Makan Tuh Susah!

KESUSAHAN itu ada ketika kita berpikir susah. Kalau berpikir gak susah, ya kita akan merasa gak susah. Makanya, kalau mau terus bahagia, gak usah meratapi kesusahan. Begitu pun soal makan. Jika saat ini sanggupnya makan sama Karedok dan Ikan Asin nikmati aja. Gak usah mikir segala pengen makan sama Pesmol Ikan Paus atau Pitza. Kalau berpikir seperti itu terus, akhirnya Karedok gak nikmat dimakan, Pitza pun gak didapat. Yang ada makin pusing.

Demikian tanggapan kawan sekaligus Guru saya, Aang Emur saat saya protes karena menu makanan saya setiap hari tak kunjung berkualitas.

“Itu perasaan Kamu aja! Emang ukuran kualitas makanan gimana? Meski setiap hari Kamu makan Sate Ayam atau Panggang Dinosaurus sekalipun, tetap aja gak enak kalau Kamu dalam kondisi banyak utang dan belum bayar angsuran sama Lising. Nikmatin aja yang ad! Syukuri kalau bisa,” ujar Aang Emur menanggapi keluhan saya.

Si Aang Emur memang pandai berkata-kata. Ia sering kali menyelipi obrolannya dengan banyolan-banyolan berkualitas khas Cianjur ke-Ambon-ambonan. Campur aduk, tapi keren.

“Hmmm,” kata saya, lalu melanjutkan, “Sampai kapan kita seperti ini?”

“Aduhhhh,” jawab Aang Emur, lalu menuturkan, “Enggak paham juga Kamu mah. Terlalu banyak gaul sama si Asep Portal sih! Jadi kebawa susah. Intinya gak usah kita mengukur-ngukur makanan. Apalagi diukur sama meteran. Gak bakal kaduga (kuat). Coba berpikir jernih. Makanya kali-kali fokus meningkatkan kualitas diri, daripada protes dengan sajian yang diberikan Tuhan kepada kita. Dosa. Ampun Gusti (Tuhan).”

“Lah makin lieur (pusing) aja saya. Maksudnya gimana?”

“Hmmm, dasar Bayawak (Biyawak)!” Aang Emur mulai kesal tapi dengan sabar ia terus melanjutkan. “Kita gak usah ngukur-ngukur rezeki. Apa yang ada di depan kita sikat aja. Gak usah diratapi. Lagian, makan itu soal lidah! Mereka (orang kaya) kayak aja enak menikmati makanan, padahal mereka lebih menikmati gaya hidup. Jadi yang dinikmati mereka itu gaya hidup. Kita harus bersyukur, bila perlu syukurnya sanguan (kasih nasi) biar seubeuh (kenyang)!”

“Ouh gitu ya,” jawab saya.

Seuri atuh (ketawa dong). Ngabodor (lucu) itu teh,” desak Aang Emur.

Saya tertawa aja meski gak begitu lucu. “Hahahaha.”

Iya juga kata si Aang Emur. Ngapain capek-capek otak setiap hari dijejali sama menu makanan. Angguran mah fokus aja belajar sama berbuat baik.

“Bro kayak gitu mah(makan enak) gampang. Kalau Kamu fokus berkarya dan bekerja makanan apapun akan didapat. Yang jadi  pertanyaan, emang hidup ini melulu soal makan. Enggak kan? Kenikmatan itu muncul ketika kita pandai menyukuri nikmat. Tau gak Kamu, ada informasi Spaghetti itu mematikan?”

“Wah. Enggak.”

“Iya kalau makanya di tengah Rel Kereta.”

Gak begitu lucu sih. Karena kasihan, saya kasih “Ha” aja sekali supaya dia senang.

Komentar