“Ripuh”

“RIPUH” itu gak melulu berkaitan dengan muka. Sebab istilah “ripuh” bermakna luas. Makna pendek soal “ripuh” digunakan seorang Sunda ketika melihat muka kawannya sedang dalam kondisi gak terorganisir.

Contoh, “Eta beungeut meni ripuh kitu.” Kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia, “Itu muka Kamu kacau gituh.” Masih multitafsir. Artinya, apakah muka kacau kawannya itu karena memang ia sedang dilanda persoalan atau mungkin mukanya emang gituh dari sejak lahir. Entah. Yang jelas istilah seperti itu hanya candaan dan hanya bisa dilontarkan kepada kawan yang benar-benar sudah akrab.

Kamu harus tahu bahwa “ripuh” itu Bahasa Sunda. Bahasa Indonesia-nya yaitu berartikan, menderita kesusahan (karena kekurangan uang, sakit, dan sebagainya), sibuk karena banyak kerja dan repot, atau ribut (kacau balau tidak keruan).

“Ouh dalem banget ya?” kata saya menyimak pernyataan dari Aang Emur. Ya uraian di atas buah  pemikiran dari si Aang Emur. Murni. Sepintas, kalau diperhatikan gak begitu penting banget pembahasannya. Tapi, kalau Kamu mencoba mendalaminya, lumayan juga sih ada isinya.

“Jadi solusi agar gak sering “ripuh” gimana Ang?” tanya saya.

“Ya gampang Coy. Jadi orang sabar aja,” singkat Aang Emur.

“Sabar gimana?” tanya saya lagi.

“Pertama lupakan dulu soal beungeut(muka). Sekarang kita renungi dulu soal penyakit kronis yang menyebabkan kita selalu merasa “ripuh”. Ya “ripuh” itu penyakit rasa atau hati. Menurut saya, salah satu hal yang membuat Kamu selalu “ripuh” itu karena Kamu kurang sabar. Ditambah kurang beryukur pula. Maka wajar jika muka Kamu sering kusam,” papar dia.

“Sabar gimana sih? Lieur (pusing) saya.”

“Hmmm hese (susah) ngobrol sama orang susah mah. Jadi gini Coy, kalau Kamu bertuhan maka harus menjadi penyabar. Sabar itu salah satu syarat jadi orang beriman. Ketika Kamu beriman, gak ada tuh yang namanya “ripuh”. Hiduplah mengalir dan selalu santai meski persoalan sering kali berdatangan,” tutur Aang Emur.

“Ouh gitu ya? Terus?”

“Tuhan itu bersama orang sabar. Sabar itu salah satu syarat untuk dekat dengan Tuhan. Kemudian saya mau nanya sama Kamu. Sesuatu hal yang membutuhkan kesabaran itu yang menyusuhkan atau yang menyenangkan?”

“Tentu yang menyusahkan Ang,” jawab saya.

“Nah itu Kamu paham.”

“Maksudnya?” saya kembali bertanya.

“Jadi Kamu gak usah menyesali adanya Matahari yang membuatmu kepanasan. Panasnya matahari sangat berefek pada keimanan Kamu. Ketika panas matahari dianggap suatu musibah, kalau Kamu beriman pasti ingat Tuhan dan meminta kepada Tuhan agar diberi kekautan nahan panas. Sebaliknya, jika Kamu kesal, yang ada muka Kamu akan geheng (hitam) kepanasan.”

Masih kata Aang Emur, “Khusnudzonlah pada sesuatu yang dianggap musibah. Tanpa sesuatu yang kurang menyenangkan kita gak akan berpikir dan mencoba mendekati Tuhan. Ketika kita selalu sabar maka Tuhan akan memberikan kenikmatan kepada kita. Pada gilirannya kita gak akan mengenal apa itu kesenangan dan musibah. Bagi orang beriman, satu-satunya cara mendekati Tuhan yaitu dengan cara menerima apa yang diberikan Tuhan.

“Sekarang saya sudah paham. Kemudian, saya mau tanya sabar kan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, lalu cara mendekatkan diri kepada si Santi Teller Bank BNI itu gimana Ang?”

Seuseuh tah beungeut!” Bahasa Indonesianya, “Cuci tuh muka!

Komentar