Genggaman Sahabat Taat

Aku masih ingat

Suatu sore ketika angin melambaikan kesejukannya

Dia tak terlihat namun terasa kehadirannya

Di teras masjid,

Ketika tak ada lagi penghalang bulir bening yang bergelayut di pelupuk mata

Bulir bening itu mengguyur dengan mudahnya

Detik itu…

Hatiku membuka dan menerima sebuah kebenaran yang baru kusadari

Sementara aku sibuk dengan pipi yang basah

Seseorang di sampingku masih setia memberikan nasihat-nasihat hangat

Dialah sahabat taat yang menggenggam tanganku ketika diriku terombang ambing dalam hidup yang samar

Dialah sahabat taat yang kehadirannya selalu dirindu

 

Sahabat taat, ia  yang menunjuki jalan terang ketika gelap kita sambangi. Menujuki hakikat hidup. Apa arti hidup sesunggunya? Dari mana dan untuk apa kita  hidup di dunia? Serta akan kemana setelah kehidupan dunia berakhir?

Di sini saya akan menempatkan diri sebagai sahabatmu. Sebagai anak muda bagaimana kita menjalani kehidupan ini? Membiarkan hidup ini mengalir begitu saja dan mengikuti arus? Menjadikan hidup ini sebagai tempat untuk bersenang-senang?

Kebanyakan anak muda saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, berhuru-hara, menjalani hidup mengikuti arus yang ada. Maka tidak heran jika banyak diantaranya teracuni budaya barat. Pergaulan bebas, kenakalan remaja, rusaknya moral serta permasalahan-permasalahan remaja lainnya dari permasalahan kecil hingga pada tingkat yang rumit hingga kini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Ini bukti bahwa banyak sekali kalangan remaja yang belum memahami hakikat hidup yang sebenarnya.

Dari mana kehidupan ini?

Untuk apa kita hidup di dunia?

Akan ke mana setelah kehidupan dunia berakhir?

Dear, jawaban seperti apa yang muncul dalam benak kita?

Akankah kita menjawab : kehidupan yang ada di dunia ini ada dengan sendirinya, manusia hidup untuk mencari kebahagiaan semata, manusia berasal dari tanah atau materi dan kelak akan menjadi materi kembali?

Bukan. Bukan itu. Dear, sebagai seorang muslim tentu kita akan menjawab, kita berasal dari Allah yang menciptakan makhluk dan kehidupan, tujuan diciptakannya tak lain untuk beribadah kepada-Nya, menerapkan semua hukum-hukum-Nya, setelah mati manusia akan hidup di kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan akhirat, surga atau neraka.

Jawaban kita atas tiga pertanyaan tersebut merupakan landasan hidup, tuntunan dan juga tujuan hidup kita entah kita menjawab dengan jawaban yang salah ataupun benar. Jadi seandainya kita menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang pertama, tentu yang menjadi tujuan hidup kita hanya persoalan materi dan dunia. Menjalankan hidup dengan aturan sendiri dengan standar baik-buruk yang dikehendaki sendiri. Manusia seperti ini tidak meyakini adanya hari kebangkitan ataupun hal-hal ghaib lainnya, hanya percaya segalanya materi belaka.

Tentu akan berbeda jika kita menjawab tiga pertanyaan di atas dengan jawaban yang kedua. Dengan jawaban kedua tersebut hidup kita akan menjadi hidup. Iya tentu, sebab dengan jawaban tersebut kita akan menjalankan hidup dengan gerakan yang terarah dengan standar baik-buruk berdasarkan aturan Sang Pencipta. Kita juga meyakini segala perbuatan kita akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Dear, sudahkah hidup kita terasa hidup? Atau justru kita hidup hanya mengikuti arus? Lekas temukan tujuan hidupmu dan jadikan hidup ini benar-benar hidup. Yakinlah jika kita berlandaskan pada jawaban yang kedua hidup kita menjadi jelas dan terarah. Hidup kita akan menjadi kacau dan tidak berjalan sebagaimana tujuan kita diciptakan jika dalam menjalani kehidupan ini tidak diatur dengan aturan-aturan Sang Pencipta.

Oleh sebab itulah, dalam hidup kita membutuhkan orang-orang yang mau menunjuki bagaimana melewati berbagai macam problematika hidup dengan aturan-aturan-Nya. Kita butuh orang-orang yang mau menyampaikan aturan-aturan-Nya.

Nah, dear. Buku “Genggaman Sahabat Taat” yang berisi tulisan-tulisan sederhana ini hadir sebagai wujud ikhtiyar menggenggam dirimu untuk kita sama-sama menjadikan hidup ini menjadi hidup.

Komentar