Gak Usah Protes

SAYA menilai si Aang Emur diciptakan Tuhan untuk selalu menasihati dan menjaga saya dari keterpurukan. Dalam kondisi apapun dia selalu setia dan berusaha meluruskan saya dari kesesatan menuju jalan kebaikan.

Aang Emur, semoga gak berlebihan, saya ibaratkan sebatang Lilin. Gak henti-hentinya menyinari, meskipun dirinya harus selalu meleleh cair, terbakar api.

“Ya terserah Kamu mau diibaratkan apa juga. Tapi, kenapa mesti Lilin? Gak sekalian Patromak gitu, agak gedean dikit! Supaya sekalian kontrakan saya terbakar hangus,” ujar pria berambut panjang itu ke saya, menanggapi pernyataan soal Lilin.

“Hehe iya bebas. Yang penting jangan sampai seperti Tokek. Nanti berisik,” lanjut saya.

“Hahaha, dasar Kuya (kura-kura). Sok (suka) gak nyambung,” timpalnya.

Ya begitulah gaya komunikasi kami. Gak ada yang ditutup-tutupi. Divulgarkan saja. Mau disebut apapun saya sama si Aang Emur sama sekali gak sakit hati, apalagi berujung saling begal. Gak pernah. Begitupun sebaliknya.

“Iya bebas mau manggil saya apapun. Asal jangan ngejek saya pake Bahasa Hungaria aja. Gak ngerti Demi Allah,” sambungnya yang malah makin gak nyambung.

Satu waktu saya pernah mengeluh soal nasib. Saya merasa sudah beberapa tahun ini gak mengalami perubahan. Dalam hal apapun. Monoton gak ada kemajuan. Saya meratap dan nyaris putus asa.

“Lah segala putus asa kayak yang iya. Kenapa gak bunuh diri atuh?” ujar Aang Emur memberi masukan.

“Boro-boro mau bunuh diri. Harga tambang makin hari makin mahal Ang.”

“Ah edan. Pake kabel tivi gimana? Saya siap berpartisipasi,” tutur Aang Emur lagi.

“Gak mau. Takut kesetrum,” timpal saya datar meskipun agak ingin ketawa.

“Hahaha pengecut. Makanya jadi orang itu harus mampu menyelami pekerjaan yang kita kerjakan saat ini,” kata Aang Emur sambil tarik napas dan kemudian melanjutkan, “Kalau Kamu misalnya tercipta menjadi seekor Cucurut (Curut) bersikaplah seperti Cucurut. Jangan malah mendalami sebagai Ayam. Nanti malah capek dan sulit untuk bersyukur. Yang ada celaka dan tersiksa seumur hidup.”

“Ouh iya,” kata saya, lalu melanjutkan dengan sebuah pertanyaan, “Kalau misalnya saya Cucunguk (Kecoa). Saya harus gimana?”

“Ya jadilah Cucunguk yang baik dan benar. Jangan mencoba jadi Domba atau Kera. Semua punya makom masing-masing. Dan semua makhluk ada manfaatnya. Cucunguk itu punya kelebihan sebagai serangga yang tangkas dan cekatan. Contohlah sifatnya. Termasuk makhluk Tuhan lainnya. Seperti Domba yang dengan ikhlasnya rela disembelih di setiap Idul Adha.

“Artinya jika saat ini Kamu kerja sebagai tukang Las Karbit. Fokus aja di situ. Sekarang mungkin kita kerja di orang lain. Tak tertutup kemungkinan ke depan Kamu malah punya tempat Las Sendiri. Kalau fokus apa sih yang gak bisa!” sambungnya.

“Widihhh keren,” kata saya dan melanjutkan, “Tapi kenapa contohnya harus binatang?”

“Ya suka-suka gue. Untung aja Loe gak diibaratkan Tongo atau Cacing Keremi!” tegas dia yang tiba-tiba pake bahasa elo-elo gue-gue.

“Hahaha iya-iya paham. Selanjutnya saya harus ngapain?”

“Jadi gini Coy. Setiap makhluk punya potensi dan kelebihan masing-masing. Gak usah cemburu. Seekor ayam gak pernah cemburu kepada buaya. Ayam bisa hidup di darat, buaya belum tentu kuat lama. Begitu pun sebaliknya. Jangan sampai memaksakan diri. Nanti malah mati dan menjadi makhluk yang merugi. Santai aja. Fokus dan kemudian berusaha terus menjadi makhluk Tuhan yang bermanfaat.”

“Jadi gituh ya???”

“Iya… Jadi gak bunuh dirinya,” tanya Aang Emur.

Masaloh. Dosa Ang.”

“Tadi katanya putus asa. Dasar Silaru!”

Komentar