk berangkat ya….” suara Gita terdengar dari luar kamar.

“Okeee” Adi menyahutnya.

Dia mulai mengeluarkan pakaiannya satu demi satu untuk disusun, tiba – tiba saja pikirannya melintas kembali tentang pesta kostum tersebut. Rasanya sulit untuk pudar dari putaran otaknya. whatsapp dari Jaki kembali menjerit. Adi mendiamkan saja, mengira ia akan membahas masalah pesta kostum lagi pada Adi, tapi teryata tidak.

“Di…, nanti siang kita ambil ijazah, dan aku ingin bicara padamu”, bunyinya terdengar serius, Adi sudah menebak dia akan membicarakan apa.

“Baik Jak”, jawaban Adi hanyalah singkat padanya. Mungkin Jaki akan mengira Adi marah dengan percakapan di WhatsApp sebelumnya, tapi sebenarnya hatinya gelisah tidak keruan, berkecamuk di dada dalam tulisan tidak jelas. “Maafkan, aku teman aku tidak bermaksud apapun, aku hanya ingin…, tidak ingin menjadi beban untuk semua. Kalau saja aku melakukan yang sama dengan orang tuaku, serupa juga dengan sahabatku. Jaki kamu orang terlalu baik selama ini, aku memang tidak pernah meminta padamu, tapi kamu selalu memberinya, dan kamu tahu sebenarnya perasaanku tidak enak setiap kali kamu membayari aku uang makan di kantin”. Pikiran semakin kalut, dia menutup lemari kembali sambil menjatuhkan tubuh duduk bersandar, menerawang ke udara menatap langit kamar. Kegalauan mengguncang tubuhnya, bagai batu menindih dirinya hingga tidak bisa bergerak.“Jadikan, aku sebagaimana mestinya lelaki dalam keluarga ini, peganglah aku Tuhan agar hatiku tetap teguh, aku tahu ditolak itu menyakitkan, tetapi kadang kecewa itu lebih baik…” Awang – awang kalimat dalam setiap otak Adi satu demi satu terbang ke udara dan saat itu juga.

“Adi.., emak baru buat nasi goreng untuk kamu”, Ida membuka pintu sedikit sambil melongok kearah kamar Adi.

“Iya mak”, Adi mengangguk, dan keluar kamar, langkahnya menuju kursi menghadap tembok bekas bocor didepan mata. Dia mengambil nasi goreng dan ditaruh di piring. Ida sudah bersiap untuk berjualan.

“Saran bapak, kamu harus ikut emak ke pasar”, Rahmat yang duduk disebelah Ida memberikan komentar Adi masih diam termenung menyuap nasi ke dalam mulut.

“Pak, mak, dengan adanya keadaan kita mana mungkin aku bisa dengan mudahnya pergi bersenang -senang. Sedangkan dirumah hanya makan dengan telur saja, atau tahu dan tempe. Sayur itupun sisa jualan.., rasanya mustahil. Dan akupun masih berpikir – pikir dulu juga kalau memang harus ikut karena aku tidak mau jadi anak durhaka atau anak yang tidak paham keadaan orang tua, …” dari perkatan anaknya, kedua orang tuanya mengusap dada mereka masing – masing dan Adi hanya hening terdiam, tercermin dari raut wajah, dia sedang berpikir keras tentang keadaan hidupnya.

“Adi, siapa bilang kamu anak yang seperti itu, kamu anak yang baik..” Ida agak meninggikan suaranya.

“Aku merasa demikian mak, itu kalau aku ikut pesta kostum itu”, jawab Adi menyambung kalimat ucapannya terdengar terbata.

“Ah sudahlah Adi, orang tua menyarankan kamu ikut perpisahan sekolah saja” Rahmat menyela.

“Jujur pak, masalah pesta kostum aku hanya berpikir dari mana bisa dapatkan uang dari sini untuk keperluan pesta perpisahan sekolah, sudahlah pak, mak, lebih baik pembahasan ini ditutup saja lagipula masalahnya kita juga bukan orang kaya yang bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang”, kata Adi dengan pelan. Dia berdehem sebentar untuk meneruskan kalimat pembicaraannya lagi.

“Aku tahu, mereka sangat mengharapkan aku, seperti itulah di sekolah, mereka menilai aku paling menonjol padahal aku merasa biasa saja.”, Adi sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, perasaanya amatlah resah.

“Berarti, kamu beruntung punya banyak teman, mereka berpikir tidak ada kamu, tidak asyik. Mungkin semua ini adalah pertimbangan kamu sendiri yang memikirkannya, karena kamu sudah dewasa”, Rahmat menasehatinya panjang lebar. Selesai makan, Adi meninggalkan kursi untuk masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan kepala di bantal ranjangnya. “Aku minta maaf, atas semua yang aku katakan ini, tapi aku hanya ingin bapak dan emak memahaminya, aku tidak akan pernah mundur dari perjuangan, walaupun ini adalah sebuah awal perjalanan hidup, tolong jauhkan aku dari kata – kata pesta kostum. Bapak dan emak memang sangat mengharapkan aku ikut, tetapi aku sebaliknya. Aku bukan orang yang tidak bisa menerima kenyataan hidup, walau bapakku hanya seorang pegawai kecilpun aku bisa menerimanya. Kita hidup seperti ini…” Adi melihat jam dinding, sudah menunjukkan jam satu siang, sepertinya waktu sangat cepat berganti, dia bersiap untuk mandi dan pergi ke sekolah. Walau agak terlambat sampai di sekolah, Adi mengambil duduk di kursi di teras sekolah. Pada saat sedang duduk, Adi melihat Jaki disana, dia tersenyum sambil menghampiri Adi.

“Ini uang dariku, kalau kamu membutuhkannya”, Jaki memberikan amplop kepadanya, dan Adi hanya menyergah perlahan dengan tangannya.

“Tidak Jak, terima kasih”, dia tersenyum, satu tangannya memegang ijazah kemudian Jaki menaruhnya ke dalam ranselnya.

“Aku ingin membantumu Adi tapi aku juga tidak ingin membuatmu marah, dan aku ingin tetap persahabatan kita terjaga dengan baik apapun itu yang terjadi”, kata Jaki sambil menatap ke lapangan sekolah.

Memori satu demi satu diingatnya. Disaat mereka sedang upacara, Adi selalu berbaris di sebelah Jaki, apalagi pada saat mereka menjadi petugas waktu kelas sebelas. Kenangan sangat manis, dengan bumbu kocak di dalamnya. Adi menjadi pengibar bendera, dan Jaki yang menarik talinya, kalau diingat ingin tersenyum sendiri.

“Adi kamu ingat, saat kita menjadi pengibar bendera dulu” kata Jaki

“Yah aku ingat”, Adi melirik kearah samping kanan.

“Saat itu benderanya terbalik, bodohnya kita Di”, Jaki menunjuk keatas, sambil membayangkan kejadian konyol tersebut dengan wajah tersenyum, kemudian menoleh kearah Adi yang melangkah masuk ke dalam ruang kepala sekolah, wajah Adi terlihat sangat serius, Jaki mengira kalau dia mungkin sedang benar – benar marah padanya, begitulah yang ada dalam pikirannya. Dan pada saat Adi keluar dari ruang kepala sekolah, baru saja dia hendak membalikkan badan kearah kiri, Jaki yang merlihatnya dari jauh dengan suara keras memanggil dirinya  dengan nafas tersenggal

“Adiii !!”, teriaknya.

Langkah Adi menjadi terhenti kembali dan menoleh ke belakang, melihat Jaki yang ngos – ngosan berlari kecil mengejarnya, wajah Adi terlihat diam dan datar, Jaki meneruskan langkah kakinya untuk berdiri berhadapan dengannya.

“Adi, walaupun kamu tidak menerima uangku, tapi kamu tetap ikut kan, aku hanya takut kamu marah padaku karena aku tahu keadaanmu”, Jaki mengatakan dengan kalimat getir.

“Tidak apa-apa Jaki, aku tidak marah, mudah – mudahan aku bisa ikut. Jak, perlu kamu ketahui bahwa aku tidak bisa marah padamu, mengerti tidak bawel, ” Adi mengatakan dengan suara dalam.

“Adi…” suara Jaki terdengar lirih menggumam.

“Jaki aku berniat ikut tapi masalahnya aku akan memakai kostum apa, aku hanya bingung saja”, Adi tersenyum kepada Jaki dari situlah perasaan Jaki menjadi lega, karena rupanya Adi memang tidak marah kepadanya.

“Yah kamu pakai apa saja, tidak perlu bingung – bingung, kalau bingung benturkan saja kepalamu ke tembok” kata Jaki setengah bercanda.

“Jangan ngaco kamuu”!! Adi menggerutu.

“Aku sarankan, kamu pakai kostum yang sederhana saja, kalau tidak salah ada tokoh kartun yang memakai baju hijau – hijau, dan itu modelnya sederhana”, kata Jaki menyarankan.

“Apapun itu kamu ikut yaa, walau harus memakai kostum tanpa pasangan sekalipun, tidak usah merasa sungkan….”, kata Jaki kemudian tapi juga menasehatinya. Pesta kostum itu karena memakai kostum tokoh dongeng dan yang pasti memiliki pasangannya masing – masing, jadinya mereka semua yang sudah punya pacar harus membawa pacarnya masing -masing.

“Yah, memang aneh terlihat sendiri, kalau datang sendirian, karena mereka pasti dengan pacar mereka masing – masing.”, Jaki masih meneruskan kalimat pembicaraannya

“Iyah, oke aku datang tapi aku sendirian tidak bersama seorang gadis kalaupun paling – paling, gadis yang kuajak adalah Gita adikku…” Adi berkata dengan gaya bicaranya yang kadang terkadang santai dan tenang.

“Kamu sendiri juga tidak masalah.., biarpun kami semua bersama pacar masing – masing” nada suara Jaki agak sedikit meledek Adi, tapi dia menanggapinya dengan tenang, karena tahu Jaki tidak bermaksud tidak baik dan hanya bercanda saja.

“Oke…” Adi mengangguk.

“Oke, oke kamu pakai kostum tokoh apa saja, yang penting kamu ikut, boleh pilih yang aku sarankan tadi kalau mau, aku minta maaf atas perkataanku tadi” dia menambahkan kalimat kata – katanya dengan wajah menunjukkan mengharapkan kedatangan Adi.

“Aku sesuaikan, dengan keuanganku saja”, kata Adi kemudian, awalnya dia sudah mulai melotot pada Jaki, namun rasa amarahnya tiba – tiba saja mencair karena dia minta maaf. Tepat saat itu juga, Dion yang baru keluar kelas dengan Vini melihat mereka kemudian menghampiri untuk mendekati mereka.

“Jadi rencana Adi akan memakai kostum apa ?”, tanya Vini.

“Aku, sesuaikan saja dengan keuanganku, nanti aku kabari lagi kalau begitu”, jawab Adi

Sambil melambaikan tangan kepada mereka semua. Adi duduk di halte sambil melihat kearah jalan, kemudian bis-kota yang ditunggunya  terlihat datang, dia masuk ke dalam sambil memegangi kepalanya, pusing. Di dalam bis Adi menarik nafas resah, perasan galau bertubi semakin kencang bagai badai menerpa dirinya. “Entah kenapa, aku berpikir kalau tingkah mereka terkadang ajaib, seperti dalam sebuah cerita saja tapi memang kenyataannya dunia ini memang penuh keajaiban” pikiran itu terus berputar diatas kepalanya.

Bis berhenti di depan gang itu lagi, kakinya melangkah turun, perasaan yang dirasakannya membawa Adi pada saat berjalan di tengah kerumunan warga, mereka terlihat sedang mengobrol dengan sesama tetangga di teras rumah. Tanpa diketahuinyapun Ida dan Rahmat, sedang keluar merencanakan untuk bertemu Hani adik Ida, untuk meminjam uang membeli kostum untuk Adi. Telapak tangan Adi mengenggam pegangan pintu untuk membuka pintu rumah, waktu ia membalikkan badan disana, ruangan tengah rumah terlihat kosong, lamunan menerjang lagi pada saat membuka sepatu di sofa. “Serpihan, butir mimpi akan kuawali kisahnya, tanggal dalam kalender, harinya semakin maju, waktupun terasa amat cepat pergi, dimana aku akan meninggalkan semua yang ada disini demi sebuah mimpi”.Tiba-tiba terdengar bunyi WhatsApp dari dalam tas memecah hening sunyinya. Adi membuka ransel dan membacanya Adi, bagaimana kalau aku usulkan kamu pakai saja, kostum cerita dongeng yang tokohnya bajunya hijau  hijau itu lhoo.., aku sampai lupa namanya.  Begitu isi tulisan Jaki dalam whatsappnya. Adi membacanya sambil tersenyum sendiri menghela nafas,. Entah bagaimana juga, tiba – tiba saja kepalanya terasa pusing. Hingga akhirnya Adi memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya mengganti baju dan istirahat, mencoba menenangkan pikirannya.

Ida dan Rahmat baru sampai dirumah, perlahan-lahan Ida masuk ke dalam kamar Adi yang pintunya terbuka sambil memegang amplop cokelat di tangannya. “Mungkin memang kamu tidak mengiginkan, tapi kami yang ingin mendorongmu untuk ikut acara perpisahan di sekolah” begitu kata dalam hati Ida sambil menaruh amplop tersebut diatas meja. Ida mengamati sekeliling ruangan kamar Adi yang terlihat berantakan. Terlihat beberapa pakaian, juga barang lainnya belum disusun untuk dimasukkan ke dalam tas. Suara pintu kamar ditutup, membuat Adi membuka mata, perlahan-lahan matanya melihat kesekeliling kamarnya kemudian melihat amplop di mejanya. Diraihnya amplop itu perlahan kemudian dibukanya amplop dan terlihat isinya teryata uang dengan jumlah yang cukup untuk membeli kostum. Matanya terbelalak disana, dari mana orang tuanya bisa mendapatkan uang sebanyak itu.

“Maaaaak !”, Adi berteriak dari dalam kamarnya, suaranya terdengar seperti ada sesuatu yang mengejutkannya, Ida tergopoh – gopoh berlari kearahnya.

“Ini amplop untuk apa mak ?” Adi bertanya sambil matanya diarahkan ke emaknya, sebenarnya dia sudah bisa menebaknya itu apa isinya namun, dalam jiwanya seakan mengurungkan niat untuk mengetahui yang sebenarnya.

“Itu uang kamu untuk beli kostum” jawab Ida.

“Dari mana.., emak dapatkan”, dia mengernyitkan keningnya, kemudian tersadar akan sesuatu yang diingatnya.

“Emak, pinjam uang lagi ke saudara”, tebak Adi. Dia menghela nafas pendek kemudian menghembuskannya dari mulut.

“Semestinya, emak tidak perlu untuk melakukannya sampai seperti ini” Adi mengeluh sambil menunduk. Perasaannya, seakan benar – benar seperti dia anak yang tidak tahu keadaan orang tua, jika menerima dengan mudahnya apa yang diberikan oleh mereka, setidaknya Adi bukan anak manja yang terbuai pemberian orang tua. Dia memberikan, kembali amplop tersebut ke tangan Ida.

“Emak tahu, maaf, aku tidak bermaksud lancang terhadap emak tapi aku hanya ingin menyampaikan apa yang tersimpan dihatiku”, Adi berkata bijak. Ida hanya merenung, tertegun melihat sikapnya tersebut sambil meneteskan air mata, namun tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.

“Adi…”, dia hanya menyebut namanya dengan pelan.

“Ambil untuk keperluan bapak dan emak saja” sahut Adi sambil tersenyum, kemudian dia masuk ke dalam kamarnya sedangkan Ida menggenggam amplop tersebut sambil menutup pintunya, menaruhnya di dadanya sambil menegadah. “Ya Tuhan, belum pernah ada anak seperti itu kepada orang tuanya”. Dia bergumam, sejenak hatinya semakin percaya kepada anak-lakinya memiliki rasa hormat dan bakti kepada orang tuanya. Sedangkan Adi merenungkan kembali dengan apa yang telah di lakukannya, dia duduk di pinggir ranjang dengan ribuan pikiran merasuk ke dalam otaknya. “Maafkan aku, aku bukan tidak mau menerimanya, melainkan bagiku tidak semudah itu juga menerima pemberian orang tua, yang aku sadari sangat susah mencarinya. Aku harus berusaha sendiri dengan keringatku” katanya kemudian berguman sendiri.

Di dalam kamarnya akhirnya Ida hanya menaruh amplop tersebut di dalam lemari pakaian diantara tumpukan baju. Sepertinya dia akan tetap mencari cara lain yang Adi akan mudah menerimanya. Sambil berfikir Ida mencari pakaian Adi pada saat dia sedang tidak dirumah, dibalik-baliknya tumpukan pakaian anaknya dan akhirnya Ida mendapatkan kaos berwarna hijau yang sudah lama tidak dipakainya. Sejenak Ida melihatnya, kemudian menggantungnya di balik pintu kamar Adi. Dipandanginya pakaian itu, ditelitinya, sambil bergumam Ida berkata: Ah sudah agak lusuh, tapi kalau hanya untuk lucu-lucuan bisa juga. Tapi  tergantung anaknya nanti.

     Dan pada saat Adi pulang, arah matanya tertuju kearah kaos tersebut, diambilnya kaos itu, dibawanya keluar kamar kemudian denagn ditunjukkannya kepada Ida

“Emakkk…” Adi berkata kepada Ida sambil mengacungkan kaos.

“Yah, ada apa nak ?” tanya Ida.

“Ini, kan baju aku yang sudah lama sekali tidak dipakai, mungkin terakhir memakainya waktu masih SMP saat itu umurku masih empat belas tahun, dan sekarang aku sudah tujuh belas, maksud emak apa ditaruh disini mak ?” tanya Adi.

“Yah, buat acara perpisahan di sekolah kamu kan, kamu pakai itu saja dan kata kamu mau pakai yang sudah ada dirumah saja”, jawab Ida santai.

“Aku memang hanya tidak mau terlalu boros mak, apalagi dengan kondisi kita sekarang ini”, tegas Adi.

“Iya, iya mak tahu, tetapi kalau kamu mau beli, emak masih simpan uangnya”, Ida berkata lembut.

“Bagaimana ya mak, ini sudah kelihatan lusuh ya mak. Tapi kalau harus beli, kalaupun ada tapi tidak banyak pengeluarannya kok mak”, Adi meminta pertimbangan Ida.

“Yah sudah kalau begitu, pakai yang itu saja”, kata Ida kemudian, lalu meninggalkan kamar Adi.

Dia berpikir sejenak, dengan apa yang dikatakan oleh Ida pada saat menutup pintu kamarnya kembali. “Apa masih cukup” kata Adi dalam hati, dia melihat tubuhnya sendiri ke depan cermin, tubuhnya sudah jauh lebih tinggi daripada dulu waktu SMP

“Hijau-hijau, memang aku mau jadi apa ?”, Adi berguman sendiri, kemudian teringat sebuah film yang pernah ditontonnya.

“Oh…., yah, yah aku tahu”, akhirnya Adi teringat nama tokoh tersebut, kemudian mengeryitkan keningnya lagi.

Tapi bukankah, dia ada pasangannya..” pikir Adi kembali. Dia keluar kamar, sambil mencari Gita, Adi berjalan mondar – mandir di sekitar ruangan rumahnya.

“Gitaa….” panggilnya, dan mencarinya kemana – mana. Pada saat yang bersamaan, Gita baru saja pulang, dia berdiri diambang pintu rumah, sambil menyandang ranselnya memandang Adi keheranan.

“Kakak, mencariku ?” tanya Gita, kemudian dia memanggil Adi sambil mengayunkan tangannya, untuk masuk ke dalam kamarnya, Gita mengikutinya, dia melangkah kearah kamar Adi sambil menutup pintu. Tatapan matanya semakin penuh keheranan, oleh tingkah kakaknya itu.

“Ada apa kak, seperti baru menang lotre ?” tanya Gita sambil meledeknya.

“Bagaimana, kalau kamu bantu aku untuk menyiapkannya ?“ tanya Adi, pikirannya sejenak melayang ke udara.

“Bagaimana, kalau di acara perpisahan, Gita jadi…” Adi tidak bisa meneruskan kata – katanya, dia berpikir sambil melayangkan mata ke udara.

“Jadi pacar aku sehari” katanya kemudian, Gitapun melotot tajam kearahnya.

“Ngacoooo !!!”, teriak Gita keras.

“Kalau bicara itu hati – hati kak jangan sembarangan, semua orang  tetap tahu aku ini adik Kak Adi !!”, sentak Gita keras, terlihat wajahnya marah karena kaget, nafasnya tersenggal berat.

“Yah.., yah aku minta maaf kalau begitu, aku bingung harus datang dengan siapa. Karena aku tidak punya pasangan sendiri” kata Adi kemudian.

“Oh.., aku tahu dengan siapa kakak harus pergi lalu siapa gadis yang menemani Kak Adi…” Gita terlihat sedang berpikir sambil nyengir di hadapan Adi.

“Dengan Angela temanku” Gita memperlihatkan cengiran lebarnya.

“Kenapa harus dengan dia Git…memang tidak ada yang lain, yang lebih menarik daripada Angela ha…ha…ha”, Adi tertawa membalas candaan adiknya

“Kalau tidak mau, kak Adi pergi saja ke Ragunan dan cari pasangan disana”, Gita meledeknya sambil memicingkan mata.

“Dan sekarang kamu yang ngacooo, kamu pikir aku ini apa pergi dengan monyet. Maksudmu biar kalau di Facebook bisa heboh begitu”, Adi berubah menjadi menggerutu

“Kenapa tidak, biar bisa jadi berita terupdate ha…ha…ha” dia semakin puas tertawa lebar meledek habis – habisan kakaknya.

“Untung kamu adik aku, kalau bukan kamu bisa – bisa sudah aku rebus”, Adi merasa kesal dengan sikapnya, dan matanya melihat ke arah tembok.

“Oke, oke…kalau begitu nanti aku temani untuk cari perlengkapan kostum lainnya” kata Gita kemudian, saat itu pula Adi ada yang merasuk tiba – tiba ke dalam kepalanya. “Aku baru ingat yang dimaksud oleh Jaki tentang berpakaian hijau – hijau jadi cerita ini rupanya, tentang anak laki – laki itu. Yah rasanya menyenangkan sekali kalau bisa memakainya….” pikiran Adi kembali melambung tinggi. “Jika, memang itu adalah sesuatu kesempatan untukku dan tidak bisa aku sia – siakan, maka aku akan mengambilnya” Melayang dalam pikiran Adi mengenai kalimat tersebut.

Sore hari telah tiba, Adi keluar kamarnya, dan melihat Ida juga Rahmat di depan tv bersama Gita, ada getar di dada saat ingin mengatakannya.

“Mak, aku boleh pinjam gunting”, dia menyimpulkan senyuman.

“Untuk apa ?” tanya Ida heran menatapnya tajam.

“Aku sudah punya rencana dengan Gita untuk membuat kostum itu sendiri, dengan baju hijau yang digantung di kamar. Mungkin aku tinggal beli pelengkapnya yang lain, seperti celananya walau sedapatnya”, jawab Adi.

“Yah, emak ambil uangnya dulu” jawab Ida lalu masuk ke dalam kamarnya, kemudian dia memberikannya pada Adi.

“Baik Mak nanti kalau Gita sudah pulang aku minta ditemani untuk membeli celana di pasar kaki lima”, kata Adi.

Malam harinya, Adi ditemani, oleh Gita pergi ke suatu pasar di daerah Jakarta  untuk mencari kostum tersebut, mereka masuk ke dalam pasar dan Gita menunjuk ke sebuah toko kecil yang menggantung beberapa celana berwarna cokelat.

“Kak.., itu sepertinya cocok dan sudah mirip sekali malah” kata Gita mengusulkan.

“Ayo kita masuk ke dalam”, Adi menyetujui, kemudian mereka  bertemu dengan pelayan toko yang sedang duduk di kursi kasir, tapi dia juga ada temannya yang menghampiri mendekati keduanya.

“Ya, Mbak, Mas…” dia berusaha ramah kepada pengunjung, kemudian Gita memegang celana itu lebih dulu.

“Berapa mbak, harganya ?” tanya Gita.

“Dua puluh ribu” dia menyebut harganya, dan Adi langsung memandang Gita dengan tatapan memberikan kode kepadanya dengan menengok kesamping, Gitapun mengerti apa yang dimaksud oleh kakaknya.

Adi langsung menarik tangan Gita keluar toko, dan berbicara berbisik,

“Emak, hanya berikan kita uang saku segini Git…, yang benar saja kamu pikir kita orang kaya” kata Adi.

“Aku tahu, kalau begitu kak bagaimana kita mencari yang murah saja ?” tanya Gita, dia masih berusaha untuk menjelaskan ke Adi namun Adi terlihat sudah mengeluh mendengar harga yang disebutkan.

“Kita pulang saja”, kata Adi menarik tangan Gita.

“Aduh kak, jangan main tarik – tarik begini, aku bukan anak kecil…” Gita menggerutu.

“Kita itu sudah dapat harga yang murah Kak”, Gita masih ngotot.

“Kita cuci mata saja, siapa tahu kamu memang sebenarnya lagi bosan dirumah makanya mau menemani aku mencari kostum”, kata Adi agak sedikit berkata keras padanya.

“Ihhh.., apaan sih Kak Adi ini”, keluh Gita.

“Yah sudah, kalau begitu aku mau pulang saja. Malas aku menemani Kak Adi jadinya, sudah hilang selera”, kata Gita, menggerutu marah dia berjalan melewati Adi.

“Apa sih, umur enam belas tahun, tapi kelakuan seperti dua belas aneh”, guman Adi.

“Gita…, kamu mau pulang, yah sudah kita pulang saja, kamu lebih baik tidak ikut” mendengar perkataan itu, Gita merunduk sejenak lalu berlari kecil sambil membalikkan badan.

“Kak.., kak yah sudah begini saja, kita bayarnya patungan saja ini uangku untuk ditambahkan”, Gita mengeluarkan isi dompetnya. Kali ini Adi menyetujui.

“Oke kalau begitu, aku memakai kaosnya yang ada dirumah saja dan bisa di kombinasi dengan celana yang baru di beli”, Adi menarik nafas panjang.

“Kamu tahu kan keadaan kita bagaimana ?”, Adi meninggikan suaranya dengan nada naik turun.

“Yah aku mengerti”, Gita mengangguk. Akhirnya, mereka memilih celana cokelat tersebut, dan membayarnya di kasir, setelah Adi membayarnya dia menerima kantong berisikan celana di dalamnya, dan mereka membawanya pulang. Adi melirik jam tangannya sambil meninggalkan gedung, dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, kemudian keduanya berjalan kearah halte yang berada didepan pasar tersebut, kendaraan yang melintas masih nampak dipenuh sesaki oleh orang, bis – bis kota masih terlihat dikerumuni banyak orang.

Penumpang berdesakan di tengah gelapnya malam. Suara lalu – lalang kendaraan masih berseliweran di jalanan raya. Adi duduk sambil mengamati satu demi satu bis-kota yang lewat yang masih kosong, sedangkan Gita berdiri di depannya.

“Duhh.., kak kita tidak mungkin naik taksi”, keluh Gita.

“Sepertinya disana, ada pangkalan ojek”, Adi menunjuk ke arah sekumpulan orang yang duduk diatas motor, ada juga yang berdiri sambil mengobrol dengan temannya di pinggir trotoar jalan.

“Dua motor begitu kak”, kata Gita mengangguk.

“Dicoba saja”, Kata Adi dengan gigih, kemudian dia menanyakan kepada salah satu pengendara, sambil tawar – menawar jumlah uang serta memberi tahu lokasi rumahnya.

“Iya Gita.., dua motor dia mau”, Adi menepuk bahu Gita dari samping. Keduanya, naik motor, Adi duduk di boncengan belakang supir yang memakai helm warna merah, serta temannya mengendara di depan, angin yang berhembus dari udara menerpa jaket yang dikenakan Adi, melambungkannya pada satu lamunan, selama dalam perjalanan.

Semilir malam, berdesir di antara pekat alam, ini adalah hari – hariku terakhir bersama mereka, dimana nantinya akan ada suka dan duka, apalagi aku akan berada ditempat yang jauh dalam waktu yang sangat lama, aku yakin akan ada sejuta rindu yang meliputi seluruh hidupku.  Motor itu akhirnya berhenti di depan gang dan keduanya turun, Gita turun  lebih dulu untuk masuk ke dalam gang rumahnya kemudian disusul oleh Adi.

Anak muda tersebut melangkah di sepanjang gang, kemudian Adi membuka pintu rumahnya lebih dulu untuk masuk ke dalam kamar.  Di dalam kamar dia merebahkan kepalanya di bantal kemudian membalikkan badan kesamping, tiba – tiba saja ada rasa pusing di kepalanya membuat Adi ingin memejamkan mata. Dalam waktu bersamaan Gita masuk ke dalam kamar Adi ingin mengajaknya untuk mengerjakan persiapan kostum untuk perpisahan, namun Adi sedang terlelap tidur sehingga Gita tidak berani menganggunya dulu.

Malam harinya, Gita mencari gunting di laci kamarnya, sedangkan Adi menyiapkan celana cokelat yang dibelinya, saat itupun gadis tersebut mengetuk pintu kamar Adi, setelah ada kata masuk dari Adi, Gitapun langsung masuk.

“Kita kerjakan bersama sekarang” ajak Gita bersemangat sambil membuka pintunya.

“Oke” Adi mengangguk setuju, Gita bagian menggunting lengan bajunya sedangkan Adi membuat topinya dari kertas, setelah selesai Adi mencoba kostumnya di depan cermin, sementara Gita bersedekap di belakang

“Asyiiiik, bagaimana menurut kamu ?”, tanya Adi sambil melihat dirinya di cermin

“Sempurna”, jawab Gita tersenyum. Adi merasa sangat puas dan dengan usil dicubitnya hidung Gita sambil tertawa.

“Apa-apaan sih kak “, kata Gita sambil mengusap hidungnya dan ikut tertawa.

“Memang sempurna, walau hasilnya, tidak terlalu sempurna juga, tapi aku sangat menyukainya, yah biarlah apa kata orang juga tentang diriku, aku pergi sendirian tidak harus dengan teman wanita juga tidak masalah, untuk apa hal seperti itu menjadi beban”.

“Sudah siap kak untuk malam besok ?” tanya Gita.

“Sudah” Adi mengangguk.

“Lagipula, tidak masalah juga aku pergi sendirian tidak harus dengan teman wanita, memangnya aku kebelet nikah….”, Adi, memberikan komentar pada Gita dari ekpreksi wajahnya, berkesan meledek teman -temannya, yang suka meledeknya tentang pacar.

“Nikah muda kali yahh.., umur kakak kan masih tujuh belas”, Gita memberikan tanggapan setuju padanya.

“Santai saja kakkk…., nanti pasti ada kok pacar untuk kakak” dia menambahkan kalimat ucapannya, sambil memutar badan untuk meninggalkan kamar Adi.

Esok malamnya, mereka semua berkumpul di lapangan, Jaki dengan kostum karakter Jack Frost, duduk termenung memandang langit.

“Kita akan meninggalkan label sebagai anak SMA, selangkah lagi setelah semuanya tertinggal disini menjadi serpihan memori terindah”, Jaki berkata waktu melihat Dion berdiri di pinggir pintu kelas, dia mengenakan kostum Pangeran Erick dan Vini yang menjadi Little Mermaidnya.

“Aku pikir, kita semua memang salah dengan apa yang kita perbuat terhadap Adi, keputusannya sudah sangat bulat…”, Dion mendesah nafas dari mulutnya.

“Dion, Jaki…kalian lihat disana”, tiba – tiba saja Vini menunjuk kearah lorong, keduanya melihat ke lorong. Mata Jaki terlihat resah, diantara suara menggema dari panggung karena ada siswa yang bernyanyi, kedua sahabat itu saling menatap satu sama lain. Jaki langsung berlari ke pelukannya.

“Aku sudah menduganya ini Adi.., kamu tidak akan menyia – yiakan ini, dan sekarang ikutlah bergembira”, Jaki merasa senang, sambil ketawa ngakak.

“Aku berubah pikiran, karena aku tidak meninggalkan segalanya lalu menyesal disaat waktu sudah terlambat” kata Adi.

“Aku minta maaf sahabat”, dirinya dengan tajam memandang Jaki.

“Tidak ada yang bersalah, okey”, jawab Adi. Sejenak mereka terlupa dengan apa yang pernah terjadi, pada saat menikmati lagu-lagu dari Band sekolah, juga menikmati drama musikal dari adik – adik kelas yang ikut memeriahkan juga acara kelulusan. Adi, Vini, Jaki dan Dion empat sahabat menikmatinya sebelum masing-masing berpisah menjalani hari depannya masing-masing. Satu orang dari mereka terlepas untuk melanjutkan pendidikannya ke Singapura. Tanpa sadar, acara selesai pada larut malam, mereka saling brsalaman, dengan mengguncang-guncangkan tangan-tangan temannya dan selesailah acara perpisahan SMA. Mereka semua pulang ke rumah masing – masing.

“Gadisku yang selalu duduk di sisi jendela, aku tunggu di mobil ya”, terdengar suara Dion melintasi Adi dan Jaki yang sedang duduk di kursi teras sekolah. Perkataan itu membuat keduanya menoleh,

“Ngomong apa dia Jak”, tanya Adi kepada Jaki.

“Maksud Dion itu panggilan kesayangan Vini…..nah paham”, sahut Jaki

“Lucu juga sebutan panggilannya…” Adi menanggapi dengan perhatian, kemudian keduanya menatap tiang bendera yang menjulang tinggi, sambil membayangkan hari – hari waktu masih kelas sepuluh atau kelas sebelas.

“Dulu, kita sering bercerita disana, sambil melihat para adik kelas bermain bola kalau sedang olahraga”, Jaki mulai membuka topik pembicaraan.

“Yah itu benar” lirih Adi lamunnannya terbuyar, oleh suara Jaki dari arah sampingnya, dia mulai membuka topik pembicaraan selanjutnya.

“Oh yah, soal foto nanti Dion katanya yang akan mempostingnya di Facebook”, Jaki terus berbicara tanpa jedah waktu, sedangkan Adi belum sempat mengeluarkan satu kalimat satu patah kata, barulah setelah Jaki selesai bicara, Adi mengeluarkan suaranya.

“Aku tidak sabar ingin melihatnya” Adi tersenyum pada Jaki. Ia melirik jam tangan telah menunjukkan pukul sembilan malam.

“Jaki aku pamit dulu, aku mau pulang, bagaimana kamu, pulang yuk”, Adi berjalan di teras sekolah dan pikirannya kembali tentang kehidupannya, kalau dia akan bersungguh – sungguh untuk hari ini dan selamanya.

Aku akan mewujudkan impian terbesarku…, dalam hidup ini” bagi Adi untuk apa memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Dion kepada Vini lalu dihubungkan dengan kehidupannya sendiri, karena yang menjadi nomor satu masa depannya adalah mensukseskan pendidikan tingginya, memperoleh pekerjaan yang bagus dan memperbaiki ekonomi keluarganya. Mengenai pacar, seiring berjalannya waktu saja, begitu pikiran Adi.

Hari-hari menunggu panggilan dari tempat kursus bahasa Inggrisnya Adi, sebagai anak manusia membuat Adi merasa dag-dig-dug. Adi berusaha berfikir positif dengan membantu mamanya berjualan gado-gado di pasar. Pertemuan antara Adi dengan para pelanggan pembeli gado-gado mamanya membuat  perasaan dan pikiran Adi dapat sejenak melupakan impiannya yang belum terlaksana untuk menerima beasiswa melanjutkan pendidikannya. Tetapi ternyata Tuhan tidak menyuruh Adi menunggu lama tanpa penyelesaian. Dari Hp-nya Adi memperolah berita bahwa Adi disuruh ke tempat kursus bahasa Inggris untuk bertemu dengan pemberi beasiswa dari Singapura.  Hati Adi-pun mulai mekar, dan hal ini diberitahukan ke orangtuanya serta adiknya.

Pada pagi harinya Adi-pun bergegas menuju tempat kususnya dengan menyandang rangsel kesayangannya. Didalam ransel sudah siap surat-surat yang dibutuhkan termasuk paspor, ijasah SMA-nya, setifikat TOEFL dan lainnya yang perlu. Dalam bis kota menuju ke tempat kursus bahasa Inggris, pikiran Adi melambung bagaimana nanti hidup di negeri asing.

“Ada sebuah rahasia yang sulit dipecahkan, karena rahasia itu tersembunyi dibalik sebuah peti yang tersimpan rapat namun rahasia itu kalau hanya didiamkan saja juga tidak menimbulkan hasil, dan aku memilih memecahkannya bahkan mengikuti aturan permainannya seperti bermain monopoli…”

 

***

Monopoli jika dimainkan, setiap orang akan berlomba untuk menjadi pemenangnya, siapa yang berhasil mencapai tingkat atas maka dialah pemenangnya seperti halnya dalam kehidupan ini

***

Komentar